BERIMAN BUKAN HANYA DARI SEBUAH TANDA
[KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN]
Senin, 18 Februari 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa VI
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13
BERIMAN BUKAN HANYA DARI SEBUAH TANDA
Hari-hari, akibat masa menjelang pergantian musim, kadang-kadang yang membuat ‘mangkel’ adalah cuaca yang tidak menentu: kelihatannya mendung gelap dan angin mulai dingin, tapi hujan tidak turun-turun, atau panas terik yang tiba-tiba menurunkan hujan. Ya, kenampakan-kenampakan alam menjadi tidak pasti. Sesuatu yang biasanya menjadi tanda akan terjadinya sesuatu, tidak lagi bisa menjadi pegangan dan patokan. Memang sih, hidup kita juga dipenuhi dengan tanda-tanda yang menunjukkan makna atas situasi tertentu: tanda orang yang baru sakit, tanda orang yang baru bangun tidur, tanda orang yang terburu-buru pergi dan sekian tanda lainnya. Sebuah tanda, bisa sangat jelas dan pasti, namun ada juga tanda-tanda yang tidak mudah ditangkap, dan kadang butuh waktu untuk mengungkapnya.
Apa yang terjadi dalam Injil hari ini, juga berkaitan dengan tanda, ketika Yesus menolak memberi tanda bagi orang-orang Farisi. Mengapa demikian? Orang-orang Farisi tidak pernah tulus untuk mengenal Yesus, sehingga diberi ribuan tanda sekalipun, mereka takkan mudah menerima Yesus sebagai tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Dengan menolak memberi tanda, Yesus mengajak mereka untuk lebih dewasa dalam beriman. Hidup kita, kadang juga demikian, bahwa suka meminta dan menagih tanda dari Allah berupa karya besar nan ajaib. Padahal, kehidupan kita ini adalah tanda kehadiran yang paling nyata. Dan tidak jarang, Allah hadir dalam tindakan-tindakan yang sederhana bahkan tak kasat mata. Berbahagialah yang tak melihat namun percaya, bukan sekedar karena sebuah tanda.
Selamat pagi, selamat menemukan tanda-tanda kehadiran Allah dalam peristiwa-peristiwa kehidupan.