Belajar menjadi anak bungsu

Belajar menjadi anak bungsu

Belajar menjadi anak bungsu

Sabtu pekan II Prapaskah, 23 Maret 2019

Bacaan: Mi 7:14-15.18-20; Luk 15:1-3.11-32

Salah satu sifat manusia yang sering terlihat ketika berhadapan dengan apa yang tidak disukai adalah bersungut-sungut. Bersungut-sungut adalah tanda orang yang tidak mau bersyukur; tanda orang yang merasa benar sendiri dan dengan mudah menghakimi orang lain.

Dalam bacaan injil hari ini kita mendengar bahwa orang Farisi dan ahli-ahli taurat bersungut-sungut karena Yesus makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa.

Orang Farisi dan ahli taurat merasa dirinya lebih baik dan lebih suci daripada pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka dengan sangat mudah menghakimi orang lain dari kacamata mereka sendiri. Kesombongan rohani dan kedudukannya membuat mereka tidak lagi melihat kebaikan orang lain atau kelompok lain. Mereka mengukur kesucian orang lain dari perspektif mereka sendiri. Kalau orang lain tidak masuk kategori mereka maka mereka dengan mudah memberi cap orang berdosa.

Apa yang dilakukan oleh orang farisi dan ahli-ahli taurat kelihatan sangat similar dengan perilaku kebanyakan orang di masyarakat kita. Begitu mudah orang menghakimi orang lain dengan pandangan yang sempit. Kebenaran subjektif yang dimiliki menjadi tolok ukur untuk menghakimi orang lain. Sangat disayangkan bahwa orang jatuh pada pemikirannya yang dangkal tetapi merasa paling benar sendiri. Roh anak sulung dalam cerita injil sungguh mewarnai manusia egois tersebut diatas. Anak sulung tidak masuk kedalam rumah ketika mengetahui bahwa bapanya sedang menggelar pesta bagi adiknya yang telah memboroskan harta milik yang telah menjadi bagiannya. Sikap arogansi si sulung membuat dia tertutup dan lupa bahwa apa yang dimiliki oleh ayahnya adalah miliknya juga.

Pertanyaannya, apa sesungguhnya membuat kita tidak bersungut-sungut seperti orang farisi dan ahli taurat? Jawabanya adalah belajar rendah hati seperti anak bungsu dalam bacaan hari ini, menyadari dan mau terbuka pada kekurangan yang dimilikinya. Menyadari bahwa kita tidak lebih baik dari yang lain. Setelah menyadari, perlu ada action nyata yaitu berani untuk kembali ke rumah Bapa, rumah dimana setiap pribadi merasa diterima dan diakui tanpa ada perbedaan terhadap satu dengan yang lain. Rumah dimana kita belajar untuk rendah hati dan berusaha untuk bertobat.

Masa prapaskah adalah masa dimana kita belajar untuk mewujud-nyatakan kesadaran kita menjadi kenyataan. Pertobatan tidak berhenti pada rencana tetapi ada aksi nyata. Anak bungsu menjadi contoh yang tepat bagi kita manakala kita masih mempunyai karakter anak sulung yang terus bersungut-sungut dan tidak bersyukur.

Comments are closed.
Translate ยป