LAZARUS BANGKIT

LAZARUS BANGKIT

Senin, 8 April, 2019

Bacaan I Raja-Raja (4:18b-21.32-37)

Injil Yohanes (11:1- 45)

LAZARUS BANGKIT

Bacaan pertama pada hari ini mengisahkan tentang Nabi Elisha yang membangkitkan seorang anak dari seorang janda di Sunem. Sementara dalam Injil hari ini kita mendengar kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus. Lazarus – berasal dari Bahasa Ibrani yang artinya Allah menolong, – adalah saudara Maria dan Marta yang tinggal di Betania, Yudea. Tidak disebutkan Lazarus ini sakit apa, namun akhirnya dia meninggal. Yesus “terlambat” datang. Keterlambatan Yesus ini menimbulkan teka-teki, mengingat keakraban Yesus dengan Lazarus. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya, “Mari kita kembali lagi ke Yudea” mengakhiri keterlambatan itu dan menjelaskan bahwa keputusan Yesus untuk pergi ke Betania adalah keputusan-Nya sendiri, bukan ditentukan oleh atau tergantung pada desakan orang. Tentang kematian Lazarus, Yesus berkata, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya”. Tidur adalah kiasan yang biasa untuk mati. Kiasan ini sangat jelas, Lazarus sudah mati dan waktu ia mati, Yesus tidak ada di sampingnya. “Tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu,” kata Yesus. Kematian Lazarus “diizinkan” terjadi demi kebaikan mereka supaya kamu dapat belajar percaya. Implikasinya ialah, seandainya Yesus ada di situ Ia mungkin dapat menghalangi kematian Lazarus, hal yang disinggung oleh Marta dan Maria.

Catatan bahwa iman hendaknya muncul dari pengalaman menyaksikan kebangkitan Lazarus adalah konsisten dengan beberapa pandangan tentang tanda yang terdapat dalam Injil Yohanes. Kenyataan bahwa Lazarus telah empat hari di dalam kubur mau meyakinkan bahwa ia sungguh-sungguh telah mati. Proses pembusukan telah mulai. Inilah salah satu cara penginjil Yohanes memberi kesan hebat dalam mukjizat-mukjizat Yesus, bahwa sungguh telah ada pembangkitan orang mati. Lazarus sungguh telah bangkit.

Lewat kisah ini Penginjil Yohanes menggunakan kebangkitan Lazarus dari kematian ke kehidupan fisik untuk melukiskan tentang anugerah kehidupan. Kehidupan setiap orang adalah anugerah Tuhan, demikian juga dengan kehidupan abadi yang tak lagi mengenal kematian, adalah anugerah terindah dan teragung yang dianugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus. Kiranya kitapun mampu untuk mensyukuri anugerah kehidupan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Amin.

Comments are closed.
Translate »