Nyaman
Sabtu, 18 Mei 2019
Kisah Para Rasul 13:44-52
Mazmur 98
Yohanes 14:7-14
Semua orang pasti mau hidup nyaman. Nyaman berarti stabil, tidak diganggu siapa-siapa, tidak perlu repot, tidak perlu merasa gelisah. Tetapi hidup yang nyaman juga bisa menjadi halangan untuk bertumbuh, untuk menjadi manusia yang lebih baik dan membuat dunia di luar kita menjadi lebih baik.
Orang Yahudi yang dihadapi Paulus dan Barnabas dalam bacaan pertama hari ini hidup lumayan nyaman dalam agama mereka. Hukum Taurat sangat jelas mengatur segala aspek hidup. Orang Farisi dan ahli Kitab menerjemahkan Taurat dalam kehidupan sehari-hari. Para imam besar mengatur tata-cara penyembahan di bait Allah. Hidup keagamaan bangsa Yahudi bisa dikatakan sudah teratur, jelas, dan nyaman.
Karena itu ketika Yesus, dan kemudian Paulus, Barnabas dan para pengikutnya mengajak orang untuk memperluas pandangan mereka akan Allah dan sabdaNya, mereka bereaksi dengan menolak. Justru orang bukan Yahudi yang lebih terbuka menerima kabar baik yang diberitakan Paulus dan Barnabas. Bahkan para rasul pun tidak dapat langsung mengerti ajaran Yesus. Filipus masih meminta Yesus untuk menunjukkan Bapa walaupun dia sudah mengikuti Yesus untuk waktu yang cukup lama.
Terkadang kita pun, umat Katolik yang sudah dibaptis sejak lahir, gampang terbuai dengan kenyamanan hidup beragama kita. Pergi ke gereja tiap Minggu, rosario atau doa lingkungan kadang-kadang, dan menjalankan tradisi kebiasaan kita apapun bentuknya. Tapi apakah kita peka terhadap hal-hal yang tidak biasa? Apakah kita peduli dengan masalah-masalah baru yang dihadapi masyarakat di sekitar kita? Paus Fransiskus sudah berulangkali mengingatkan bahaya besar bagi umat Katolik: ketidak acuhan.
Kritik Yesus kepada Filipus yang tidak mengenal Bapa melalui Yesus hari ini mengingatkan kita pada peringatan Yesus dalam Matius 25: “Apa yang kau lakukan kepada salah seorang yang paling hina, kau melakukannya kepadaKu.” Semoga kita lebih peka terhadap Roh Kudus yang “mengganggu” kenyamanan kita dan membangunkan kita untuk melihat kehadiran Tuhan di sekitar kita dan melakukan sesuatu untuk melayaniNya lebih lagi.