Be Heroic!

Be Heroic!


Sabtu pada Pekan Paskah kelima

25 Mei 2019

Yohanes 15:18-21

Ketika Santo Ignatius Loyola memulihkan cedera lututnya yang ia dapatkan di pertempuran Pamplona, ​​ia luang waktu untuk membaca kehidupan Yesus, serta orang-orang kudus yang berani, seperti Santo Fransiskus dan Dominikus. Saat ia merenungkan perbuatan dan kata-kata mereka, ia menemukan tahap awal spiritualitasnya. Dari saat itu, kasih karunia Allah mulai merevolusi hidupnya, dan dia secara radikal bergeser dari usahanya untuk mengapai kemuliaannya sendiri, menjadi bagi kemuliaan Allah. Tak lama kemudian, bersama-sama dengan teman-temannya pertama, ia membentuk Serikat Yesus, dikenal sebagai Yesuit.

Kisah St. Ignatius dan banyak orang kudus menjadi inspirasi bagi kita semua. Para pria dan wanita kudus ini menanggapi ajakan Yesus untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti-Nya di jalan yang radikal. Banyak yang menjadi martir karena kasih mereka untuk Yesus. Yang lainnya benar-benar meninggalkan semua yang mereka miliki, dan berkomitmen untuk melayani sesama.

Namun, mengapa mereka cukup gila untuk mengindahkan panggilan yang sulit ini? Ini kembali pada paradox pencarian kita untuk kebahagiaan sejati. Untuk mencapai kebahagiaan ini, kita perlu untuk meninggalkan pencarian untuk kemuliaan kita sendiri, dan membuat perubahan hati yang mendalam kepada Allah dan untuk kemuliaan-Nya. Tentunya, hal ini tidak mudah. Dunia memberikan kenyamanan yang akan memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan segera: kenikmatan jasmaniah, kepuasan emosional dan kebanggaan diri. Tapi, kebahagiaan sejati tidak tinggal di sini, dan kita dipanggil untuk melampaui hal-hal ini, memilih Yesus dan mengikuti-Nya. Dalam kata-kata Joseph Ratzinger, yang kemudian menjadi Paus Benediktus XVI, dunia memberikan kita banyak kenyamanan, tapi kita tidak diciptakan untuk kenyamanan ini, kita diciptakan untuk sebuah kemuliaan. Kita gagal untuk hidup saat kita hanya memilih hal-hal duniawi ini.

Paradoks terus berlanjut, bahwa kita perlu – dalam kata-kata Meister Eckhart, seorang mistik Dominikan dari Jerman – membiarkan Allah menjadi Allah di dalam kita, dan kita menemukan bahwa kita menjadi benar-benar hidup. Saat kita memilih opsi heroik di dalam hidup, kita pasti bertemu jalan berbatu, dan bahkan menemukan diri kita hilang, gagal dan frustrasi, dan bahkan dibenci dunia. Namun, kita tidak boleh mudah menyerah, karena saat-saat kegelapan ini adalah bagian dari perjalanan pulang kita. Father Timothy Radcliffe, OP berpendapat bahwa kadang-kadang, kita harus tersesat dan hilang, agar kita dapat ditemukan lagi, penuh kesegaran dan hidup. Saat kita berjalan di jalan salib, kita secara bertahap menemukan makna hidup yang baru, menemukan kemungkinan segar untuk mencintai, dan membuka kepenuhan hidup. Ketika kita sepenuhnya menjalani hidup kita, kita benar-benar mampu untuk memuliakan Tuhan. Sebagai St. Irenaeus dari Lyon menulis, “Kemuliaan Allah adalah manusia yang benar-benar hidup!”

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »