Mungkinkah memilih dua “TUAN”?

Mungkinkah memilih dua “TUAN”?

Matius 6: 24-34

Sabtu, 22 Juni 2019

Hari Biasa Pekan XI

Oleh Rm. Djoko S. Prakosa Pr, Rektor Seminari Tinggi

1. Mungkinkah memilih dua “TUAN”? Apakah Anda pernah merasa cemas atau khawatir? Cemas dan khawatir membuat hati dan pikiran terbagi dan tidak fokus. Seseorang yang cemas dan khawatir merasa diri terobang-ambing, terlempar kesana kemari. Adakalanya perasaan cemas dan khawatir tidak bisa dipisahkan dengan rasa takut, bingung dan merasa tidak aman. Kekhawatiran melumpuhkan keyakinan dan memecah kepercayaan. Itulah yang terjadi dengan seseorang yang mengabdi pada dua tuan yang berseberangan. Demikianlah juga halnya yang terjadi dengan seseorang yang ingin hidup di dua Kerajaan yang berseberangan, yaitu Kerajaan Allah dan Kerajaan Mamon:“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Kita diajak untuk merenung: Siapa “TUAN” yang saat ini sedang menguasai dan memimpin hidup kita? “TUAN” kita adalah apa pun yang memimpin dan memengaruhi kehidupan pikiran kita, membentuk cita-cita kita, dan mengendalikan hasrat hati kita dan nilai-nilai hidup kita. Kita dapat dipimpin dan diperintah oleh banyak hal yang berbeda . Di satu sisi kita dipimpin oleh kekuatan iman, harapan dan kasih. Di sisi lain kita dapat dipimpin oleh kekuatan “mamon”, yaitu “kekayaan materi” atau “harta benda” atau apa pun yang cenderung mengendalikan selera dan keinginan kita. Mamon adalah kekuatan cinta uang dan harta, kekuatan posisi dan prestise, kemewahan kekayaan dan ketenaran, dan kekuatan pendorong nafsu yang tidak tertib. Suatu kekuatan yang membuat kita ketagihan. Pertanyaan untuk kita: Kekuatan macam apa yang kita pilih untuk kita abdi?

2. Hanya satu “TUAN” Pembebas kekhawatiran. Hanya ada satu “TUAN” yang memiliki kekuatan untuk membebaskan kita dari perbudakan terhadap dosa, ketakutan, kesombongan, dan keserakahan, dan sejumlah keinginan menyakitkan lainnya. Tuan itu adalah Tuhan Yesus Kristus yang menyelamatkan kita dari semua yang akan membuat kita terikat dalam ketakutan dan kecemasan. Hari ini Tuhan Yesus mendesak kita untuk percaya pada pemeliharaan penuh kasih Bapa surgawi kita. Gambaran Allah yang memberi makan burung-burung di udara dan memberi pakaian kepada bunga lili di ladang adalah gambaran Pribadi Allah yang peduli pada manusia. Kepedulian itu memuncak melalui kehadiran Yesus Kristus, Putranya yang Tunggal, yang rela

untuk mati di kayu Salib. Kekuatan Kristus dan kekuatan salib telah menembus penyebab kekhawatiran dan kecemasan kita.

Kekhawatiran adalah sikap yang merampas iman dan keyakinan kita akan bantuan Tuhan. Kekhawatiran menjauhkan kita dari belas kasih dan kebaikan Tuhan.Kekhawatiran hanya akan menguras energi kita untuk berbuat baik. Untuk itu, Yesus mendesak dan menasihati para pengikutnya untuk menyingkirkan kecemasan dan keasyikan dengan hal-hal materi dan sebagai gantinya mencari hal-hal pertama dari Allah – kerajaan dan kebenarannya. Tuhan tahu kebutuhan kita bahkan sebelum kita bertanya dan Dia memberi dengan murah hati kepada mereka yang percaya pada-Nya: “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Melalui pengajaran ini, Yesus mendesak kita untuk membuat pilihan yang jelas antara Dia dan roh dunia-mamon, termasuk “logika korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan keserakahan. Akhirnya, ada baiknya kita merenungkan kata-kata Paus Fransiskus: “Perjalanan hidup harus melibatkan pilihan antara dua jalan: antara kejujuran dan ketidakjujuran, antara kesetiaan dan ketidaksetiaan, antara keegoisan dan kesejahteraan bersama, antara yang baik dan yang jahat. Anda tidak dapat terombang-ambing antara satu dan yang lain, karena mereka bergerak pada logika yang berbeda dan saling bertentangan.

Comments are closed.
Translate »