Sabtu, 13 Juli 2019

Sabtu, 13 Juli 2019

Rm Djoko S Prakosa Pr
Rektor seminari Kentungan

Matius 10: 24-33

Hati Biasa Pekan XIV

1. Janganlah takut terhadap mereka yang memusuhimu. Injil hari ini memberikan pembelajaran bahwa seorang Murid harus meneladan gurunya (Matius 10: 24-25) dan tidak takut akan dunia (Matius 10: 26-31). Dalam perikop singkat ini, Tuhan Yesus sebanyak tiga kali menegaskan agar para murid tidak takut: “Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka yang memusuhimu, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.” Pra murid tidak boleh takut pada dunia karena Tuhan pada suatu hari akan membenarkan mereka. Penganiayaan, tuduhan jahat, dan bahkan julukan “setan” pasti akan membuat para murid menjadi susah. Di tengah situasi ini Ia berkata: “jangan takut”. Pada akhirnya Tuhan berjanji akan membuat segalanya menjadi benar. Semua kebenaran dan kebaikan dan semua kepalsuan dan kejahatan akan terlihat apa adanya. Tidak ada yang tertutup yang tidak akan diungkapkan,. Tidak ada yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Kejahatan dunia akan ditunjukkan seperti apa adanya, dan kebenaran orang-orang percaya akan ditunjukkan seperti apa adanya. Tuhan telah mengikat diri-Nya untuk membenarkan anak-anak-Nya.

Kadang kita merasa takut pada apa yang orang pikirkan, katakan, atau lakukan. Ketika ketakutan itu mencekik dan menguasai hidup kita, kita takut melayani dan memberi kesaksian. Salah satu sifat manusia adalah ingin menghindari masalah dan konflik, terutama jika orang-orang di sekitar kita dapat menimbulkan ejekan dan kesulitan. Kemungkinan besar hal-hal itu menjadi alasan utama kita untuk tidak melakukan evangelisasi. Kita menjadi lumpuh karena takut akan apa yang mungkin terjadi. Mana yang lebih menguasai hidup kita sekarang ini: janji Tuhan atau ketakutan manusiawi kita?

2. Janganlah takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh. Ia pun menambahkan: “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Para murid seharusnya tidak takut pada mereka yang membunuh tubuh, yang menyiksa, yang menyebabkan penderitaan, dan kematian. Mereka yang menyiksa dapat membunuh tubuh, tetapi mereka tidak bisa membunuh kebebasan dan semangat dalam tubuh. Ketakutan akan penderitaan pada umumnya dapat membuat mereka menyembunyikan atau menyangkal kebenaran. Penyangkalan hanya akan menjauhkan para murid dari Tuhan, bahkan menyinggung Tuhan. Siapa pun yang menjauh dari Tuhan akan hilang untuk selamanya.

Pada tahun 398 M, Yohanes Krisostomus diangkat sebagai patriark Konstantinopel. Ia banyak mengkritik dan membuat marah Permaisuri Eudoxia, isteri Kaisar Archadius. Hal ini membuatnya diasingkan sampai beberapa kali. Bagaimana sikap iman Krisostomus terhadap penganiayaan semacam itu? Ia berkata: “Apa yang saya takuti? Kematian? Anda perlu tahu bahwa Kristus adalah hidup saya, dan bahwa saya akan memperoleh kematian. Apa yang saya takuti? Pengasingan? Anda perlu tahu bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan. Saya tidak takut kemiskinan. Saya tidak menginginkan kekayaan. Kematian tidak akan menyurutkan iman saya.” Bagaimana sikap iman kita tatkala kita berhadapan dengan kesulitan dan ketidak-mudahan hidup?

3. Janganlah takut karena hidup kita berharga di mata Allah. Dan pada bagian selanjutnya Ia berkata: “Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”

Yesus memberikan nasihat ketiga kepada para murid untuk tidak takut. Alasan lain mengapa para murid tidak perlu takut adalah karena para murid lebih berharga dari banyak burung pipit. Ini adalah suatu ungkapan peribahasa yang menunjukkan betapa Allah sangat memerhatikan dan memedulikan umat-Nya, bahkan hal-hal yang kecil dan yang paling sedikit diperhatikan sekalipun. Bahkan Allah lebih memperhatikan mereka daripada mereka memperhatikan diri mereka sendiri. Orang biasanya cemas menghitung uang, dan barang mereka namun tidak pernah mau dengan teliti menghitung rambutnya, yang gugur dan hilang, dan mereka tidak pernah merasa kehilangan rambut mereka itu. Tetapi Allah menghitung rambut umat-Nya. Dan segala sesuatu terjadi karena izin-Nya: “Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu.”

Tidak ada yang bisa terjadi di dunia ini tanpa seizin-Nya. Tidak ada yang namanya kebetulan, atau keberuntungan. “Rambut kepala kita semua terhitung.” Benar bahwa kesaksian dan pelayanan kita dapat membawa kita ke bahaya besar. Kehidupan kita nampaknya akan terancam, jika kita melakukan pekerjaan Allah. Kita diajak untuk merasa aman di tangan Tuhan. Tubuh kita, jiwa kita, karakter kita semuanya berada dalam pemeliharaan-Nya. Tidak ada penyakit yang dapat menyergap kita, tidak ada tangan yang dapat melukai kita, kecuali Allah mengizinkan. Mengapa kita takut?

“Jika Tuhan menyebabkan Anda sangat menderita,

itu adalah tanda bahwa Dia memiliki rancangan yang hebat untuk Anda, dan bahwa Ia tentu saja ingin menjadikan Anda orang suci.

Dan jika Anda ingin menjadi orang suci yang hebat,

mohonlah kepada-Nya sendiri untuk memberi Anda banyak kesempatan untuk menderita;

karena tidak ada kayu yang lebih baik

untuk menyalakan api kasih suci daripada kayu salib,

yang digunakan Kristus untuk pengorbanan besar-Nya akan kasih amal yang tak terbatas. ”

– St. Ignatius dari Loyola –

Comments are closed.
Translate »