Kamis, 8 Agustus 2019
Injil Matius 16: 13-23
Dalam injil hari ini, kembali kita bertemu dengan figur Petrus, seorang murid yang sangat dekat dengan Kristus, dipercaya Kristus untuk menjadi pemimpin para murid-Nya, seorang yang begitu gigih membela Yesus namun juga kadang-kadang tidak konsisten dalam bersikap. Menarik bahwa Tuhan Yesus tetap mempercayai Petrus tugas mulia untuk memimpin para murid-Nya sekalipun Yesus tahu bahwa Petrus kadang inkonsisten dan juga sedikit pengecut. Saya pribadi percaya bahwa Tuhan memilih orang-orang khusus sekalipun mereka punya juga sisi-sisi gelap pribadinya sebab Tuhan tidak memanggil orang-orang yang mampu tetapi Tuhan memampukan orang-orang yang Dia panggil.
Menarik bahwa dalam kisah injil hari ini, Petrus yang baru saja mengakui Kristus sebagai anak Allah dan Mesias menjadi Petrus yang melarang Yesus untuk memenuhi kehendak Bapa. Yesus yang berbicara secara langsung dan terus terang tentang kematian-Nya tidak Petrus sukai. Kita ingat bahwa Yesus pernah berkata: “Rombak Bait Allah ini”; Ia juga berbicara tentang Anak Manusia harus ditinggikan, dan tentang makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Sebelumnya Yesus tidak pernah menyinggung perkara ini. Sikap Petrus yang menarik Yesus untuk tidak berbicara terlampau terang tentang kematian-Nya adalah juga representasi sikap murid-murid-Nya belum mampu menerima kabar mengenai tragedi yang akan ia alami, sebuah peristiwa yang mungkin janggal sekaligus memilukan.
Yesus juga secara mendetail menjelaskan kepada murid-murid-Nya tempat di mana Dia menderita. Ia harus pergi ke Yerusalem, ibukota, kota suci itu, dan menanggung banyak penderitaan di sana. Walaupun sebagian besar waktu hidup-Nya dikuatkan di Galilea, Ia harus mati di Yerusalem. Di sanalah semua pengorbanan dipersembahkan, karena itu, di sanalah Ia, yang adalah sang korban yang agung, harus mati. Yesus juga berbicara mengenai para aktor yang akan mengeksekusi kematian-Nya: tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat. Mereka semuanya tergabung di dalam Mahkamah Agama (Sanhedrin) yang berkedudukan di Yerusalem. Orang-orang terhormat namun berhati keji dan penuh dengan tipu muslihat. Orang-orang yang seharusnya menjadi yang terdepan dalam mengakui dan menghormati Kristus justru menjadi yang paling kejam menganiaya Dia. Memang sangat aneh, bahwa orang-orang yang mengenal isi Kitab Suci, yang mengaku menantikan kedatangan Mesias, dan selalu berpura-pura memiliki kesalehan, justru memperlakukan Mesias dengan sedemikian biadab ketika Dia benar-benar datang. Yesus juga menjelaskan bahwa Da harus menanggung banyak penderitaan, lalu dibunuh. Kedengkian musuh-musuh-Nya yang tidak pernah terpuaskan serta kesabaran-Nya yang tak terkalahkan, terungkap dalam berbagai jenis dan banyaknya penderitaan yang harus Ia tanggung. Dalam puncak kekejaman mereka, tidak ada yang lebih memuaskan mereka selain kematian-Nya, dan oleh karena itu, Ia harus dibunuh.
Petrus keberatan dengan pemberitaan itu. Dia tak rela Gurunya menyatakan sebuah tragedi yang begitu menyayat hati. Karena itu ia berkata ia berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!” Mungkin ia juga menyampaikan perasaan murid-murid yang lain, sebagaimana sebelumnya, karena ia adalah juru bicara mereka. Ia menarik Yesus ke samping, dan menegor Dia. Sikap Petrus ini adalah representasi sikap iman pengikut Kristus yang larut dalam hikmat duniawi sehingga merasa bahwa perjuangan, badai kehidupan dan salib bukanlah bagian dari iman. Petrus tampak begitu menentang penderitaan dan terkejut atas kehinaan salib. Inilah bagian yang rusak dari diri kita, yang selalu menginginkan keadaan yang aman tenteram saja. Kita cenderung mengait-ngaitkan penderitaan dengan kehidupan saat ini saja, kita selalu merasa penderitaan itu hanya mendatangkan ketidaknyamanan untuk kehidupan saat ini. Namun ada cara lain untuk menanggapi penderitaan itu, yang bila dilakukan dengan sepenuh hati akan memampukan kita menanggung penderitaan itu dengan sukacita (Rm. 8:18). Lihatlah bagaimana Petrus dengan semangat berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Allah kiranya mencegahnya, supaya Engkau tidak menderita dan dibunuh. Kami tidak dapat menerima pikiran-pikiran seperti itu. Petrus mewakili murid-murid-Nya mencoba meluapkan kerinduan hati: Guru, selamatkan diri-Mu: “Sayangilah diri-Mu sendiri, agar siapa pun tidak berlaku kejam terhadap Engkau; kasihanilah Diri-Mu, dan hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.”
Dalam kehidupan kita, Tuhan mau supaya kita konsisten memperjuangkan kebaikan dan kekudusan-Nya. Yesus tidak sungkan-sungkan menegur dan bahkan menghardik Petrus atas kekeliruan dan kelancangannya. Sikap ini dapat menjadi contoh bagi kita agar kita juga tidak sungkan-sungkan untuk secara bebas dan setia untuk menegur sahabat-sahabat sekarib apapun, lebih-lebih kalau mereka mengatakan atau melakukan kekeliruan, sekalipun diselubungi dengan alasan kebaikan. Ada banyak hal di dunia ini yang membuat kita hanyut dalam sikap maunya enak dan maunya asyik. Namun Yesus mengingatkan kita bahwa apa pun yang tampak sebagai pencobaan untuk berbuat dosa sekalipun tampaknya berselubungkan sesuatu yang enak dan asyik haruslah ditolak dengan penuh konsisten dan bukannya ditoleransi dan diberi ruang.