Senin, 12 Agustus 2019
Matius 17: 22-27
Hari Biasa Pekan XIX
oleh
Rm Joko Setyo Pr
Rektor seminari Kentungan Yogya
- Pengumuman kedua tentang kematian dan kebangkitan Yesus. Pengumuman pertama (Mat 16:21) membuat Petrus beraksi dan bereaksi negatif terhadap Yesus karena ia tidak tahu dan tidak mau Gurunya mengalami penderitaan atau salib. Yesus mereaskinya dengan tegas: dengan sama kuatnya, “Enyahlah, iblis!” (Mat 16:23). Di sini, dalam pemberitaan yang kedua, reaksi para murid tidak lagi agresif dan reaktif. Pernyataan Yesus membuat mereka sedih: “Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali.” Nampaknya mereka mulai memahami bahwa salib adalah bagian dari perjalanan hidup Yesus yang tak terelakkan. Dekatnya penderitaan dan kematian Yesus sangat membebani hati mereka, sehingga mereka sedih sekali.
Penderitaan dan Salib Yesus membuat para murid menjadi putus asa dan sedih. Pernahkah pengalaman ini terjadi dalam hidup kita? - Haruskah membayar pajak? Pertanyaan yang diajukan oleh pemungut pajak kepada Petrus tentang pajak. Ketika mereka sampai di Kapernaum, pemungut pajak Bait Suci bertanya kepada Petrus: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?” Petrus menjawab: “Ya, Ia membayar.” Sejak zaman Nehemia ( Abad 5SM), orang-orang Yahudi yang telah kembali dari pengasingan Babilonia berkomitmen dengan sungguh-sungguh di Majelis untuk membayar berbagai pajak dan iuran agar Bait Allah mereka dapat terus berfungsi dan menjaga pemeliharaan baik pelayanan keimaman maupun pembangunan para imam di Bait Allah (Neh 10: 33-40). Jawaban Petrus memberi gambaran bahwa Yesus membayar pajak seperti orang Yahudi lainnya.
Selanjutnya, percakapan antara Yesus dan Petrus terasa agak aneh. Ketika mereka sampai di rumah, Yesus bertanya: “Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?” Jawab Petrus: “Dari orang asing!” Maka kata Yesus kepadanya: “Jadi bebaslah rakyatnya.” Mungkin, di sini kita dapat melihat diskusi di antara orang-orang Yahudi Kristen sebelum penghancuran Bait Suci pada tahun 70M itu. Mereka bertanya pada diri sendiri apakah mereka harus terus membayar pajak Bait Suci, seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Dengan tanggapan Yesus itu mereka menemukan jawabnya bahwa mereka seharusnya tidak membayar pajak ini: “Jadi bebaslah rakyatnya!” Mengapa bebas? Karena orang-orang Romawi memungut pajak dari rakyat mereka yang terjajah. Mereka tidak memungut pajak dari warganegara mereka sendiri. Mereka tidak menarik pajak dari anak-anak dan keluarga mereka sendiri. Dan memang, tidaklah masuk akal bila orangtua menarik pajak dari anak-anak mereka sendiri.
Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa para murid-Nya yang adalah anak-anak Allah itu harus dibebaskan dari membayar pajak Bait Suci. Bagaimanapun, Bait Allah adalah rumah Allah dan Yesus adalah Putranya dan murid-murid-Nya adalah saudara-saudaranya, putra-putra dari Bapa yang sama. Karena itu mereka harus dibebaskan. Masakan Allah menarik pajak pada anak-anak-Nya. Tetapi meski pun mereka tidak seharusnya membayar pajak, Yesus mengusulkan untuk tetap membayar agar tidak menyebabkan skandal: “Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.”
Mari kita ingat bagian ini sebagai warga negara dan pribadi. Di antara kita mungkin ada yang tidak menyukai semua langkah politik penguasa kita; kita mungkin tidak menyetujui beberapa pajak yang dikenakannya. Apakah ada kebenaran dasar dari Injil yang dipertaruhkan? Jika tidak, mari kita membangun kedamaian bersama: “jangan sampai kita menjadi batu sandungan.” Seorang pengikut Kristus diajak untuk tidak mengganggu kedamaian publik terkait dengan hal-hal yang sifatnya hanya penting untuk sementara waktu.