Jumat, 10 Januari 2020

Jumat, 10 Januari 2020

Lukas 5: 12-16

Dari Rm Djoko Prakosa Pr Rektor Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta

1. Orang kusta itu mendatangi Yesus dan memohon. Orang-orang yang mengidap penyakit kusta disebut najis, dan diharuskan memakai pakaian yang khusus, yakni pakaian yang tercabik-cabik. Mereka juga harus menutupi mukanya dan menyerukan dirinya najis. Orang-orang yang berpenyakit kusta harus diasingkan. Rupanya orang kusta dalam Injil ini melanggar banyak aturan. Pertama, dia mendekati Yesus. Pada waktu itu orang kusta terpaksa hidup terpisah dari komunitas karena mereka dianggap najis, baik secara fisik maupun moral. Kedua, penderita kusta tidak mengumumkan dirinya sebagai orang “najis.” Padahal menurut hukum “ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis!” (lih. Imamat 13: 45). Ketiga, penderita kusta bersujud dan menyembah” Yesus: “Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Tersungkur atau menyembah merupakan tindakan yang hanya diberlakukan saat berhadapan dengan Allah. Ia mempunyai keberanian untuk mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Mengapa ia berani mengesampingkan hukum yang diberlakukan bagi orang kusta? Karena ia ingin sembuh dan tidak ingin diperlakukan seperti sampah. Dia sudah kenyang dengan aneka pengasingan dan penghinaan. Seperti orang kusta ini, kita seringkali tidak dapat menghadapi permasalahan hidup sendirian saja. Kita membutuhkan bantuan ilahi. Orang kusta ini tidak menaruh harapannya ke salah satu murid Yesus. Dia juga tidak meminta bantuan dari sesama penderita kusta. Dia bahkan tidak berharap pada para imam. Orang kusta itu menyadari bahwa tidak ada dari mereka yang akan membantunya. Dia berlari dan tersungkur di hadapan Yesus. Apakah sambil mengakui keterbatasan diri dan aneka persoalan yang mengitari, kita berani mendekati Yesus dan tersungkur dihadapan-Nya?

2. Tanggapan Yesus. Yesus menanggapi secara positif permohonan orang kusta itu:  “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.” “Mengulurkan tangan” searti dengan memegang atau melingkarkan tangan. Dia bisa menyembuhkan hanya dengan sepatah kata. Ia dapat menyembuhkan dari jarak yang sangat jauh, tanpa sepatah kata pun dan tanpa sentuhan apa pun. Tetapi Yesus tahu bahwa penderita kusta ini membutuhkan sentuhan cinta.  Kerelaan Yesus untuk menyembuhannya adalah sangat luar biasa, tetapi adalah lebih luar biasa karena Yesus ingin menunjukkan cinta-Nya bagi orang yang sakit kusta itu. Menurut hukum Yahudi, jika seseorang menyentuh seseorang yang najis, mereka menjadi najis juga. Jadi mengapa Yesus melakukan ini? Pertama-tama, karena Yesus mencintai penderita kusta itu. Yesus tidak pernah menyembuhkan siapa pun hanya untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa Ia mempunyai kuasa menyembuhkan. Yesus tidak pernah menyembuhkan siapa pun hanya untuk menarik perhatian atau mendapatkan ketenaran publik. Sekali lagi, Ia hanya ingin menunjukkan cinta kepada penderita kusta. Ia tidak takut tertular atau jijik pada luka-dagingnya yang membusuk. Sentuhan cinta-Nya menggerakkan Yesus berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Masa Natal hampir berakhir. Kita diingatkan bahwa kita semua telah “tersentuh” oleh Kristus dalam Pembaptisan. “Sentuhan” ini berlanjut sepanjang hidup kita. Sentuhan itu adalah sentuhan yang menguduskan dan mengubah. Itu adalah sentuhan yang menyembuhkan dan menghibur. Mari kita semakin membiarkan diri mengalami belas kasihan Yesus. Mari kita datang kepada-Nya dengan rendah hari saat kita membutuhkan kasih karunia-Nya. Dia tidak akan ragu untuk mengulurkan tangan menjangkau dan menawarkan Cinta dan belas kasihan-Nya kepada kita. Ia tidak pernah jijik dengan keberadaan kita. Ia ingin menguduskan kita.

3. Pola Kekudusan: Baris terakhir dari Injil ini memberi penegasan:  “Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.” Bagi Yesus waktu untuk sendiri dan berdoa adalah waktu yang tidak bisa ditawar. Di tengah  pelayanan-Nya yang super sibuk, Ia membuat pilihan untuk mencari waktu berdoa dan berdua dengan Bapa-Nya. Ia tidak serta merta memenuhi jadwal pelayanan-Nya dengan permintaan dan harapan mereka.

Kita juga menjalani kehidupan yang penuh dengan aktivitas, yang semuanya itu semoga memberi kemuliaan kepada Tuhan. Tetapi, apakah kita juga menjadwalkan waktu yang teratur untuk menyendiri dan berdoa? Melalui teladan-Nya, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa doa adalah aspek penting untuk menjalani semua aspek lain dari kehidupan kita sesuai dengan kehendak Allah. Tugas dan tanggung jawab duniawi kita sering “berteriak” untuk mengundang dan meminta perhatian kita, sementara Yesus berbisik, “Aku merindukanmu. Sudahkah Engkau berdoa hari ini? Aku ingin pelayananmu adalah pelayanan yang didasarkan kasih yang mengalir dari doa dan bukan popularitas.”

Comments are closed.
Translate »