Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil

Yohanes 3:22-30

Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.

Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”

Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

***

Kalau anda punya toko dan ternyata toko di seberang jalan lebih banyak dikunjungi pelanggan, tentu anda akan kesal, istilah anak mudanya: bete. Berbagai cara pasti ditempuh, dari menambah iklan, mempercantik toko, atau menawarkan diskon. Ini memang namanya prinsip dagang. Mungkin untung juga Yohanes Pembaptis tidak memutuskan untuk menjadi pedagang, bisa-bisa tokonya bangkrut semua.

Dunia kita penuh dengan orang-orang yang mencari jati diri dengan tergantung kepada penghargaan dari orang lain. Lihatlah mereka yang menjadi pujaan dunia, bintang film, artis, atau orang kaya yang sukses berbisnis. Waktu saya pulang ke Jakarta beberapa tahun lalu, saya mampir ke toko buku Gramedia. Salah satu bagian yang paling dipromosikan dan banyak pilihannya adalah bagian buku-buku tentang cara menjadi sukses, entah dalam berbisnis, menjual real estate, atau menjalin cinta. Buku-buku seperti ini laku keras karena kita haus akan perhatian orang lain. Secara manusiawi kita memang ingin merebut sukses dan dihargai orang lain.

Tetapi kadangkala kebutuhan manusiawi ini menjadi kebablasan. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus diraih dengan menghalalkan segala cara, termasuk mengorbankan orang lain. Prinsipnya, aku harus makin besar, kalau perlu orang lain harus makin kecil. Lebih gawat lagi kalau saking fokusnya kita membesarkan diri sendiri Tuhan pun dianggap kecil. Kita lebih percaya pada kemampuan kita sendiri tanpa ingat karya Tuhan dalam hidup kita.

Yohanes Pembaptis mengingatkan kita hari ini: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” Semua keberhasilan kita, semua talenta kita, asalnya dari Tuhan juga. Kebahagiaan kita tidak hanya berasal dari kesuksesan kita, tapi dari kesadaran bahwa Tuhan begitu berkuasa sehingga dalam kemurahan hatiNya telah memberi rahmat yang begitu besar dalam kehidupan kita. Tujuan akhir kita bukanlah sukses untuk diri sendiri, melainkan bagaimana kita turut mewujudkan kerajaan Allah di dunia ini, kerajaan yang berdasarkan keadilan, damai, dan cinta kasih.

 

 

One thought on “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil

  1. Bro Sam, renungan anda bagus , terima kasih , berharap agar anda bisa menemani kita selalu lewat karya renungan yang tajam seperti ini , Good Job Bro.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate ยป