Paskah Kristus: Pembasuhan kaki, Ekaristi dan Ajaran Cinta Kasih
Ex 12:1-8; 1Cor 11:23-26; John 13:1-5
Yesus yang membasuh kaki murid-murid adalah tindakan Allah merendahkan diri. Perendahan diri Allah memiliki tujuan yang khusus dan mulia yakni untuk membawa kembali manusia ke pangkuan Ilahi. Dalam lingkungan Yahudi, membasuh kaki adalah tindakan seorang hamba bagi tuannya. Yesus membalikkan cara ini yakni Tuan yang membasuh kaki hambanya. Pergeseran cara pandang ini nampak dalam reaksi Petrus: “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Inilah cara Tuhan mengajarkan para murid dan memberi contoh tentang bagaimana mereka akan melanjutkan karya perutusan yang harus mereka emban.
Agar menjadi seorang pelayan Tuhan yang baik, pertama-tama orang harus mengalami proses pertobatan batin. Pertobatan yang benar hanya terjadi melalui bimbingan Roh Allah. Proses pertobatan ini adalah satu proses atau perjalanan spiritual yang terjadi secara batiniah di dalam waktu dan di dalam diri orang bersangkutan. Proses ini bermula dari perjumpaan antara Allah yang agung dan orang yang dipanggil kepada pertobatan. Di dalam formasi spiritual ini jiwa manusia dengan dituntun oleh Roh Allah mengarahkannya untuk kembali ke dalam diri dan bertemu dengan kondisi-kondisi dirinya yang real seperti keterlukaan, keterasingan dan bahkan keterpecahan diri yang mengakibatkan orang kehilangan keseimbangan dan daya untuk mencintai dan juga dicintai. Perjumpaan dan penerimaan akan kerapuhan diri, seperti rasa malu dan rasa bersalah, selanjutnya membimbing kepada kebutuhan untuk mengalami penyembuhan diri yang utuh. Karena penyembuhan diri adalah satu proses spiritual, maka dibutuhkan rahmat Ilahi yang oleh Paus Fransiskus sebut sebagai “balsem belas kasih” dari Allah. Karena itu perlu iman dan kerendahan hati bahwa Allah dapat melakukan penyembuhan atas diri kita.
Lagi, proses penyembuhan spiritual bukan satu proses mekanis yang gampang. Ini terjadi melalui gerakan roh dengan bimbingan Allah untuk menuntun secara bertahap dalam proses ini. Pengaruh Roh Allah ini dapat juga dilihat di dalam Kisah Pembasuhan kaki para murid. Reaksi pertama dari Petrus terhadap tindakan pembasuhan yang dilakukan Gurunya adalah penolakan. Namun setelah melakukan reaksi negatif, ia malah menerima dan bahkan meminta lebih dari itu: “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku.” Dengan kata lain, seluruh proses ini adalah karya Roh yang kelihatan sulit tapi bukan tidak mungkin karena segala sesuatu itu mungkin bagi Allah.
Dengan demikian, proses transformasi spiritual membutuhkan pertama-tama bukan keberanian semata tapi sikap terbuka dan kepercayaan total kepada Allah agar sampai kepada penemuan jati diri yang otentik. Tahapan penemuan jati diri ini penting namun juga kritis karena perjumpaan dengan kebenaran menuntut kita untuk mengambil keputusan: mengikuti dan menolak. Menolak berarti tidak ingin bersekutu dengan Allah
yang adalah kebenaran sejati. Selanjutnya, keputusan untuk mengikuti-Nya akan mengambil bentuknya yang konkret dengan komitmen untuk mengabdikan diri demi kemuliaan Allah melalui usaha dan keterlibatan yang realistis, terencana dan aktif dengan berpartisipasi dalam proses transformasi rohani yang sama, yakni mencintai dan melayani sesama yang menderita dan butuh pertolongan. Perlu diulangi bahwa godaan terbesar di dalam seluruh proses ini adalah godaan ketidakpercayaan, yakni tiadanya kerendahan hati untuk menerima Allah, sehingga resistensi akan selalu muncul dan menyulitkan proses transformasi ini dan tujuan yang ingin dicapai. Yesus sendiri bahkan harus berkali-kali meyakinkan murid-murid agar mereka memiliki iman dan harapan bahwa Allah dapat malakukan tindakan-tindakan ajaib dalam hidup mereka, termasuk membebaskan mereka dari ikatan-ikatan diri yang palsu dengan dunia. Salah satu hasil ajaib dari proses transformasi rohani ini adalah pembalikan cara pandang sekaligus penajamannya, agar dengan mata iman orang mampu memandang sesama dan dunia, bukan lagi dengan mata manusia biasa, melainkan dengan mata Allah, yakni mata yang penuh kasih dan pengampunan.
Akhirnya, seluruh proses pengenalan dan transformasi spiritual ini harus membawa pribadi bersangkutan untuk mengambil satu komitmen religius yang lebih radikal dengan mengikuti dan mengikatkan diri pada Yesus, Putra Allah yang menjadi manusia melalui Perawan Maria. Melalui Maria, Allah memberikan kita akses kepada Diri-Nya melalui Yesus, Juruselamat mereka yang percaya kepada-Nya. Karena itu di akhir proses pembasuhan kaki, Yesus mewahyukan rahasia terdalam dari panggilan menjadi pengikut-Nya dengan berkata: “Jikalau kamu tahu semuanya ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.” Yang dimaksudkan dengan “semuanya ini” adalah ajaran dan contoh hidup Yesus beserta seluruh misterinya untuk saling mengasihi dan melayani dalam iman. Kasih dan pelayanan dalam iman ini penting namun perlu ada harapan bahwa Kristus akan datang kembali dan membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya.
Akhirnya, misteri perjamuan Paskah Yesus bersama para murid-Nya sekaligus membentuk mereka menjadi satu kawanan baru para imam, pewarta dan pelayan Allah yang disatukan di dalam Ekaristi sebagai “pusat dan puncak” praksis kerohanian Gereja. Di dalam Ekaristi, Allah mengumpulkan kawanan domba-Nya dan melalui kehadiran para imam-Nya memberi mereka makan dari Sabda dan Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya sendiri untuk menguatkan, memelihara dan menguduskan mereka. Hal ini menjadi inti ajaran St. Paulus dalam bacaan kedua perayaan Kamis Putih. Di sana ia memperingatkan umat di Korintus tentang pentingnya menguji diri, yakni proses pembersihan diri, termasuk pemeriksaan batin sebelum menerima komuni kudus. “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” (27-29) Dengan demikian, Ekaristi sebagai pusat dan puncak hidup kristiani
harus membawa pembebasan di dalam praksis hidup yang nyata dengan mengabdikan diri sepenuhnya untuk kemuliaan Allah dan kebaikan serta kebahagiaan sesama.**