Realitas kebangkitan Kristus dan harapan akan suasana hidup baru post-pandemic
Gen 1:1 – 2:2; Rm 6:3-1; Mat 28:1-10
Viruscorona adalah sebuah virus mematikan yang mengharuskan setiap orang untuk tinggal rumah, negara-negara mengunci diri, dan setiap individu melakukan penjarakan sosial. Istilah-istilah ini menyerang secara langsung substansi kehidupan beragama sebagai komuni, kesatuan, kedekatan, kehangatan, rasa kekeluargaan dll. Agama memiliki peran penting untuk menguatkan rasa kebersamaan ini. Namun virus ini bukan hanya membalikkan cara pandang agama tetapi juga secara praktis menghancurkannya. Definisi physical atau social distancing adalah satu tanda bahwa kehadiran agama tetap penting, tenunan dan ikatan kekeluargaan, komunitas sosial dan religius tetap menjadi tempat yang dirindukan umat beragama.
Situasi pandemi saat ini tidak harus melumpuhkan rasa solidaritas ini. Cara pandang dan cara berpikir, cara berkomunikasi dan bertindak secara fundamental telah diubah oleh wabah. Relasi sosial, kekeluargaan dan keagamaan, kerja sama antarbangsa secara signifikan mengalami pergeseran sejak deklarasi pandemi covid19 oleh WHO. Kita hanya berharap bahwa wabah dari bencana ini akan berlalu. Penderitaan dan kematian orang-orang terkasih adalah satu kehilangan besar yang mengoncangkan keberadaan dan kepercayaan diri anggota keluarga dan komunitas. Namun harapan akan sesuatu yang lebih baik harus tetap melekat dan tinggal di dalam batin setiap individu yang mengalami goncangan menyakitkan ini.
Merayakan kebangkitan Kristus di tengah krisis pandemic viruscorona mengajarkan kita beberapa hal. Pertama, kondisi-kondisi kerapuhan manusiawi hanya dapat ditemukan kesempurnaannya di dalam Allah. Pesan kebangkitan sesungguhnya diawali dengan rasa solidaritas yang besar terhadap orang yang sudah meninggal. Rasa solidaritas ini justru dihadiahi dengan sesuatu yang tak diharapkan: “Yesus tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit.” Pembalikan total datang dari Allah dan menghalau kesedihan dan rasa kehilangan para murid. Kebangkitan orang mati bukan lagi sebuah harapan melainkan realitas orang yang yakin dan berharap pada Allah! “Kristus bangkit. Kristus jaya. Alleluia,” harus tetap menjadi pekikan paskah. Solidaritas kemuridan harus diperkuat. Kebangkitan Kristus harus membuka mata bahwa penderitaan yang dialami kaum kecil dan tak berdaya tidak pernah dilupakan atau dibiarkan berlalu oleh Allah. Manipulasi, dusta dan praktik ketidakadilan yang dilegitimasi oleh kekuatan dunia dan keagamaan yang direkayasa oleh manusia tidak akan pernah bisa bertahan tanpa Allah. Iman akan kebangkitan adalah iman akan kepastian kehadiran Allah di tengah segala keraguan dan ketidakpastian yang diciptakan manusia. Kebangkitan semata-mata adalah kasih dan pemberian murni dan terbesar dari pihak Allah untuk manusia agar tidak pernah boleh berputus asa apapun cobaan yang harus dilewati.
Kedua, rasa solidaritas tentang kemanusiaan universal dibaharui. Kondisi post-pandemic adalah sebuah harapan bersama kendati titik terangnya tidak dapat dipastikan
saat ini. Seperti kondisi keguncangan, kegelapan akibat kehilangan orang-orang terkasih, kebangkitan Kristus sungguh sebuah realitas baru. Janji-janji, ajaran dan perbuatan-perbuatan luar biasa yang dilakukan Yesus, melalui kebangkitan-Nya mendapatkan penyempurnaan. Yesus yang wafat di salib kini menjadi Yesus yang bangkit. Yesus yang bangkit adalah Yesus tersalib. Inilah pemberian diri murni dari Allah yang dimulai dengan misteri inkarnasi yang meliputi seluruh hidup dan karya pelayanan Yesus, hingga sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Intensifikasi penderitaan harus diimbangi dengan intensifikasi harapan dan solidaritas sosial yang lebih besar melalui iman akan kebangkitan itu sendiri.
Ketiga, panggilan dan tugas pewartaan Injil dan harapan datangnya suasana hidup baru. Pesan keselamatan paskah bagi kita orang beriman adalah bahwa dunia yang sesungguhnya kita harapan adalah dunia dimana Allah hadir. Kasih adalah kondisi di mana Allah hadir. Kita dipanggil untuk menghadirkan kasih dan kebaikan Allah dimana dan kapan saja. Di hadapan peristiwa kebangkitan, kematian sekali lagi tidak mendapat tempat. Karena itu proklamasi kebangkitan diawali dengan: Jangan takut!, sebagai satu undangan untuk masuk dalam misteri dan realitas kebangkitan yang disediakan oleh Allah. Penguatan kebergantungan akan yang Ilahi dan solidaritas kemanusiaan karena itu harus tetap menjadi fundamen untuk terus berlangkah maju. Paska-kebangkitan harus membantu kita untuk tidak tenggelam di dalam pandemic global saat ini. Kita harus punya harapan akan datangnya kondisi post, paska-pandemic dengan arah dan pesan kebangkitan yang lebih kuat dan pasti: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.” Kita diajak untuk pergi, tinggalkan kubur untuk melihat Tuhan di Galilea, dengan mata dan pandangan baru, yakni dengan cahaya dan daya paska kebangkitan Kristus sendiri.