Mengenal Profil Para Nara Sumber
Suster Putri Karmel (The Daughters of Carmel)
http://www.daughtersofcarmel.org/

The Daughters of Carmel (DOC) nuns were first invited to the Bay Area by the Indonesian Catholic Community of Northern California (WKICU) in May 1998. Sr. Justini P.Karm (Superior General) and Agata P.Karm (Vice General) conducted an astonishing spiritual retreat to this community. Afterwards they decided to invite the nuns on a bi-annual basis. The DOC nuns also traveled to different parts of the United States to reach out to other Indonesian communities.
In 2000, Fr. Yohanes Indrakusuma O’Carm (the Father Founder) came with a group of nuns to conduct other various retreats. This time, however, the DOC community was also discerning the Indonesian community’s invitation to build a branch in the United States. Soon, meetings were held with numerous Bishops throughout the regions in California.
San Francisco would eventually become a promising site that the DOC would like to launch its ground breaking. Then, an initial meeting with Bishop John Wester of the Archdiocese of San Francisco was conducted in 2003. Soon after, in March 2005 another meeting in Vatican was held between Cardinal Levada (the Archbishop of San Francisco at that time) and Fr. Yohanes, accompanied with and through the courtesy of Fr. Mark Rubiano’s arrangement. With warm and opened hands the Excellency offered an invitation for DOC to branch out in the diocese. This process was realized through the works of the Emeritus Bishop Ignatius Wang. Bishop Wang visited the mother house of DOC in the village of Tumpang, East Java, as well as the monastery of the brothers of Carmelite Sancti Elijah (CSE) in Cikanyere, West Java, Indonesia in the Summer of 2007.
After a long process of paper trails, the first sister of DOC finally arrived in San Francisco from Indonesia on the feast of St. Joseph, May 1, 2009. Thanks to the hospitality and generosity of Monsignor Michael Harriman, pastor of St. Cecilia Parish, the third floor of the St. Cecilia Convent was opened for the sisters as their residence. Today, the DOC, originating from San Francisco, continues their ministries to the United States and Canada. They conduct prayer meetings, Eucharistic adorations, retreats, and spiritual direction to anyone who ‘knocks” on their door.
One thought on “Mengenal Profil Para Nara Sumber”
Desember 2013 lalu kami sekeluarga mendapat berkat untuk berkunjung selama 3 hari 2 malam ke St. Cecilia Convent di San Francisco, biara dimana Para Suster (Daughters of Carmel) DOC tinggal. Pengalaman akan perjumpaan dengan para suster DOC membuat kami sekeluarga melihat secara langsung bagaimana kolaborasi antara kemurahan Tuhan dan ketekunan manusia akan berbuah menjadi sebuah harmoni yang sangat indah dan powerful.
DOC adalah kongregasi pertama yang didirikan oleh rohaniwan Indonesia, yaitu oleh Romo Yohanes Indrakusuma O,Carm. Sebagai orang katolik Indonesia, kami bangga sekaligus malu sekali mendengarnya. Bangga karena warga katolik di Indonesia adalah kaum minoritas, namun dalam keadaan demikian justru buah panggilan itu tetap ada dan sangat nyata. Kalau sebuah kongregasi didirikan oleh rohaniwan dari Eropa, rasanya sudah hal biasa; tapi yang satu ini didirikan oleh orang Indonesia, yang mana Indonesia sendiri adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia! Artinya sungguh hebat karya panggilan Allah, Dia bisa memanggil dimana pun, dalam situasi apapun! Sungguh hebat bagaimana orang katolik di Indonesia menanggapi panggilan Allah, hingga akhirnya lahir kongregasi ini. Di sisi lain kami juga malu, karena baru kali itulah kami mengetahui informasi ini. Kami sebagai orang katolik Indonesia merasa malu karena sikap apatis kami sehingga kurang mampu untuk mengapresiasi buah karya bangsa sendiri. ‘Kok ya baru tahu sekarang???
DOC tinggal di lantai 3 St. Cecilia Convent berkat kemurahan hati Pastor St.Cecilia Parish. Lagi-lagi ini juga sebuah kolaborasi antara kemurahan Tuhan yang nyata dan tanggapan manusia (Pastor St.Cecilia Parish). Bayangkan… sebuah kongregasi di Indonesia, mau mengirimkan suster-susternya ke San Francisco (kota yang kita tahu sebagai kota mahal) lalu dapat tempat pinjaman gratis yang bisa dijadikan biara. Saat ini mereka sudah 4 tahun mendiami tempat tersebut.
Suster-suster yang dikirim ke San Francisco pun praktis menjadi misioner di benua Amerika. Mereka termasuk suster-suter yang saat ini sedang membuka jalan untuk karya DOC di benua Amerika. Kalau dulu misionaris dari Eropa yang dikirim ke Indonesia untuk memberitakan Injil, saat ini justru orang-orang Indonesia yang pergi ke berbagai benua untuk memberitakan Injil. Masih hangat dibenak kami nama seperti Romo Van Lith yang menginjakkan kaki pertama di tanah Jawa untuk sebarkan Injil … sekarang justru sudah sebaliknya… Suster Jacinta dkk yang menginjakkan kaki di San Francisco menjadi misioner! Lagi dan lagi terlihat jelas bagi kami sebuah kolaborasi apik antara kemurahan Tuhan dan tanggapan manusia. Sikap taat, tekun, dan etos bekerja yang baik kami rasakan dari para suster DOC selama kami tinggal di biara mereka. Sikap inilah sebagai tanggapan balik atas kemurahan Tuhan yang terlebih dahulu telah mereka terima.
Tinggal 3 hari 2 malam di biara mereka merupakan sebuah pengalaman yang damai sekali bagi kami sekeluarga. Perjumpaan dengan mereka pada akhirnya menjadi perjumpaan konkrit dengan Allah sendiri yang adalah kasih. Terima Kasih para suster DOC! Terus berdoa dan berkarya! Mari kita dukung terus DOC, buah karya asli anak bangsa 🙂
Salam,
Adi Widjaja sekeluarga
Comments are closed.