Berbagi sebagai Cara Hidup

Berbagi sebagai Cara Hidup

Senin, 4 Mei 2020

Hari Biasa Paskah IV

Bacaan I Kis 11: 1-18

Bacaan Injil Yoh 10: 11-18

Dua bacaan hari ini memberi makna tentang pewartaan keselamatan bagi semua orang, tanpa terkecuali. “Kepada bangsa-bangsa lainpun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kis 11:18). Dengan kesadaran bahwa Allah berkenan kepada semua manusia, semoga membawa kesadaran betapa kasih Allah tidak terbatas pada batasan apapun juga. Suku, negara, agama maupun kebudayaan bukan menjadi batasan yang meyakini tentang keberpihakan Allah pada salah satu pihak saja. Allah berkenan kepada kita semua. Allah itu adil. Sekat dan batasan diciptakan oleh manusia, yang terkadang kalau tidak hati-hati akan menjatuhkan seseorang pada fanatisme sempit. Merasa diri paling benar, suci, bijak, terpilih dan sebagainya, merupakan bentuk kesombongan yang mudah diketemukan pada identitas pribadi-pribadi.

Mari kita memerhatikan kata “Allah mengaruniakan pertobatan…”. Amat jelas bahwa Allah memberi karunia hidup secara merata. Allah memimpin setiap manusia menuju pada hidup yang benar. Allah tidak pilih kasih, sebagaimana digambarkan oleh Injil melalui potret Gembala yang Baik. Yang patut kita lakukan adalah menyadari karunia-karunia Allah itu sebagai cara untuk menerima orang lain dengan tangan terbuka.

Kita patut bersyukur bahwa peran Gereja di masa pandemi ini sangat terasa. Gereja mampu mewartakan karunia Allah melalui tindakan berbagi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan Gereja, minimalnya Gereja Indonesia, untuk memelihara domba-domba dari kandang lain. Berbagi sembako, makanan, donasi dan sebagainya merupakan bentuk penghayatan pada keutamaan Gembala yang Baik. Berbagi tanpa perlu pilih kasih. Memberi tanpa membeda-bedakan. Di sinilah peran Gereja bagi dunia. Nilai hidup solider bukan lagi sebatas permenungan atau berhenti pada refleksi saja, tetapi telah menjadi sebuah gerakan bersama. Atas nama cinta kasih, Gereja mampu mewujudkan kehidupan yang indah sebagaimana perutusan yang diberikan Yesus kepada kita semua. Melalui pandemi, ternyata kita belajar untuk memberi diri kepada semua orang tanpa perlu takut dan pra-duga yang negatif. Semoga, apa yang telah kita wujudkan ini tidak hanya terjadi karena pandemi, tetapi pada akhirnya menjadi cara hidup dan tradisi yang akan terus bertahan. Sebab, dengan berbagi maka Gereja semakin menampakkan kesejatiannya.

Comments are closed.
Translate »