MENCINTAI ALLAH DAN SESAMA
Kamis, 04 Juni 2020
Mrk 12:28-34
Mencintai Allah dan sesama digambarkan seperti proses pernafasan: ada udara yang dihirup dan ada yang dihembuskan. Dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara mencintai Allah dan mencintai sesama. Demikianlah kiranya pesan dari Injil hari ini. Pelaksanaan dua hal tersebut tidak dalam arti satu mendahului yang lain tetapi bersifat satu mendasari yang lain. Butir-butir aturan agama Yahudi atau hukum taurat yang begitu rumit dan detil (613 butir tentang aturan dan laranga), bermuara dalam tindakan mencintai Allah dan mencintai sesama. Kalau demikian, apa yang Allah minta dari kita? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kita diminta untuk mencintai seperti Allah mencintai kita. Allah adalah kasih (1 Yoh 4:7). Allah mencintai kita terlebih dahulu dan cinta kepadaNya adalah suatu tanggapan manusia. Menanggapi cinta Allah bukanlah berarti membalas cinta itu dengan hanya beribadah kepadaNya secara khusuk. Atau bahkan kita beranggapan, perlu membela Allah sampai mati. Bukan demikian. Menanggapi cinta Allah itu berarti menerima diri kita apa adanya, berdamai dengan diri sendiri, menyadari kehadiran Allah dalam diri kita. Pertanyaan untuk kita renungkan, sejauhmana cinta Allah itu telah mengubah hidupku lebih baik lagi? Cinta Allah itu mengikis keegoisan diri kita, lebih membuat kita berempati dan mengasihi orang lain. Mencintai Allah yang sejatinya adalah membuat kita bertobat. Pertobatan itu diwujudkan dalam tindakan kasih bagi mereka yang menderita. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).
“Allah Bapa yang ada di surga, kami ingin mencintaiMu lebih mendalam. Berilah kepada kami, hati yang dipenuhi cinta murni, hati yang mengampuni dan hati berbelaskasih seperti Hati, Yesus Kristus, PuteraMu”