WUJUDKAN KEDAMAIAN Matius 7:1-5

WUJUDKAN KEDAMAIAN Matius 7:1-5

Senin, 22 Juni 2020

Setiap orang merindukan kedamaian, karena pada hakekatnya manusia hidup selalu bersama dengan orang lain. Ia tidak bisa hidup sendiri tanpa keterlibatan orang lain. Di dalam relasi dengan sesamanya tersebut akan muncul kedamaian. Kedamaian tersebut tidak dengan sendirinya hadir, tergantung bagaimana pola relasi yang terjadi. Jika relasi antar manusia dilakukan dengan tulus dan penuh cinta kasih, maka kedamaian akan muncul. Sebaliknya jika ada orang yang tidak tulus dan cenderung mencari keuntungan diri sendiri maka tidak akan muncul kedamaian di sana. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”(Yoh 15:11-12). Relasi yang tidak tulus bisa terlihat ketika seseorang menaruh iri, dengki dan sikap benci serta menghakimi sesamanya. Ketika hal itu terjadi, maka relasi tidak didasari dengan kejujuran tetapi oleh kebohongan dan kemunafikan. “Mengapakah engaku melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”(Mat 7:3). Dalam pola relasi seperti itu maka tidak akan muncul kedamaian. Oleh karena itu Tuhan Yesus melarang murid-murid-Nya bertindak demikian. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”(Mat 7:1). Kedamaian adalah hal yang sederhana, karena cara untuk mewujudkannya juga dengan cara yang sederhana, yaitu dengan sikap kerendahan hati. Seperti tanah yang telah diolah, hati seseorang akan mampu menerima semua kondisi dan realita dan setelah itu akan lahir kedamaian dan ketenangan. Orang yang rendah hati mampu menerima semuanya dengan tenang, karena ia membawa semua kepada penyelenggaraan Allah yang Maha Adil. Allah tahu dan melihat apa yang ada di dalam hati setiap orang, Ia akan memberikan kedamaian dan keadilan bagi orang yang benar. “……Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah. Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7b). Biasanya orang-orang yang benar dan tulus, sering direndahkan dan dibenci sesamanya, karena sikapnya yang dipandang tidak cocok oleh dunia. Akan tetapi ia tidak akan kehilangan kedamaian dan sukacita, sebab apa yang telah ia lakukan adalah hal-hal yang benar dan tulus. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat 5:10-11). Jadi kedamaian muncul dalam diri orang yang rendah hati dan benar yang mencintai Allah dan menyerahkan segalanya kepada kehendak-Nya.
Paroki St. Montfort Serawai, Kalbar, ditulis oleh: Rm Aloysius Didik Setiyawan CM

Comments are closed.
Translate »