LAYAKAH KITA?

LAYAKAH KITA?

Mat 8:5-17

Injil hari ini, Matius 8:5-17, mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan hamba dari perwira di Kapernaum, ibu mertua Petrus dan mengusir roh-roh jahat dari orang-orang yang kerasukan roh jahat. Perwira, dengan keyakinan dan kerendahan hati, berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Sikap dari perwira ini menarik karena sekalipun orang lain mungkin menganggapnya layak, karena ia seorang perwira, tetapi ia memiliki hati yang rendah menganggap dirinya tidak layak untuk menerima Yesus. Tanggapan Yesus atasnya pun mengagumkan dengan memujinya, “Di Israel, tidak ada seorang pun yang saya temukan iman seperti itu.” Siapa di antara kita yang tidak ingin mendengar kata-kata itu?

Kisah ini mau berbicara tentang apa itu artinya iman yang besar seperti keyakinan yang dimiliki perwira terhadap Yesus. Perwira yang bijaksana itu tahu bahwa kelayakan karena jabatannya yang ia rasakan di komunitasnya, rumahnya dan dalam hubungannya dengan sesama warga sama sekali nol dibandingkan dengan cinta dan kebaikan yang datang dari Tuhan. Perwira itu tahu bahwa tidak ada perbandingan yang harus dibuat, dia seperti kita sekarang ini – tidak layak atas cinta dan pengampunan yang tak terbatas yang diberikan Tuhan kepada kita setiap harinya.

Iman adalah kekuatan yang menyembuhkan. Itulah yang terungkap setiap kali kita berucap, “Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang pada saya tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”, sebelum menerima Tubuh Kristus dalam setiap perayaan Ekaristi. Ketika kita mengucapkan kata-kata itu, kita menjadi seperti perwira, mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang hancur, tidak layak menerima anugerah dan kasih Allah. Tetapi kita juga mengakui iman kita yang teguh akan kuasa penyembuhan dari Allah. Dengan permintaan kita kepada Allah untuk “mengatakan firman-Nya,” kita menempatkan hidup dan jiwa kita di tangan-Nya dan menyatakan, dengan setia, bahwa tubuh dan darah penyelamat kita, Yesus, akan menebus kita dan membuat serta membuat kita tetap layak.

Saudari-saudaraku terkasih, iman kita dapat terhalang dan kehilangan fokus ketika dalam hidup hal-hal tidak berjalan seperti yang kita rencanakan dan inginkan. Pada saat-saat seperti itulah kita mungkin menyalahkan keluarga kita, tetangga kita dan bahkan Tuhan. Sikap perwira di Kapernaum adalah pelajaran bagi kita untuk tidak pernah terhalang dari apa yang harus kita lakukan dan terus menjaga pandangan kita pada apa yang ingin kita capai di jalan Allah dan yakin bahwa ketekunan kita akan diganjar oleh kasih Allah sendiri.

Tuhan memberkati!

Comments are closed.
Translate »