Kerajaan Allah sudah ada di tengah kita
HARI SABTU DALAM MINGGU KE 13 MASA BIASA
Amos 9:11-15
Matius 9:14-17
Saudara-saudariku terkasih,
Amos dalam bacaan pertama hari ini berbicra bagaimana Allah akan mengembalikan bangsa Israel ke tanah pembebasan dan kebahagiaan sesudah ditaklukan oleh musuh-musuhnya. Allah akan membangun kembali pondok Daud yang telah roboh: “Aku akan memperbaiki pecahan didiningnya dan akan mendirikan kembali reruntuhannya”
Nubuat nabi Amos ini menjadi sangat terkenal, dan oleh bangsa Yahudi masih terus menantikan pemenuhannya sampai pada masa Yesus. Dan sekalipun dengan segala pengetahuan dan penantian yang sekian lama, mereka tetap tidak bisa melihat pemenuhannya di dalam diri Yesus. Bahkan murid Yohanespun tidak bisa mengerti apa yang mereka lihat dan alami, … mereka lalu berani bertanya kepada Yesus: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?”
Atas pertanyaan mereka Yesus menjawab: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Jawaban Yesus itu sudah merupakan suatu signal untuk para murid Yohanes bahwa Yesus sendirilah yang orang Yahudi sedang menanti kedatanganNya, dan itulah saatnya mereka harus sudah dapat bergembira. Oleh karena itu, kesedihan yang dinyatakan dengan berpuasa sebagai ungkapan ketaatan kepada hukum samasekali tidak perlu, bahkan sudah harus sadar bahwa “Kerajaaan Allah sudah ada di tangan.”
Saudara-saudariku terkasih,
Tetapi, ketika Allah akan membangkitkan Yesus, dan oleh karena itu robohnya pondok David, pada kesempatan itu akan menjadi saatnya mereka berpuasa. Bagi para murid Yesus, hal itu akan terjadi, … bahwa, “waktunya akan datang mempelai itu diambil dri mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” Bagi kita sekarang kalau boleh kita simak bahwa dosa dan kegagalan dalam hal menaati hukumNya menjadi kesempatan yang bagus untuk kita yang sudah menjauhkan diri dari Yesus untuk berpuasa dan bertobat. Sikap dan tindakan berpuasa dan atau berkabung yang oleh gereja biasa dilakukannya pada masa puasa, merupakan ungkapan sikap rohani yang kita pusatkan berdasarkan kasih kepada Tuhan karena Tuhan adalah kasih, bukan karena ketaatan berdasarkan hukum semata.
Oleh karens itu saudara-saudariku, seperti orang Israel pada masa Amos, puasa dan matiraga, renungan ini menolong kita untuk bertobat atas kehancuran relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Jadi untuk anda yang hari ini menghadiri perayaan Ekaristi kudus secara langsung ataupun live-streaming, inilah kesempatan yang sangat baik untuk kita memohon rahmatNya agar kita bisa melihat dan menemukan apa saja yang perlu kita perbaiki – dan berusaha merobohkan dinding yang membatasi hubungan kita dengan Tuhan, atau mau membangkitkan kembali reruntuhan itu serta membaharui hidup rohani kita. Amin.