Senin, 17 Agustus 2020
Hari ini adalah Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75. Peringatan Kemeredekaan tahun ini berbeda, tak sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun-tahun yang lalu kita merayakan dalam hingar binger dan gegapgempita, maka tahun ini kita merayakan dalam keprihatinan dan dalam doa yang tak kunjung henti agar pandemi ini segera barakhir dengan hari yang lebih indah dan penuh harapan. Namun dalam situasi seperti sekarang ini kita justru diajak untuk memaknai bahwa Kemerdekaan pada akhirnya adalah tentang pilihan dan bukan hanya sekedar tentang situasi dan “paksaan” lingkungan agar kita mau tidak mau harus merayakan. Kemerdekaan adalah pilihan bagi kita untuk mau memilih merdeka atau terkungkung, memilih menciptakan kemerdekaan atau jusru hanya diam dan mengeluh sambil menanti datangnya yang dinanti. Hari ini bacaan Injil dibuka dengan pengantar bahwa orang-orang Farisi jaman itu berunding untuk mencari pertanyaan yang bisa menjatuhkan Yesus, mereka mencari dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya menemukan pertanyaan tentang Pajak yang harapannya bisa membuat Yesus jatuh dan ditinggalkan banyak orang atau syukur-syukur bisa lebih cepat jadi musuh Romawi karena jawabNya. Namun ternyata Yesus tahu apa maksud mereka; Yesus tahu jawaban apa yang paling tepat tanpa harus menghancurkan diriNya atau mendiskreditkan pihak lain. Jika kita melihat lebih dalam, orang-orang Farisi adalah gambaran dari banyak pribadi yang tak memilih untuk merdeka. Mereka memilih untuk membebani diri mereka dengan perasaan negative pada Yesus yang mau tidak mau juga akan membuat focus hidup mereka adalah menjatuhkan Yesus; mereka lupa untuk mencari sisi positif diri, berkembang, dan menemukan kebahagiaan. Mereka terkungkung oleh rasa benci layaknya sebuah besi berat yang terus bercokol di kakinya; menghalangi langkah kaki untuk maju dan berkembang dalam sukacita. Semtara Yesus adalah gambaran tentang kemerdekaan; Ia merdeka dari rasa benci, merdeka dari keinginan untuk memojokan orang lain, dan merdeka dari perasaan untuk selalu dihargai dan diikuti, Yesus merdeka karena Ia memilih untuk itu. Semoga walau dalam situasi pandemic, dimana semua hal menjadi begitu terbatas dan penuh dengan kewaspadaan untuk saling menjaga; kita tetap bisa merdeka karena senyatanya merdeka adalah tentang pilihan, bukan tentang situasi atau lingkungan semata.