BERIMAN DAN TERUS BELAJAR

BERIMAN DAN TERUS BELAJAR

Senin, 12 Oktober 2020

Lukas 11:29-32
Para tua-tua bangsa Yahudi meminta tanda atau bukti kepada Yesus. Mereka
tidak akan bisa melihat tanda, jika mereka belum membuka hati dan percaya kepada
Yesus Kristus. Oleh karena itu suatu yang menyedihkan dan jahat karena mereka telah
menerima banyak namun tetap menolak. Karena hati mereka masih belum terbuka,
maka tidak ada tanda yang cukup yang bisa membuat mereka percaya. “Angkatan ini
adalah angkatan yang jahat. Mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi
Yunus.”(Luk 11:29).
Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan
hidupnya. Oleh karena itu, jika seseorang menjawab panggilan Tuhan, ia pertama-tama
memiliki landasan, yaitu percaya kepada-Nya. Ketika seseorang percaya maka rahmat
keselamatan berkarya dalam hidup seseorang, sehingga setiap peristiwa yang terjadi
menjadi tanda kehadiraan Tuhan yang sedang menyapa. Sebaliknya jika seseorang ragu
atau bahkan tidak percaya, maka apapun yang telah dilakukan Tuhan, tidak akan ada
artinya. “ Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah berilah dirimu
dibaptis, dan dosa-dosamu disucikan, sambil berseru kepada nama Tuhan.”(Kis 22:16).
Orang yang sungguh percaya tidak sama dengan orang yang beragama. Lamanya
seseorang menjadi Katolik belum menjamin seseorang bisa sungguh percaya kepada
Kristus. Mengapa bisa demikian? Karena bisa saja seseorang mengaku sebagai Katolik
atau murid Kristus, namun cara hidupnya tidak menyerupai Kristus. Sebaliknya
seseorang dikatakan sungguh percaya, ketika ia berani meninggalkan cara hidup yang
jahat, dan memilih hidup secara benar, jujur, adil, rendah hati dan penuh kemurahan.
Orang-orang yang demikian, bisa jadi sebagai orang-orang muda atau belum lama
dibaptis yang memiliki semangat melayani Tuhan dalam diri sesama dan yang kreatif
mengembangkan dan mewartakan iman di kalangan orang-orang di jaman melenial ini.
“Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir
akan menjadi yang terdahulu.”(Mat 19:30).
Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana seseorang yang telah
dibaptis, mau mengembangkan imannya. Jika seseorang malas dan tidak tekun
menghanyati dan mengembangkan imannya, ia seperti mengubur iman tersebut,
sehingga imannya tidak berdampak dalam kata dan tingkah-lakuknya. Sebaliknya
seseorang yang mau terus belajar, walaupun jatuh-bangun dan tidak putus asa untuk
belajar berbenah diri, maka ia akan melipatgandakan imannya dalam karya-karya yang
nyata. “Sebab itu ambilah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang
mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan
diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga
yang ada padanya akan diambil dari padanya.”(Mat 25:28-29).
Paroki St Montfort Serawai, ditulis oleh Rm. Aloysius Didik Setiyawan, CM

Comments are closed.
Translate »