TIDAK MELUPAKAN PENCIPTANYA

TIDAK MELUPAKAN PENCIPTANYA

Sabtu, 17 Oktober 2020

Lukas 12:8-12

Ketika seseorang berdiri disuatu tempat sudah selayaknya seseorang sadar ia ada di mana, demikian jika seseorang menyadari bahwa ia hidup, ia akan melihat dimana ia hidup. Ia sedang hidup di bumi dan pertanyaan berikutnya siapa yang memberi hidup? dan seandainya tidak hidup, ia ada dimana? Semakin seseorang bisa melihat keberadaan dirinya, maka orang tersebut akan mengetahui bahwa hidup adalah sesuatu yang nyata dan betapa berharga hidupnya.  Kemudian, ia tidak akan menyia-yiaan waktu yang ada. Ia juga akan mencari jawaban; siapakah yang memberi kesempatan untuk hidup? Sesuatu yang nyata bahwa ia hidup, maka hal nyata juga bahwa ada kekuatan yang telah menciptakannya dan menjadi sumber hidup. Jika seseorang tidak mengakui sang pencipta, ia sama dengan orang yang tidak mengakui dan menyadari bahwa ia ada dan nyata di dunia ini. 

Apakah pantas jika seseorang yang telah diberi secara cuma-cuma dan kemudian ia tidak berterima kasih kepada yang memberi, bahkan ia tidak mengakui dan tidak menpercayai-Nya?  Hidup diberikan secara cuma-cuma oleh Allah Bapa Sang Pencipta kepada manusia. “Sebuhkanlah orang sakit, bangkitkanlah orang mati, tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah juga dengan cuma-cuma.”(Mat 10:8). Orang yang sadar bahwa hidup adalah anugerah Allah, ia akan selalu ingin dekat dan bersama dengan Allah pencipta. Dosa yang tidak bisa diampuni adalah menghujat Roh Kudus, yaitu saat seseorang dengan sadar tidak mengakui kebedaraan-Nya. Dengan tidak mengakui-Nya, sama dengan ia tidak menghendaki untuk menerusakan hidupnya, suatu putus-asaan yang akut. ‘Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.”(Luk 12;10). Pengampunan tidak bisa terjadi jika seseorang tidak percaya adanya pengampunan dari Allah Bapa.  

Manusia dengan kecerdasaanya, bisa membuat banyak alat-alat teknologi yang canggih sehingga banyak hal bisa didapat dengan mudah dan cepat. Semua itu bisa terjadi karena manusia masih bisa bernafas dan bisa mengunakan akal budinya yang cerdas. Semua tidak terwujud, jika manusia tidak hidup lagi atau mati.  Artinya, manusia sekalipun bisa membuat banyak hal, tetapi ia tetaplah ciptaan yang memiliki keterbatasan, sehingga ia tetap tidak bisa hidup tanpa Alllah Bapa. Manusia bisa membuat robot yang pintar, tatapi manusia tidak bisa membuat “nyawa/roh” nya sendiri.  Oleh karena itu, tidak ada alasan yang membuat seseorang bersikap sombong dengan apa yang dimiliki, karena semua terjadi karena kemurahan dari Allah Bapa.

Apakah ketika  dunia semakin maju, modern, dan pada waktu bersamaan juga dibarengi dengan kemajuan hidup rohani atau kedekatan dengan Allah Bapa?  Ataukah sebaliknya kehidupan rohani semakin tergeser? Banyak nilai-nilai kehidupan; solidaritas, persaudaraan, kesabaran, kejujuran, dan kesetiaan semakin meredup karena terlindas oleh hingar-bingar hasrat manusia untuk menikmati kepuasan dan kenyamanan diri sendiri.  Tanda yang lain bahwa manusia melupakan Allah adalah sulitnya untuk bersyukur dan terus merasa kurang. Ketika seseorang semakin menarik semua kepada dirinya sendiri, ia akan terus merasa kurang. Sebaliknya jika seseorang semakin banyak bersyukur dan dengan murah hati berbagi, ia akan kaya dengan damai dan suka cita. “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.”(Amsal 11:24).

                                            Paroki St. Montfort Serawai, ditulis oleh Rm Aloysius Didik Setiyawan, CM

Comments are closed.
Translate »