Yang Tak Pernah Hilang, Hanya Belum Disadari

Yang Tak Pernah Hilang, Hanya Belum Disadari

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Yohanes 15:1–8

Pada tanggal 24 Juli 1911, dunia luar untuk pertama kalinya mendengar nama Machu Picchu, sebuah kota peninggalan Inka yang megah dan tersembunyi di antara kabut pegunungan Cusco. Sejak saat itu, Machu Picchu menjadi simbol keajaiban budaya dan spiritualitas Andes. Namun bagi penduduk lokal, tempat itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan kolektif, dalam langkah-langkah para petani dan peziarah yang melintasi jalur gunung setiap hari. Yang ditemukan kembali bukan sekadar reruntuhan, tetapi sebuah kehadiran yang telah lama ada, namun belum diakui.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Akulah pokok anggur yang benar… Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ini bukan ajakan untuk mencari sesuatu yang jauh, tetapi untuk menyadari kembali bahwa kita sudah terhubung dengan sumber hidup itu. Persatuan antara ranting dan pokok bukan sesuatu yang perlu diupayakan secara paksa—ia sudah ada. Yang sering hilang bukan ikatan itu, tetapi kesadaran kita akan kehadirannya.

Kita seperti orang-orang yang berdiri di kaki Machu Picchu, tetapi tertutup kabut. Kita hidup di dekat sumber, namun sibuk mencari di tempat lain. Kita ingin berbuah, namun lupa untuk tinggal. Padahal ranting tidak menghasilkan buah dengan usaha keras, melainkan dengan tetap menyatu dengan pokoknya. Hidup yang berbuah adalah hidup yang hadir, yang sadar, yang terbuka terhadap aliran kasih yang tak pernah berhenti dari Sang Pokok Hidup.

Buah bukan hasil dari ambisi rohani. Ia muncul dari hidup yang utuh, dari seseorang yang tidak terbagi antara dunia dan doa, antara relasi dan ibadah, antara batin dan tindakan. Seperti Machu Picchu yang berdiri tenang di antara kabut selama ratusan tahun, hidup yang terhubung dengan pokok tidak tergesa membuktikan apa-apa—ia cukup ada, cukup hadir, dan dari kehadiran itu, muncul kekuatan yang menghidupkan.

Yesus tidak menyuruh kita untuk berprestasi rohani, tetapi untuk tinggal. Tinggal bukan berarti pasif, tapi berarti menyatu. Tidak terbagi. Tidak terseret ke sana kemari oleh penilaian, keinginan, atau pencitraan. Karena hanya dari tempat itu, buah yang sejati akan muncul—bukan sebagai hasil kerja keras, tetapi sebagai pancaran dari hidup yang terhubung.

Maka seperti Machu Picchu yang ditemukan kembali setelah lama tersembunyi, hari ini kita pun diajak untuk menemukan kembali kehadiran Tuhan yang telah lama diam di dalam hidup kita. Bukan dengan mendaki ke puncak, tetapi dengan diam, tinggal, dan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah. Dan dari situ, kasih akan tumbuh. Diam-diam. Tapi nyata.

Bertumbuh dalam misteri Paskah

Bertumbuh dalam misteri Paskah

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Pesta St. Maria Magdalena

Yoh 20:1.11-18

Selasa, 22 Juli 2025

Kita pasti menegnal peribahasa “air susu dibalas air tuba”, kebaikan dibalas dengan kejahatan atau perbuatan baik kepada seseorang dibalas dengan perbuatan jahat. Hal semacam ini sering terjadi di antara manusia. Namun tidak demiakian di dalam Allah. Kasih yang tulus dan total Maria Magdalena dibalas oleh Tuhan. Tangisan Maria Magdalena di makam kosong merupakan sebuah ungkapan rasa kehilangan, ungkapan kasih yang total kepada Yesus. Kasih yang total itu tidak dibatasi waktu, tidak dihalangi penderitaan pun kematian. Yesus pun menampakan diri bagaikan sebuah jawaban atas kasih Maria Magdalena. Perhatian yang diungkapkan-Nya dengan memanggil Maria dengan namanya [Yoh 20:16] membuat Maria segera mengenali panggilan itu berasal dari Tuhannya. Karena itu iapun segera menjawab “Guru!”. Pengenalan Kembali akan Yesus yang sengsara, wafat dan bangkit membuat Maria Magdalena dipenuhi semangat baru, diteguhkan imannya, dierkuat harapannya dan dimurnikan kasihnya. Maria Magdalena mengalami perkembangan iman yang luar biasa: dari belum mengerti dan belum percaya menjadi mengerti dan percaya sungguh. Karenanya Mariapun menjadi saksi kebangkitan Kristus. “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dialah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya [Yoh 20:18].

Apakah kita seperti Maria, mencari Yesus yang hidup di kubur kosong? Semoga pengalaman rohani Maria Magdalena sungguh meneguhkan iman kita bahwa Dia sudah bangkit dari kematian. Dia akan datang lagi untuk menjemput setiap orang percaya masuk dalam hidup yang kekal, sebagaimana difirmankan, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” [Yoh 14:1-3]. Jika Maria Magdalena diutus untuk jadi saksi dan pewarta kebenaran kebangkitan Tuhan, kita pun diutus menjadi saksi dan mewartakan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk memberitakan kebenaran tersebut

Mengasihi dan mengimani Tuhan bukanlah soal mengucapkan “aku percaya” semata, melainkan butuh sikap tulus dan total. Iman, kasih dan harapan harus tampak dalam pengalaman hidup, khususnya dalam setiap penderitaan dan kesulitan. Kesetiaan mengasihi Tuhan dalam penderitaan akan mendapatkan balasan dari pada-Nya. Semoga pengalaman rohani St. Maria Magdalena menginspirasi kita.

Translate »