RENUNGAN 20 MARET 2025

RENUNGAN 20 MARET 2025


Yer 17:5-10; Luk 16: 19-31

Saudara saudari terkasih, kita sampai di hari ke enam belas masa Prapaskah. Ajakan pembaharuan diri, rekonsiliasi, belaskasih, kemurahan hati, pertobatan dan perdamaian sangat kuat gemanya di Tahun Yubileum Peziarah Pengharapan. Sebuah sikap yang mengantar kita pada pengosongan diri, melepaskan diri dari segala hal yang digenggam erat selama ini. Terkadang membuat kita merasa aman dan nyaman, dan kita merasa gelisah di saat lepas dari situasi itu.

Bacaan Injil hari ini diawali percakapan Bapa Abraham dengan pengemis bernama Lazarus dan seorang kaya. Lazarus seorang pengemis pada saat masih hidup di dunia ada dalam penderitaan berkepanjangan karena sakit badannya penuh luka dan kelaparan. Ia tak mampu memenuhi standar hidup yang paling dasar untuk dapat bertahan hidup. Di sisi lain ada seorang kaya yang hidup bersukaria dalam kemewahan. Ia tak berkekurangan apapun, segalanya tersedia baginya. Lazarus sering menunggu remah-remah makanan dari orang kaya tersebut, tetapi tidak pernah ia mendapatkan remah-remah roti.

Di alam maut, kehidupan berbalik keadaannya. Lazarus ada dalam pangkuan Bapa Abraham dan bersukacita. Sedangkan orang kaya itu ada dalam penderitaan. Dua sisi yang bertolak belakang sering terjadi dalam kehidupan ini. Kaya-miskin, sehat-sakit, untung-malang, suka-duka, laba-rugi, positif-negatif. Setiap orang tentu harapannya ada dalam situasi yang baik, positif, dan bahagia. Tidak ada orang yang siap sedia menanggung derita hidup.

Ketika kita ada dalam sukacita senang, ingatlah pada saat kita dalam dukacita susah. Sehingga kita tidak terlalu larut dalam euphoria. Demikian juga sebaliknya. Kehidupan silih berganti, datang dan pergi dengan berbagai suasana situasi kondisi yang dialami. Kita diajak dan diarahkan terus menerus membaharui diri, berdamai dengan keadaan dan diri sendiri, berbelaskasih dan bermurah hati terhadap sesama saudara saudari. Di saat kita ada dalam derita, kita membutuhkan orang lain untuk berdoa bagi Kesehatan, berdoa untuk pemulihan hidup yang sedang kita alami. Di saat kita ada dalam senang, kita diajak untuk berbagi kepada saudara lainnya. Tuhan menitipkan sebagian dari milik kita untuk dibagikan kepada lainya.
Seorang kaya mendapatkan hukuman setimpal bukan karena kekayaannya, melainkan karena ia tidak memiliki sikap berbagi pada saudara yang menderita, lemah, tersingkir, kecil tak berdaya. Kekayaan menutup dia semakin menutup diri, hanya memikirkan dirinya. Kemurahan hati dan belaskasih membuat orang punya sikap terbuka pada kesulitan saudaranya.

Andalan hidup kita adalah Tuhan Yesus, bukan pada harta benda. Ingatlah nubuat nabi Yeremia,”Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatan sendiri, dan yang hatinya menjaduh dari Tuhan! Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!”

Semoga Tuhan semakin mengubah diri kita dan memberkati segala niat baik di masa Prapaskah.
(rm. Medyanto, o.carm)

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan

Renungan: Kesederhanaan yang Membebaskan


Romo Agung Wahyudianto O.Carm

(Refleksi berdasarkan Matius 1:16,18-21,24a Pesta santo Yoseph, 19 maret 2025)

Di paroki tempat saya bertugas di Peru, pastor paroki kami bernama Jorge Villegas, tetapi hampir semua orang memanggilnya Padre Pepe. Nama ini terasa sangat cocok untuknya, bukan hanya karena tradisi di Peru di mana banyak José atau Jorge dipanggil “Pepe”, tetapi juga karena ia benar-benar mencerminkan semangat Santo Yosef—hidup dalam kesederhanaan yang tulus. Pakaian yang ia kenakan hampir tidak pernah berubah, seolah-olah ia hanya memiliki dua atau tiga setel yang dipakai bergantian. Kemana-mana, ia lebih memilih berjalan kaki atau naik kendaraan umum daripada mencari kenyamanan dengan kendaraan pribadi. Hidupmya jauh dari kontaminasi , tiktok dan social media lain yang akhir akhir ini juga dimintai para imam. Tidak ada kemewahan dalam hidupnya, tetapi justru dalam kesederhanaannya itu, ada sesuatu yang dalam, sesuatu yang memberi ketenangan bagi siapa pun yang bertemu dengannya.

Dalam Injil hari ini, kita melihat bagaimana Santo Yosef menghadapi kenyataan yang sulit dipahami. Maria, tunangannya, mengandung oleh Roh Kudus. Dalam kebingungan dan mungkin kegelisahan, Yosef tidak bertindak dengan tergesa-gesa. Ia tidak menuntut penjelasan lebih lanjut atau mencoba mengendalikan situasi. Sebaliknya, ia diam, mendengarkan, dan akhirnya menerima. Ia tidak memerlukan kepastian absolut untuk melangkah. Dalam keterbukaannya, ia membiarkan hidup mengalir sebagaimana mestinya.

Santo Yosef, seperti Padre Pepe, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak datang dari memiliki banyak pilihan, tetapi dari kesediaan untuk menerima apa yang ada tanpa menuntut lebih. Dunia modern sering mengajarkan bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin kita merasa aman. Tetapi sering kali, justru dalam kesederhanaan, kita menemukan sesuatu yang lebih mendalam—kedamaian yang tidak tergantung pada benda atau status, tetapi pada kesadaran bahwa kita sudah cukup.

Di Peru, setiap 19 Maret, mereka yang bernama José, Josefina, atau Pepe menerima ucapan selamat, bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya karena mereka memiliki nama itu. Ini mengingatkan bahwa ada hal-hal dalam hidup yang tidak perlu diperjuangkan atau dibuktikan. Seperti nama yang diberikan tanpa usaha, keberhargaan kita juga tidak tergantung pada pencapaian. Santo Yosef mengajarkan bahwa hidup tidak perlu selalu dikendalikan, karena dalam keheningan dan penerimaan, ada kebebasan yang sejati.

Mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar menjalani hidup, atau masih sibuk mempertahankan sesuatu yang tidak perlu? Seberapa sering kita merasa harus terus membuktikan diri, padahal sesungguhnya kita sudah cukup? Yosef tidak mencari pengakuan, tidak mengejar kepastian yang sempurna, tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia menemukan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Seperti Padre Pepe yang menjalani hari-harinya dengan ringan, tanpa banyak beban atau kepentingan pribadi, kita pun diajak untuk berjalan dalam hidup dengan lebih sederhana. Tidak berarti kita harus memiliki sedikit barang atau membatasi diri dari kenyamanan, tetapi lebih kepada sikap batin—bersedia menerima apa adanya, tanpa terus-menerus menuntut lebih. Sebab dalam kesederhanaan itulah, kita menemukan bahwa segala yang kita cari sebenarnya sudah ada di sini.

Berintegritas

Berintegritas

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mat 23:1-12

Selasa, 18 Maret 2025

Kita tentu tidak asing dengan kata “Integritas”. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin  “integer” yang artinya utuh dan lengkap. Integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh antara yang dikatakan dengan yang dilakukan. Integitas juga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Dengan kata lain, berintegritas berarti bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut entah kode etik di tempat kerja, nilai masyarakat atau nilai moral pribadi. Integritas mencerminkan seseorang yang transparan, bertanggungjawab, dan objektif.

Yesus mengajar dan mengajak para murid dan siapapun untuk menjadi pribadi yang berintegitas. Pengajaran-Nya dimulai dengan peringatan penting, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu lakukanlah dan peliharalalah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka” [Mat 23:2-3]. Peringatan tersebut menegaskan bawa para ahli Taurat dan orang Farisi tidak berintegritas. Sebab mereka mengajarkan tetapi tidak melaksanakan apa yang mereka ajarkan. Yesus mengecam sikap mereka yang suka menindas dan memperbudak orang lain demi keuntungan dan kepentingan mereka sendiri, ” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.” [Mat 23:23-24]. Selanjutnya Ia meminta para murid dan mereka yang mendengarkan pengajaran-Nya agar hidup dalam semangat kasih, adil dan bersaudara, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga” [Mat 23:8-9].

Bagi Yesus kehormatan, kebesaran seseorang tidak terletak pada kuasa atau jabatan, melainkan pada pelayanan yang tulus, yang dilandaskan pada sikap rendah hati sebagaimana difirmankan, “Siapa saja yang  terbesar di antara kamu haruslah jadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan dirinya, akan direndahkan, dan siapa saja yang merendahkan dirinya, akan ditinggikan.” [Mat 23:11-12]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai pribadi-pribadi berintegritas, yang melayani sesama dengan tulus dan rendah hati.  

Translate »