Kita diminta siap mengendalikan diri
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Matius 9:14-15
Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm
PUASA DAN MEMPELAI
Yesus berbicara tentang PUASA yang dikaitkan dengan MEMPELAI. Ketika mempelai itu ada bersama kita, puasa tidak berlaku. Yang ada hanyalah sukacita pesta. Begitu mempelai tidak bersama lagi, saat itulah diperlukan puasa. Bagaimana hal ini bisa dimaknai?
Lewat sabda hari ini, Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai mempelai laki-laki. Dan kita, umat-Nya adalah mempelai perempuan. Kita dan Yesus satu dalam kasih yang tak tergantikan. Kasih yang begitu mendalam seperti kasih suami dan istri.
Dengan gambaran ini, Yesus hendak menunjukkan hasrat cinta Allah yang ingin bersatu dengan manusia. Demikian halnya, dalam hati manusia tersemat cita-cita hidup rohani, yakni mencapai kekudusan, sehingga dipersatukan dengan Sang Mempelai.
Meski terdapat hasrat Allah dan juga cita-cita manusia, namun dosa telah menjadi penghalang yang memisahkan kedua hasrat itu. Rahmat Allah yang begitu besar tidak menembus hati nurani manusia. Bahkan, manusia sulit melihat kebaikan dan cinta Allah.
Di sinilah puasa ditempatkan. Untuk bisa merasakan getaran cinta Allah, manusia mesti dibebaskan dari dosa dan kesalahan. Berpuasa adalah cara jitu untuk kembali kepada Sang Mempelai dengan meninggalkan keterikatan akan dosa dan kecenderungan jahat.
Dengan cara pandang mempelai, berpuasa bukan semata-mata tidak makan dan tidak minum. Puasa adalah tindakan jasmani yang mengekspresikan olah rohani, agar bisa bersatu dengan Allah. Maka, puasa itu begitu ringan, indah, dan enak, karena kita sedang merindukan kesatuan dengan Sang Mempelai, yakni Allah.
Akhirnya, puasa bersentuhan erat dengan salib. Kita berpuasa seraya merenungkan salib atau bahkan belajar memikul salib. Karena dengan cara itu, kita akan semakin mengerti dan memahami betapa kuat-Nya cinta Allah, Sang Mempelai kepada kita.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Romo Agung Wahyudianto O.Carm
(Refleksi berdasarkan Matius 6:1-6,16-18, 5 maret 2025)
Di tengah kota Lima yang sibuk, masa Prapaskah membawa perubahan kecil yang terasa di banyak tempat. Restoran menawarkan lebih banyak menu tanpa daging, pasar-pasar lebih sering menjual ikan dan sayuran, dan keluarga-keluarga mulai menjalankan pantang dengan mengganti makanan mereka dengan sesuatu yang lebih sederhana, seperti “sopa de lentejas” atau “chupe de pescado”. Namun, di balik semua ini, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah puasa hanya tentang makanan, atau ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu kita sadari?
Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa puasa bukanlah soal bagaimana orang lain melihat kita, tetapi tentang bagaimana kita hadir dalam keheningan bersama Tuhan. Ia menegur mereka yang berpuasa untuk mendapat pujian, seolah-olah pengorbanan mereka adalah sesuatu yang perlu diakui oleh dunia. Tetapi dalam keheningan, dalam ketidaktampakan, ada sesuatu yang lebih sejati yang dapat ditemukan. Puasa bukanlah sekadar ritual, tetapi undangan untuk melihat lebih dalam ke dalam diri—untuk menyadari apa yang benar-benar menggerakkan kita, apa yang kita genggam erat, dan di mana kita sering terjebak dalam permainan ego.
Di Lima, di mana kehidupan perkotaan bergerak cepat, banyak orang menjalankan puasa sebagai bagian dari kebiasaan tahunan. Namun, apakah puasa hanya tentang mengganti daging dengan ikan, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi dalam diri kita? Ketika kita berhenti sejenak dari pola makan biasa, apakah kita juga berhenti sejenak dari pola pikir yang reaktif, dari dorongan untuk terus mengejar sesuatu, dari kebiasaan untuk selalu mempertahankan citra diri? Apakah puasa membantu kita mengenali bahwa banyak dari keputusan dan tindakan kita didorong oleh sesuatu yang lebih dalam, yang sering kali tidak kita sadari?
Yesus mengundang kita untuk masuk ke dalam ruang batin di mana tidak ada lagi kepalsuan—di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, di mana kita tidak perlu mempertahankan sesuatu yang sebenarnya rapuh. Dalam keheningan itulah kita menemukan bahwa puasa bukan sekadar tentang mengurangi sesuatu, tetapi tentang mengalami ruang yang lebih luas di dalam diri kita, ruang yang tidak lagi dikendalikan oleh dorongan ego yang ingin selalu memiliki, mengontrol, atau diakui.
Mungkin ini adalah tantangan terbesar dalam berpuasa: bukan menahan lapar, tetapi menahan dorongan untuk terus mempertahankan ilusi tentang siapa kita. Ketika kita melepaskan keterikatan itu, kita menyadari bahwa kita tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, kita menemukan sesuatu yang lebih besar—sebuah kesadaran yang jernih, kehadiran yang utuh, dan kebebasan untuk hidup tanpa dikendalikan oleh hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai diri kita.
Masa Prapaskah bukan hanya tentang kepatuhan pada aturan, tetapi tentang perjalanan menuju kesadaran yang lebih dalam. Saat kita berpuasa, mari kita bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita lepaskan? Apa yang masih kita pertahankan karena takut kehilangan? Seberapa sering kita membiarkan diri kita diperbudak oleh keinginan yang sebenarnya tidak mendefinisikan siapa kita? Ketika kita berani memasuki keheningan tanpa mencari pengakuan, kita akan menemukan bahwa puasa bukan lagi beban, tetapi jalan menuju kebebasan yang sejati.