Kita ada tercipta oleh sabdaNya yang kudus
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Pesta Keluarga Kudus [C]
29 Desember 2024
Lukas 2:41-52
Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?
Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.
Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.
Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.
Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan-pertanyaan panduan:
Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?
Fr Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Agustinus Sutiono O.Carm
Today we celebrates the Feast of the Holy Innocents. Mostly below the age of two years old, those young children and infants were victims of the greed and ego of King Herod the Great. This was done because he was afraid of the threat that the newborn ‘King of the Jews’ prophesied by the prophets and messengers of God presented against him and his rule. Trying to find ways to prevent this newborn King from overcoming his and his family’s rule, he desperately launched that massacre against his own people. What an egoism! What a paranoid! His love for power and ambition to sovereign took away his mind. His tittle, Herod the great iself showed how he was a megalomaniac, meaning someone who has obsession with the exercise of power, or someone with delusional belief that he is important, powerful or famous. It is a form of mental disorder.
Why is it that God permitted such atrocities to happen such as what happened in the massacre of the Holy Innocents of Bethlehem, as well as in many other dark moments in our human history? Some of us certainly would have criticised the Lord, thinking that God could have intervened and stopped all those atrocities and evils from happening. But this is where we have to understand and realise that God has given us the free will and the freedom to choose our course of action in life. The many sufferings that we often suffer from and encounter in this world, they all came from our abuse of our privileges, freedom and choices, as instead of choosing the better and righteous path, we often chose the path of pleasure and corruption, allowing sin and the temptations for it to mislead us down this path of destruction and ruin.
To commemorate this Feast of the Holy Innocents of Bethlehem, we are reminded to be vigilant so that we do not easily end up falling into the temptations to sin and to give in to our fears, our desires and ambitions, our pursuits for worldly glory and renown, just as King Herod had experienced. May the Lord continue to help us to remain firmly focused on Him, and to be truly committed to a life of virtue and compassionate care for others as we continue to progress through this joyful season of Christmas, and share our Christmas joy to everyone around us, resisting the temptations of pleasure and hedonism, and striving instead to seek the true heavenly treasure that can be found in God alone. Amen.