Posted by admin on January 12, 2026
Posted in renungan |
Rm Ignasius Joko Purnomo
Markus 1:21b-28
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Injil menceritakan kepada kita bahwa pada suatu malam Sabat Yesus masuk ke dalam rumah ibadat di Kapernaum dan mengajar di sana. Seperti biasa, setiap kali Yesus mengajar, orang-orang takjub mendengar pengajaran Yesus. Mereka terkesima karena Yesus mengajar dengan penuh wibawa, bukan seperti ahli Taurat. Namun tiba-tiba, seorang yang kerasukan roh jahat berseru: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah!”
Kehadiran orang yang kerasukan roh jahat itu pasti cukup mengganggu mereka yang sedang mendengarkan pengajaran Yesus dengan penuh perhatian. Dan yang mengejutkan adalah bahwa roh jahat mengenal Yesus! Ia tahu siapa Yesus sebenarnya – “Yang Kudus dari Allah.” Tapi meskipun tahu, roh jahat tidak mau taat. Ia tahu kebenaran, tapi menolaknya. Ia mengenali Yesus, tapi tidak mencintai-Nya. Dan di sinilah muncul pertanyaan bagi kita: Apakah aku sungguh mengenal Yesus, atau hanya tahu tentang-Nya? Jujur, banyak orang Kristen, mungkin termasuk kita sendiri, tahu banyak tentang Yesus. Kita hafal doa Bapa Kami, bisa mengutip ayat Injil dengan begitu mudah, tahu kisah Natal dan Paskah. Kita mungkin aktif di Gereja, melayani di lingkungan, mengikuti misa setiap minggu. Tapi apakah semua itu berarti kita sungguh mengenal Dia secara pribadi? Mengenal Yesus bukan soal pengetahuan, tapi soal relasi. Sama seperti kita bisa tahu banyak tentang seorang tokoh terkenal – presiden, selebritas, atau santo pelindung kita – tetapi belum tentu kita mengenal mereka secara pribadi. Begitu pula dengan Yesus. Mengenal Yesus berarti membuka hati kita untuk hidup bersama Dia, berbicara dengan-Nya dalam doa, mendengarkan Dia melalui Sabda, dan menyesuaikan langkah hidup kita dengan jalan-Nya. Roh jahat tahu bahwa Yesus adalah “Yang Kudus dari Allah”, tetapi tetap melawan Dia. Artinya, pengetahuan tanpa ketaatan adalah sia-sia. Yesus tidak mencari orang yang hanya tahu siapa Dia, tetapi orang yang mau mengikuti-Nya dengan iman yang hidup.
Saudara-saudari terkasih. Roh jahat mengenali Yesus tetapi tidak mengalami kasih-Nya. Sebaliknya, para murid mengenal kasih Yesus dan diubah oleh-Nya. Inilah yang membedakan pengetahuan yang mati dengan pengenalan yang hidup. Ketika kita mengenal Yesus secara pribadi, kita akan berubah: dari ketakutan menjadi keberanian, dari kebencian menjadi kasih, dari keputusasaan menjadi pengharapan. Yesus ingin agar kita tidak hanya tahu siapa Dia, tetapi juga mengalami kuasa kasih-Nya yang membebaskan. Maka, hari ini, marilah kita bertanya dalam hati: “Apakah aku hanya tahu tentang Yesus, atau aku sungguh mengenal Dia? Apakah aku sekadar mendengar firman-Nya, atau sudah membiarkan firman itu menyentuh dan mengubah hidupku?” Jika selama ini Yesus masih terasa jauh, mungkin karena kita belum sungguh membuka hati untuk mengenal Dia dalam keheningan doa, dalam sabda-Nya, dan dalam sesama yang menderita. Yesus tidak ingin hanya dikagumi. Ia ingin dikenal, dicintai, dan diikuti.
Saudara-saudari terkasih. Marilah hari ini kita mohon rahmat kepada Tuhan,
agar kita tidak sekadar tahu banyak tentang Yesus, tetapi sungguh mengenal Dia sebagai Sahabat, Guru, dan Penyelamat hidup kita. Semoga setiap kali kita mendengarkan sabda-Nya dan menyambut-Nya dalam Ekaristi, kita semakin mengenal-Nya dengan hati yang mencintai, bukan hanya dengan kepala yang tahu. Semoga Tuhan memberkati kita semua.