Sabtu Pekan Biasa XX

Sabtu Pekan Biasa XX

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
22 Agustus 2026
Yeh 43: 1-7 + Mzm 85 + Mat 23: 1-12

Lectio
Suatu hari berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”.

Meditatio
Salah satu kemunafikan kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat yang diputar balik orang jaman ini adalah perihal duduk di tempat terdepan di rumah ibadat. Banyak orang malahan tidak mau duduk di bangku-bangku bagian depan dengan alasan tidak mau bersikap seperti kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat. Namun mereka tetap dikecam oleh Yesus, karena memang mereka tidak sepenuh hati untuk berdoa dan memuji Tuhan dalam gerejaNya yag kudus. Bukan kerendahanhati yang mereka tunjukkan dengan mencari duduk di bangku bagian belakang, sebaliknya kemalasan dan kesombongan diri yang mereka suarakan tanpa kata-kata. Mereka bukannya duduk manis dalam gereja, malahan nongkrong, dan menyempatkan diri bermain gadget di dalam gereja. Inilah kemunafikan kaum Farisi yang diputar-balik oleh orang-orang jaman ini. Apakah dosa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mendapatkan pengampunan karena pemutarbalikan ini?
Ada banyak orang pun enggan disebut rabi, bapa ataupun pemimpin, karena memang harus disertai dengan komitmen tinggi, tetapi tak dapat disangkal banyak orang beseru lihat aku, keren kan saya, tetapi tanpa menggunakan kata-kata; caranya dengan foto selfi. Kebanggaan diri tidaklah boleh diabaikan, sebagai tanda percaya diri, tetapi tentunya mampu menempatkan diri di mana seseorang berada. Apakah dosa kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat semakin diperberat, karena memberi contoh yang kurang baik bagi banyak orang?
Pada hari Sabtu ini kita Gereja diajak menghormati Maria Ratu. Dia tidak mencari kedudukan, tetapi Maria sada sungguh bahwa Allah memperhatikan kerendahan hambaNya. Maria meminta kita untuk bersikap sebagai hamba Tuhan yang siap sedia melakukan kehendakNya.

Oratio
Yesus Kristus, kami mohon pengampunan daripadaMu, karena kami sering berpura-pura dalam hidup. Kami benar-benar munafik. Ampunilah dosa kami, dan ajarilah kami untuk selalu berkata-kata dan bertindak benar.
Santa Maria, Raru surge, doakanlah kami. Amin.

Contemplatio
‘Hanya satu rabimu dan kamu semua adalah saudara’.

RENUNGAN: 18 Agustus 2026

RENUNGAN: 18 Agustus 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 19:23-30

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan sesuatu yang cukup keras: “Alangkah sukarnya seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Sabda ini mungkin membuat kita bertanya: apakah menjadi kaya itu salah? Apakah memiliki harta berarti kita jauh dari Kerajaan Allah?

Tentu bukan itu maksud Yesus. Kekayaan bukanlah dosa. Harta, pekerjaan, jabatan, kemampuan, dan berbagai keberhasilan dalam hidup pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika hati kita terikat pada semua itu, sampai-sampai kita tidak lagi menjadikan Allah sebagai yang utama. Karena itu, persoalannya bukan pertama-tama berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa kuat kita terikat pada apa yang kita miliki. Kita bisa memiliki banyak harta, tetapi tetap dekat dengan Tuhan. Sebaliknya, kita mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi hati kita bisa sangat terikat pada uang, kenyamanan, gengsi, jabatan, keberhasilan, atau keinginan untuk dihargai orang lain. Maka pertanyaan penting bagi kita hari ini bukan hanya: “Apa yang saya miliki?” tetapi: “Apa yang menguasai hati saya?”

Saudara-saudari,

Kadang-kadang kita berpikir bahwa yang harus kita lepaskan hanyalah harta benda. Padahal, ada banyak hal lain yang bisa menjadi “harta” yang mengikat hati kita: ambisi pribadi, keinginan untuk selalu menang, sulit mengampuni, rasa gengsi, jabatan, popularitas, bahkan keinginan untuk mengendalikan hidup dan orang lain. Semua itu bisa menjadi penghalang bagi kita untuk sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Sebab mengikuti Kristus berarti memiliki hati yang bebas. Bebas bukan berarti tidak memiliki apa-apa, tetapi tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki. Yesus mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang ada pada kita pada adalah pemberian dan titipan Allah. Karena itu, kita tidak dipanggil untuk menjadi pemilik yang serakah, melainkan pengelola yang bertanggung jawab. Harta yang kita miliki, pekerjaan yang kita jalankan, jabatan yang dipercayakan kepada kita, pendidikan yang kita terima, kemampuan yang kita miliki—semuanya dapat menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan Allah. Di sinilah kita memahami bahwa kekayaan bukan hanya soal apa yang kita simpan untuk diri sendiri, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan bagi orang lain. Kalau Tuhan memberi kita rezeki lebih, mungkin Tuhan sedang mempercayakan kepada kita kesempatan untuk menolong mereka yang berkekurangan. Kalau Tuhan memberi kita kemampuan, mungkin Tuhan menghendaki agar kemampuan itu dipakai untuk melayani. Kalau Tuhan memberi kita jabatan atau tanggung jawab, mungkin Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk menghadirkan keadilan, kebaikan, dan kepedulian. Maka, orang yang kaya bukanlah hanya orang yang memiliki banyak. Orang yang sungguh kaya di hadapan Allah adalah orang yang mampu berbagi.

Saudara-saudari yang terkasih,

Yesus juga berkata, “Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Sabda ini mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan menurut dunia tidak selalu sama dengan ukuran keberhasilan menurut Allah. Dunia sering mengukur seseorang berdasarkan kekayaan, jabatan, prestasi, popularitas, dan pengaruhnya. Tetapi Tuhan melihat hati. Di hadapan Tuhan, mungkin orang yang sederhana tetapi setia, orang yang tidak dikenal tetapi suka menolong, orang yang tidak memiliki banyak tetapi rela berbagi, justru menjadi orang yang besar di hadapan-Nya. Karena itu, jangan sampai kita mengejar menjadi “yang terdahulu” menurut ukuran dunia, tetapi justru menjadi “yang terakhir” dalam kasih dan pelayanan. Pertanyaan yang perlu kita bawa pulang adalah: Untuk apa Tuhan memberikan semua yang saya miliki? Untuk apa saya memiliki uang? Untuk apa saya memiliki kemampuan? Untuk apa saya memiliki jabatan? Untuk apa saya memiliki kesempatan dan keberhasilan? Jawabannya bukan semata-mata untuk membuat hidup kita semakin nyaman, tetapi supaya melalui semuanya itu semakin banyak orang mengalami kasih Allah.

Saudara-saudari,

Benang merah Injil hari ini sederhana tetapi sangat dalam: mengikuti Kristus berarti membebaskan hati dari segala keterikatan dan menempatkan Allah sebagai yang terutama.

Kita tidak dipanggil untuk membenci harta atau menolak keberhasilan. Kita dipanggil untuk memastikan bahwa harta tidak menguasai kita. Kita boleh memiliki banyak, tetapi jangan sampai apa yang kita miliki menguasai hati kita. Sebab pada akhirnya, yang penting bukanlah berapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa bebas hati kita untuk mencintai Allah dan seberapa rela kita menggunakan apa yang kita miliki untuk melayani sesama. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak diperbudak oleh harta, jabatan, dan kepentingan diri. Sebaliknya, semoga semua yang Tuhan percayakan kepada kita menjadi jalan untuk berbagi, melayani, dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah kehidupan bersama.

Translate »