Minggu Prapaskah IA

Minggu Prapaskah IA


(Kej 2:7-9;3:1-7; Rom 5:12-19; Mat 4:1-11)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, masa Prapaskah yang baru saja kita mulai pada Rabu Abu yang lalu adalah sebuah perjalanan batin. Gereja menyebutnya sebagai masa tobat, tetapi sesungguhnya ia lebih dari sekadar penyesalan atas dosa. Prapaskah adalah undangan untuk kembali kepada sumber kehidupan. Dalam empat puluh hari ini kita diajak berpuasa, berdoa, dan beramal. Puasa melatih kebebasan hati agar kita tidak diperbudak oleh keinginan. Doa menata kembali arah hidup agar tetap tertuju kepada Allah. Amal membuka ruang kasih agar hidup kita tidak berpusat pada diri sendiri. Ketiganya bukan beban, melainkan jalan pulang menuju relasi yang lebih intim dengan Tuhan.
Injil hari ini dari Injil Matius mengisahkan Yesus yang dicobai di padang gurun. Padang gurun bukan sekadar tempat geografis; ia adalah simbol kesunyian, tempat seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri. Dalam kesunyian itu, suara hati menjadi lebih jelas terdengar, baik suara Tuhan maupun suara pencobaan. Setelah berpuasa empat puluh hari, Yesus mengalami lapar. Di saat itulah si penggoda datang. Pencobaan selalu muncul ketika manusia berada dalam keadaan rapuh. Namun justru dalam kerapuhan itulah kemurnian hati diuji.
Pencobaan pertama menyentuh kebutuhan paling mendasar, yakni roti. “Jika Engkau Anak Allah, jadikanlah batu-batu ini roti.” Jawaban Yesus tegas namun tenang, “manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Roti itu penting. Kita bekerja keras demi kebutuhan hidup, demi keluarga, demi masa depan. Namun ketika roti menjadi pusat segalanya, perlahan-lahan firman Tuhan tersingkir. Bacaan pertama dari Kitab Kejadian memperlihatkan bagaimana manusia pertama jatuh karena godaan yang berhubungan dengan makanan. Buah itu terlihat menarik dan sedap. Godaan itu sederhana, tetapi akibatnya mendalam, yakni relasi dengan Allah retak.
Dalam kehidupan modern, godaan itu hadir dalam bentuk yang lebih halus. Demi pekerjaan, orang merasa tidak punya waktu untuk berdoa. Demi keuntungan, orang menunda Ekaristi. Demi kesibukan, orang mengorbankan keheningan bersama Tuhan. Kita mungkin tidak mengubah batu menjadi roti, tetapi sering kali kita mengubah hari Minggu menjadi hari semata-mata untuk urusan duniawi. Yesus tidak menolak roti, tetapi Ia menempatkan roti pada tempatnya. Hidup jasmani penting, tetapi hidup rohani menentukan arah dan makna seluruh kehidupan. Seperti tubuh membutuhkan
makanan, jiwa pun membutuhkan firman. Tanpa firman, hati menjadi kering; tanpa doa, batin kehilangan daya.
Pencobaan kedua membawa Yesus ke bubungan Bait Allah. Ia diminta menjatuhkan diri agar malaikat-malaikat menyelamatkan-Nya. Di sini godaan berbicara tentang keinginan untuk membuktikan diri, untuk tampil spektakuler. Yesus menjawab, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu.” Allah tidak bekerja melalui sensasi dan pamer kuasa. Ia hadir dalam kesetiaan yang tersembunyi, dalam kasih yang tidak mencari tepuk tangan. Kita sering tergoda untuk meminta tanda yang luar biasa agar iman kita semakin kuat. Kita ingin Tuhan bertindak sesuai skenario kita. Padahal iman sejati bukanlah memaksa Tuhan membuktikan diri, melainkan percaya meski tidak selalu melihat.
Dalam kehidupan sehari-hari, keinginan untuk “melompat dari bubungan” itu dapat muncul sebagai hasrat untuk diakui, dipuji, dan dilihat. Ketika usaha kita tidak diperhatikan, hati menjadi kecewa. Ketika gagasan kita tidak diterima, semangat menjadi pudar. Dalam masa Prapaskah ini kita belajar untuk menjadi rendah hati. Seperti akar pohon yang tidak tampak namun menopang seluruh batang, demikian pula kesetiaan dalam hal kecil menopang kehidupan iman. Allah melihat apa yang tersembunyi. Dan sering kali justru di sanalah kemurnian kasih diuji.
Pencobaan ketiga mencapai puncaknya ketika iblis menawarkan seluruh kerajaan dunia asal Yesus mau menyembahnya. Di sini Yesus bersikap sangat tegas, “Hanya kepada Tuhan Allahmu engkau berbakti.” Inilah inti dari segala perjuangan rohani, yakni kepada siapa hati kita tertuju. Manusia sekarang mungkin tidak berlutut di hadapan berhala, tetapi bisa saja ia berlutut di hadapan uang, jabatan, gengsi, atau rasa aman yang semu. Kita bisa lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan kejujuran. Kita bisa lebih cemas kehilangan harta daripada kehilangan rahmat.
Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma membantu kita memahami kedalaman peristiwa ini. Melalui satu orang, yakni Adam, karena dosa masuk ke dunia dan merusak relasi manusia dengan Allah. Namun melalui satu orang pula, yakni Kristus, rahmat dicurahkan secara melimpah. Adam jatuh karena ketidaktaatan; Kristus menang karena ketaatan. Di padang gurun, Yesus seakan memperbaiki kembali sejarah manusia. Di tempat Adam gagal, Kristus setia. Di saat manusia memilih diri sendiri, Kristus memilih Bapa-Nya.
Kabar sukacita bagi kita adalah bahwa rahmat Kristus lebih besar daripada dosa manusia. Kita mungkin lemah dan jatuh dalam berbagai bentuk pencobaan, tetapi kita tidak ditinggalkan. Setiap kali kita memilih kejujuran di tengah tekanan, setiap kali kita tetap berdoa di tengah kesibukan, setiap kali kita berbagi di tengah kekurangan, kita sedang mengambil bagian dalam kemenangan Kristus. Prapaskah bukanlah tentang
kesempurnaan tanpa cacat, melainkan tentang kesediaan untuk terus kembali kepada Tuhan.
Saudara-saudariku terkasih, masa empat puluh hari ini adalah kesempatan untuk menata ulang prioritas hidup. Kita belajar menempatkan roti dan firman pada proporsinya. Kita belajar percaya tanpa menuntut tanda yang spektakuler. Kita belajar menyembah Allah saja dan tidak menjadikan apa pun sebagai tuan selain Dia. Jika kita melangkah dengan hati yang tulus, padang gurun tidak akan menjadi tempat yang menakutkan, melainkan ruang pemurnian. Dari padang gurun itulah Yesus keluar dengan kekuatan baru untuk mewartakan Kerajaan Allah. Semoga dari Prapaskah ini pun kita keluar dengan hati yang lebih jernih, iman yang lebih dewasa, dan kasih yang lebih dalam. Tuhan yang memulai karya baik dalam diri kita akan menyempurnakannya pula. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu sesudah Rabu Abu

Sabtu sesudah Rabu Abu

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
21 Februari 2026
Yes 58: 9-14 + Mzm 86 + Luk 5: 27-32

Lectio
Suatu kali Yesus berjumpa seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Meditatio
Berbuat baik. itulah tuntutan kepada setiap orang, terlebih kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan Allah. Kepada siapa kita harus berbuat baik? Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”. (Yes 58: 12). Penegasan Allah melalui Yesaya mengatakan, bahwa yang diperbaiki adalah tembok yang tembus, bukan tembok yang bagus; dan membetulkan jalan, agar sebuah lokasi dapat dinikmati banyak orang. Jadi memperbaiki sesuatu yang sudah rusak demi tujuan sebagaimana seharusnya.
Demikialah kedatangan Yesus Kristus. ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat’. Terlebih bila mengingat tujuan datang ke dunia adalah penyelamatan umat manusia, di mana semua orang diundang ambil bagian dalam karya penyelamatan itu. Orang yang mau tenggelamlah yang dibantu agar selamat, tidaklah demikian dengan mereka yang telah mampu berenang.
Amatlah salah kalau ada orang berkata: mari kita berdosa, agar kita menikmati panggilanNya. Bukankah Dia datang untuk memanggil orang berdosa? Salah, karena kita dengan berdosa secara sengaja itu berarti kita mencobai Tuhan, dan bahkan kita melarikan diri daripadaNya.

Oratio
Yesus Tuhan kami, Engkau memanggil dan memanggil kami agar kami mendengarkan suaraMu yang menyelamatkan itu. Engkau tidak memperhitungkan segala kelemahan dan dosa kami. Semoga kami semakin berani menikmati belaskasihMu yang menyelamatkan itu. Amin.

Cotemplatio
‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat’.

“Lihatlah ke Dalam!”

“Lihatlah ke Dalam!”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 20-02-2026

Injil Matius 9:14-15

          Selamat memasuki Masa Prapaskah! Selamat menjalankan pantang dan puasa! Selamat menikmati momen indah bersama momen berharga dalam kisah kasih Yesus Kristus! Inilah secuil ungkapan yang kerapkali mewarnai masa prapaskah dalam rutinitas tahunan perjalanan seorang beriman katolik. Puasa, pantang, doa, amal kasih, dan aneka olah rohani atau spiritual semakin ditekankan dan dijalani dengan porsi yang lebih serta khusus. Puasa, pantang, matiraga yang saya dan Anda lakukan bukan semata menjadi keharusan, kewajiban, atau rutinitas tahunan semata, tetapi menjadi saat untuk melihat ke dalam, bagaimana dan seperti apa saya memandang kisah hidup saya yang diwarnai dengan kejatuhan dalam dosa, penyesalan, dan pengharapan akan pengampunan Tuhan?

          Ada banyak pertanyaan, diskusi, dan tips praktis yang kita dapat temukan di aneka lini masa perihal bagaimana dan apa saja bentuk dari pantang dan puasa versi Katolik. Hal ini memang perlu untuk dipahami dan diupayakan. Satu hal yang kiranya harus saya dan Anda tanyakan yaitu mengapa dan untuk apa saya dan Anda menjalani pantang, puasa, matiraga, olah rohani, dan amal kasih kepada sesama?

          Hari ini Yesus memberikan satu pernyataan peneguhan kepada kita melalui warta Injil yang kita baca, dengarkan, dan renungkan. “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada wakatu itulah mereka akan berpuasa”. Apakah artinya untuk kita pernyataan ini? Kehadiran Yesus dalam hidup kita merupakan anugerah yang luar biasa. Kemudian, pantang dan puasa lahir dari kerinduan hati bukannya kewajiban dan keharusan agar tampak baik dan saleh di depan mata orang. Pantang dan puasa lahir dari kerinduan terdalam yang merasakan rindu akan Tuhan, atau merasa kehilangan Tuhan, atau sadar bahwa selama ini hidupku jauh dari Tuhan. Bukan sekadar tidak makan dan minum, tetapi membuka budi dan hati agar Tuhan berdiam mengubah dan mengarahkan kembali kompas hidup kita berjalan bersama Dia. Marilah kita sediakan ruang hening untuk Tuhan, tidak hanya berkutat pada Smartphone di tangan, notofikasi tanpa henti, scrolling tanpa sadar, atau pun ibadah sambil melirik layar. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Translate »