“DISIAPKAN UNTUK DISELAMATKAN”

“DISIAPKAN UNTUK DISELAMATKAN”

Jumat, 23 Januari 2026

Markus 3:13-19

Bacaan Injil hari ini mengisahkan momen krusial ketika Yesus naik ke atas bukit dan memanggil mereka yang dikehendaki-Nya untuk menjadi Dua Belas Rasul. Momen bukan sekadar penunjukan administratif, melainkan menjadi peristiwa transformasi hidup dan spiritual bagi setiap murid, termasuk saya dan Anda.

​1. Disiapkan: Dipanggil ke Atas Bukit

​Yesus memanggil mereka ke atas bukit, tempat yang sering melambangkan perjumpaan intim dengan Tuhan. Sebelum bekerja, murid-murid disiapkan secara mental dan spiritual. Menjadi murid Yesus dimulai dengan kesediaan untuk memisahkan diri dari keramaian dunia untuk mendengarkan suara-Nya.

​2. Dipilih: Berdasarkan Kehendak-Nya

​Pada ayat 13 dikatakan, “Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya.” Kita menjadi pengikut Kristus bukan karena kehebatan atau kelayakan kita, melainkan karena kehendak Tuhan sendiri. Kita dipilih secara personal dengan segala kelebihan dan kekurangan kita (seperti Petrus yang impulsif atau Simon orang Zelot yang radikal).

​3. Diutus: Membawa Terang ke Dunia

​Tujuan utama mereka dipanggil adalah untuk diutus memberitakan Injil (ay. 14). Menjadi murid bukan untuk kenyamanan pribadi, melainkan untuk sebuah misi ilahi. Kita diutus ke dalam keluarga, pekerjaan, dan lingkungan kita untuk membawa pesan kasih dan kebenaran melalui rutinitas keseharian kita.

​4. Diberkati: Dengan Kuasa dan Kehadiran

​Yesus tidak mengutus mereka dengan tangan kosong. Mereka diberkati dengan kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan (ay. 15). Berkat bagi seorang murid bukan selalu berupa materi, melainkan penyertaan Tuhan dan otoritas rohani untuk mengalahkan kegelapan di sekitar kita.

​5. Diselamatkan: Identitas Baru dalam Kristus

​Dalam daftar nama tersebut, Yesus memberikan nama baru (seperti Simon menjadi Petrus). Ini melambangkan bahwa mereka telah diselamatkan dan diubah identitasnya. Menjadi murid berarti meninggalkan hidup lama yang binasa dan mengenakan hidup baru yang memiliki kepastian keselamatan kekal.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

MAKNA SEBUAH PILIHAN

MAKNA SEBUAH PILIHAN

RENUNGAN LUBUK HATI
Kamis 22 Januari 2026
Hari Biasa, Pekan Biasa II
Markus 3:7-12

Rm. Ignatius Adam Suncoko

Di awal bacaan Injil hari ini, Yesus menarik diri bersama para murid-Nya ke Danau Galilea. Ia baru saja mengalami permusuhan dengan para pemuka agama dan orang Farisi. Setelah Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat di sinagoga, orang-orang Farisi bersekongkol dengan orang-orang Herodian melawan dia, dengan maksud untuk membunuhnya.

Rupanya kehadiran Yesus di Galilea ini, justru mendapat tanggapan yang baik yakni orang-orang Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, dari seberang sungai Yordan, daerah Tirus dan Sidon. Orang-orang dari berbagai daerah ingin berjumpa dengan Yesus. Mereka mencoba untuk menyentuhnya agar disembuhkan dari segala penyakit dan dibebaskan dari roh-roh jahat.

Kontras antara dua tanggapan terhadap Yesus menjadi sangat mencolok. Beberapa orang sangat benci dan ingin membunuh Yesus; disisi lain banyak orang mencintai dan ingin disembuhkan dari segala penyakit dan kerasukan roh-roh jahat. Setiap orang yang Yesus temui, ada yang menerima dan menolak. Dua sikap yang kontras dalam menanggapi tawaran keselamatan yang diberikan oleh Yesus. Bagi mereka yang menanggapi dengan hati dan jiwa menyesal dengan segala kelemahannya; maka rahmat keselamatan terjadi. Semoga kita dimampukan memilih tawaran keselamatan dari Tuhan sebagai kebutuhan dalam hidup kita. Kesadaran akan keterbatasan kita sebagai manusia akan membantu kita untuk membuka hati dan hidup kita. Kita yakin dan percaya karya-karya Tuhan yang terbaik sungguh terjadi dalam kita. Semoga! Tuhan memberkati.

Keselamatan Tuhan selalu ditawarkan
Orang bisa menolak atau menerimanya
Pilihan yang tepat akan menyelamatkan
Rasa syukur akan mengiringi hidupnya.

MAKNA SEBUAH PILIHAN

MAKNA SEBUAH PILIHAN

RENUNGAN LUBUK HATI
Kamis 22 Januari 2026
Hari Biasa, Pekan Biasa II
Markus 3:7-12

Di awal bacaan Injil hari ini, Yesus menarik diri bersama para murid-Nya ke Danau Galilea. Ia baru saja mengalami permusuhan dengan para pemuka agama dan orang Farisi. Setelah Yesus menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat di sinagoga, orang-orang Farisi bersekongkol dengan orang-orang Herodian melawan dia, dengan maksud untuk membunuhnya.

Rupanya kehadiran Yesus di Galilea ini, justru mendapat tanggapan yang baik yakni orang-orang Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, dari seberang sungai Yordan, daerah Tirus dan Sidon. Orang-orang dari berbagai daerah ingin berjumpa dengan Yesus. Mereka mencoba untuk menyentuhnya agar disembuhkan dari segala penyakit dan dibebaskan dari roh-roh jahat.

Kontras antara dua tanggapan terhadap Yesus menjadi sangat mencolok. Beberapa orang sangat benci dan ingin membunuh Yesus; disisi lain banyak orang mencintai dan ingin disembuhkan dari segala penyakit dan kerasukan roh-roh jahat. Setiap orang yang Yesus temui, ada yang menerima dan menolak. Dua sikap yang kontras dalam menanggapi tawaran keselamatan yang diberikan oleh Yesus. Bagi mereka yang menanggapi dengan hati dan jiwa menyesal dengan segala kelemahannya; maka rahmat keselamatan terjadi. Semoga kita dimampukan memilih tawaran keselamatan dari Tuhan sebagai kebutuhan dalam hidup kita. Kesadaran akan keterbatasan kita sebagai manusia akan membantu kita untuk membuka hati dan hidup kita. Kita yakin dan percaya karya-karya Tuhan yang terbaik sungguh terjadi dalam kita. Semoga! Tuhan memberkati.

Keselamatan Tuhan selalu ditawarkan
Orang bisa menolak atau menerimanya
Pilihan yang tepat akan menyelamatkan
Rasa syukur akan mengiringi hidupnya.

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Ketika Agama Kehilangan Tuhan

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 3:1-6

Rabu, 21 januari 2026

Judul di atas saya pinjam dari judul puisi KH Mustofa Bisri yang lebih dikenal dengan Gus Mus. Saya mengutip dua bait pertama dari puisi tersebut karena menururt saya sangat membantu merenungkan sabda Tuhan hari ini,

Dulu agama menghancurkan berhala.

Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.

Dulu orang berhenti membunuh karena agama.

Sekarang orang saling membunuh karena agama.

Dulu orang saling mengasihi karena beragama.

Kini orang saling membenci karena beragama.

Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhan nya pun tak pernah berubah dari dulu.

Lalu yang berubah apanya?

Manusia nya?

Kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa melalui puisi tersebut Gus Mus menyorot agama yang kehilangan Tuhannya, kehilangan spirit atau daya rohaninya. Ketika agama kehilangan spiritnya, maka yang tinggal hanyalah aturan-aturan yang kaku, kering bahkan kejam. Sebab kebenaran tanpa cinta biasa berujung anarkhis. Sebaliknya cinta tanpa kebenaran hanyalah sentimental belaka.

Dalam warta hari ini, tampak kepada kita, Yesus hidup di tengah orang beragama yang kehilangan Tuhannya. Bagaimana tidak? Mereka datang ke rumah ibadat bukan untuk mencari Tuhan akan tetapi untuk mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Akan tetapi bagi Yesus inilah waktu yang baik untuk mengajar mereka. Saat itu ada orang yang mati sebelah tangannya. Yesuspun mengundang orang itu untuk berdiri di tengah-tengah mereka. Selanjunya, Yesus menyampaikan pertanyaan retoris, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Kiranya tidak ada sutu orangpun yang tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut. Maka Yesuspun melakukan perkerjaan yang baik, yakni meminta orang sakit itu untuk mengulurkan tangan dan Iapun menyembuhkanya. Melihat kesembuhan tersebut, mereka bukan bersyukur kepada Tuhan, sebaliknya justru  bersekongkol dengan para pendukung Herodes [Herodian] untuk membunuh Yesus.

Bagaimanakah hidup keberagamaan kita? Semoga kita bukan hanya beragama, melainkan beragama dan berspiritualitas. Dengan demikian kita akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk berbagi berkat keselamatan-Nya dalam aneka bentunya.

Translate »