“IMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF”

“IMAN YANG KREATIF DAN SOLUTIF”

Jumat, 16 Januari 2026

Markus 2:1-12

          Saudara dan Saudari yang mengasihi dan dikasihi oleh Kristus. Iman memang ada perkara yang sangat personal, amat privasi, dan relasi intim setiap pribadi dengan Allah yang diyakininya. Namun, iman yang personal ini tidak dapat dilepaskan dan dipisahkan dengan kehadiran setiap diri di tengah keluarga, komunitas, lingkungan, kelompok, atau masyarakat secara umum. Setiap orang yang mengaku beriman akan selalu ada dan bersama dengan yang lainnya. Maka menjadi satu kebenaran dan kenyataan dalam hidup ini bahwa iman yang sangat personal ini akan tumbuh berkembang, semakin dewasa, dan terus dimurnikan dalam lingkup yang komunal di tengah keluarga, komunitas, dan kelompok di mana setiap harinya kita menjalankan rutinitas hidup.

          Kisah dalam Injil hari ini sungguh menarik untuk menjadi permenungan dalam hidup kita hari ini. Perhatian kita bukan hanya pada iman dan keyakinan si penderita, tetapi juga iman dan keyakinan rekan-rekannya yang membawa si sakit kepada Yesus. Cara dan upaya yang dilakukan sungguh luar baisa. Mereka tidak menyerah saat melihat kesulitan dan tantangan, tetapi justru menggunakan daya anugerah akal budi dan nurani menemukan cara atau solusi yang menyelamatkan.

          Pengalaman yang tersurat dan tersirat dalam Injil hari ini memberikan satu peneguhan iman bahwa iman yang hidup akan menuntun setiap pribadi menemukan jalan kreatif mengatasi dan mengantisipasi aneka hambatan yang ada. Iman melahirkan keberanian untuk membongkar bukan hanya atap rumah, tetapi membongkar atap keraguan dan ketakutan kita. Keraguan dan ketakutan untuk mengupayakan alternatif solusi daripada sekadar bersikap pasrah, menyerah, dan berdiam diri.

          Pengalaman iman personal yang dihadirkan dalam konteks komunal (bersama) akan melahirkan kekuatan solidaritas persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Kita perlu berani untuk menyadari dan mengakui bahwa kita butuh sesama, butuh orang lain, butuh lingkungan dan alam ini agar bisa merasakan Allah yang hadir menyertai hidup kita. Inilah gambaran Gereja yang hadir dalam peziarahan manusia. Keselamatan diupayakan secara bersama-sama agar sukacita boleh dirasakan oleh semakin banyak orang. Menjadi suatu pertanyaan reflektif kecil bagi saya dan Anda sekalian “Apakah selama ini kehadiran orang-orang terdekat dalam keluarga menjadi penghambat atau pendukung untuk kita bisa semakin mengenal dan merasakan Allah yang hadir dan menyelematkan?”

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

PILIHAN TERBAIK MENYELAMATKAN!

PILIHAN TERBAIK MENYELAMATKAN!


Kamis 15 Januari 2026
Hari Biasa, Pekan Biasa I
ISam4:1-11; Mrk 1:40-45

Membuat pilihan adalah sesuatu yang kita lakukan setiap hari. Kita mencoba untuk membuat pilihan yang terbaik, harapannya pilihan tersebut juga sesuai dengan kehendak Tuhan. Kadang-kadang kita tidak selalu berhasil dalam memilih yang terbaik; bahkan bisa jadi pilihan itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam bacaan Injil hari ini, seorang penderita kusta datang kepada Yesus dan berkata: “Kalau Engkau mau – Engkau dapat mentahirkan aku”. Seorang penderita kusta tidak dapat menduga bahwa Yesus akan memilih untuk menyembuhkannya, karena penderita kusta tidak boleh mendekati orang lain; orang kusta itu najis; orang harus menyingkir, karena takut orang kusta akan mencemari orang lain. Namun, sebagai jawaban, Yesus berkata kepadanya: “Aku mau jadilah engkau tahir”. Yesus memilih untuk melakukan apa yang tidak akan dilakukan orang lain; ia mengulurkan tangan dan menjamah orang penderita kusta itu, dan orang itupun sembuh.

Dalam Injil, Yesus secara konsisten digambarkan selalu memilih untuk melakukan kontak dengan mereka yang hancur dalam tubuh, pikiran atau jiwa, atau singkatnya orang yang sedang menderita apa saja. Tuhan yang bangkit terus membuat pilihan yang sama. Dia memilih dekat dengan kita masing-masing yang sedang dalam kehancuran hidup, apapun yang terjadi. Yesus akan selalu menjadi penyembuh dan pemberi kehidupan dalam hidup kita. Yesus meminta kita pun akhirnya untuk menjadi sama satu sama lain, yakni membuat pilihan yang membawa kesembuhan dan kehidupan baru bagi orang lain. Semoga! Tuhan memberkati.

Kadang hatiku menjadi beku
Apapun hidupku terasa sekarat
Tuhan Yesus sembuhkanlah aku
Biarkanlah hidupku menjadi berkat.

RD. Ignasius Adam Suncoko

Translate »