Sabtu Pekan Biasa VIII

Sabtu Pekan Biasa VIII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
30 Mei 2026
Yud 17, 20-25 + Mzm 63 + Mrk 11: 27-36

Lectio
Pada waktu itu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Jawab Yesus kepada mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: “Kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”

Meditatio
“Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” Itulah pertanyaan imam-imam kepala, kaum Farisi dan tua-tua bangsa. Mengapa mereka bertanya seperti itu? Seharusnya mereka tahu, karena mereka adalah orang-orang yang pandai dan terkemuka, mereka banyak tahu isi kitab suci, dan mereka tahu segala yang telah dikerjakan Yesus. Seharusnya mereka berkata seperti Nikodemus: ‘kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya’ (Yoh 3). Semuanya tidak mereka lakukan.
Yesus menanggapi mereka: “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: “jikalau kita katakan: dari sorga, Ia akan berkata: kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: dari manusia!” Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Mereka tahu dengan baik siapakah Yohanes. Sekali lagi mereka tidak berani berkata-kata, sebab dalam hati kecil mereka sudah sadar bahwa mereka bersalah.
Lalu mereka menjawab Yesus: “kami tidak tahu.” Maka kata Yesus kepada mereka: “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” Yesus tidak mau menanggapi ketidakjujuran mereka.
Ini semua memberi pembelajaran kepada kita agar selalu jujur di hadapan Tuhan. Tuhan Allah siapakah kita, dan apapun yang kita inginkan dan perlukan, maka tentunya kejujuran kita dalam berdoa dan bertindak amatlah perlu, dan itu akan mendatangkan berkat bagi kita. Hendaknya kita jujur di hadapanNya dan tidak mencobaiNya.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, karena Engkau selalu memperhatikan kami. Ajarilah kamiselalu untuk semakin menyadari diri, bahwa di hadapanMu tidak ada yang tertutup pada diri kami ini. Semoga kami pun kelak kedapatan setia sampai akhir hidup kami. Amin.

Contemplatio
“Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!”

Kemuliaan Sejati

Kemuliaan Sejati

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 10:32-45

Rabu, 27 Mei 2026

Angka 3 dalam Kitab Suci melambangkanKesempurnaan ilahi, keutuhan, dan kesempurnaan. Dalam warta hari ini, untuk ketiga kalinya, Yesus secara khusus memberitahu para murid tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya di Yerusalem. Penginjil menggambarkan dengan sangat bagus perbedaan sikap Yesus dengan para murid-Nya. Yesus berjalan di depan dengan penuh keberanian untuk menyongsong penderitaan dan kematian-Nya, sementara para murid mengikutinya dengan perasaan cemas dan takut. Ini menunjukkan kesiapan Yesus yang taat mutlak kepada Bapa.

Perbedaan sikap Yesus dengan para murid-Nya semakin tampak jelas dalam diri Yakobus dan Yohanes. Mereka meminta posisi terhormat (duduk di kiri dan kanan Yesus) dalam kemuliaan-Nya. Permintaan tersebut menunjukkan bahwa mereka masih memiliki pola pikir duniawi tentang Kerajaan Allah. Yesus tidak marah dengan permintaan tersebut. Sebaliknya Dia menggunakan hal tersebut untuk mengajar para murid-Nya dengan sebuah pernyataan dan pertanyaan, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” (Mark 10:38). “Cawan” adalah simbol penderitaan, sedangkan “baptisan” adalah simbol kematian. Sungguh luar biasa! Sebab kedua bersaudara itu menjawab, “kami siap”. Akan tetapi para murid lain marah kepada kedua bersaudara itu. Yesus kembali menggunakan kemarahan mereka sebagai bahan ajar, “i dunia, pemimpin berkuasa dan minta dilayani. Namun dalam Kerajaan Allah sebaliknya, siapa yang ingin menjadi besar atau terkemuka harus menjadi pelayan dan hamba bagi semua orang. Yesus bukan hanya mengajarkan, melainkan juga melaksanakan apa yang Ia ajarkan,  “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mark 10:45). 

Apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus ini merupakan rangkuman seluruh Injil. Yesus menebus manusia dari dosa dengan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib. Pesan yang ingin disampaikan Yesus kepada kita bahwa pelayanan yang sejati harus berpusat pada pengorbanan tanpa pamrih. Itulah kemualiaan sejati. Semoga kita dapat melakukannya.

Translate »