Browsed by
Author: admin

RENUNGAN 8 MARET 2025 

RENUNGAN 8 MARET 2025 

Masa Prapaskah dimulai sejak hari Rabu Abu lalu. Masa retret agung dan kesempatan bagi kita merefleksikan diri dalam rangka relasi dengan Tuhan, semesta alam dan sesama saudara. Satu masa di mana kita diajak masuk ke dalam diri sendiri, melihat kembali pikiran dan perasaan yang tumbuh selama ini. Selaraskah pikiran dan perasaan kita dengan Tuhan? Masa Prapaskah mengantar kita pada pertobatan sejati agar siap menerima Penebusan Yesus Kristus.

Bacaan-bacaan hari ini mengantar kita pada refleksi semacam itu.  Betapa mudahnya kita menunjuk-menunjuk kekeliruan dan kesalahan orang lain. Kita menebarkan berita bohong dan fitnah tentang pribadi orang lain. Mungkin saja orang lain tidak melakukannya.   Bahkan orang lain diberi cap stempel sebagai pendosa, penjahat, penjilat, perampok dan sebagainya. Kita menghambat rahmat Tuhan bekerja melalui orang lain. Kitapun banyak melukai diri sendiri dengan sikap iri, benci dan dendam yang tak ada habisnya.

Setiap orang bisa salah dalam merencanakan dan memutuskan sesuatu. Tetapi dia tidak boleh dianggap sebagai pesakitan atau orang yang bersalah terus menerus, kecuali hukum dapat membuktikan kesalahannya.

Dalam Injil hari inipun kita mendengarkan bahwa Yesus mencari dan bertemu dengan Lewi pemungut cukai. Sebuah pekerjaan yang dianggap hina dina. Para pemungut cukai kerap mencari keuntungan untuk memperkaya dirinya sendiri dari rakyat. Betapa pedihnya ketika seseorang disingkirkan dari public. Tidak ada orang lagi yang mau percaya padanya. Ini sebuah penderitaan. Masa gelap yang dialaminya berakhir ketika Yesus menyapa dan berkata,”Ikutlah Aku.” Satu kalimat singkat yang menguhkan harapan masa depannya. Ada orang lain yang mau menyapa dan menjadikan Lewi bagian dari para murid Yesus. Kiranya ini sebuah keajaiban dan mukjizat dalam diri Lewi pemungut cukai.  Yesus datang, menyapa dan mengajaknya tinggal bersama, bergabung bersama komunitas para murid.

Bagi Yesus orang yang tersingkirkan, termarginalkan dan diabaikan seperti Lewi perlu disapa dan diyakinkan dengan hidupnya. Orang yang mungkin dianggap hina dan terkutuk karena perbuatannya, akhirnya dipulihkan oleh Yesus. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” Kalimat itulah yang dikatakan oleh Yesus kepada ahli Taurat dan orang Farisi. Mereka bersungut-sungut kepada Yesus karena mau datang makan minum bersama pendosa. Orang sakit, orang berdosa perlu dipulihkan hidupnya agar mereka sehat dan sembuh dari beban fisik, beban mental dan rohani.

Setiap orang membutuhkan sapaan, agar dapat bangun dan berdiri tegak kembali dari keterpurukannya. Setiap orang pernah terjatuh dan tersungkur! Tidak jarang banyak kawan pergi meninggalkannya. Justru pada saat itulah dia sesungguhnya membutuhkan uluran tangan dari kawan dan sahabatnya. Yesus menunjukkan kepada kita arti yang sesungguhnya sebagai sahabat dan saudara pada orang yang terjatuh.

Mari kita membebaskan dan membaharui diri pada Masa Prapaskah ini. Bebaskan diri kita dari sikap menunjuk-nunjuk kesalahan orang lain dan dari sikap memfitnah orang lain dari sesuatu yang tidak mereka lakukan. Dan pada akhirnya berani memulihkan semangat hidup dari saudara yang sedang menderita dan tersungkur. Tuhan Yesus memberkati setiap perjuangan kita untuk membaharui diri.

(rm. Medyanto, o.carm)

Renungan, 07 Maret 2025

Renungan, 07 Maret 2025

Matius 9:14-15

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm

PUASA DAN MEMPELAI

Yesus berbicara tentang PUASA yang dikaitkan dengan MEMPELAI. Ketika mempelai itu ada bersama kita, puasa tidak berlaku. Yang ada hanyalah sukacita pesta. Begitu mempelai tidak bersama lagi, saat itulah diperlukan puasa. Bagaimana hal ini bisa dimaknai?

  1. SANG MEMPELAI

Lewat sabda hari ini, Yesus menunjuk pada diri-Nya sendiri sebagai mempelai laki-laki. Dan kita, umat-Nya adalah mempelai perempuan. Kita dan Yesus satu dalam kasih yang tak tergantikan. Kasih yang begitu mendalam seperti kasih suami dan istri.

Dengan gambaran ini, Yesus hendak menunjukkan hasrat cinta Allah yang ingin bersatu dengan manusia. Demikian halnya, dalam hati manusia tersemat cita-cita hidup rohani, yakni mencapai kekudusan, sehingga dipersatukan dengan Sang Mempelai.

  • BERPUASA

Meski terdapat hasrat Allah dan juga cita-cita manusia, namun dosa telah menjadi penghalang yang memisahkan kedua hasrat itu. Rahmat Allah yang begitu besar tidak menembus hati nurani manusia. Bahkan, manusia sulit melihat kebaikan dan cinta Allah.

Di sinilah puasa ditempatkan. Untuk bisa merasakan getaran cinta Allah, manusia mesti dibebaskan dari dosa dan kesalahan. Berpuasa adalah cara jitu untuk kembali kepada Sang Mempelai dengan meninggalkan keterikatan akan dosa dan kecenderungan jahat.

  • BUKAN SOAL JASMANI

Dengan cara pandang mempelai, berpuasa bukan semata-mata tidak makan dan tidak minum. Puasa adalah tindakan jasmani yang mengekspresikan olah rohani, agar bisa bersatu dengan Allah. Maka, puasa itu begitu ringan, indah, dan enak, karena kita sedang merindukan kesatuan dengan Sang Mempelai, yakni Allah.

Akhirnya, puasa bersentuhan erat dengan salib. Kita berpuasa seraya merenungkan salib atau bahkan belajar memikul salib. Karena dengan cara itu, kita akan semakin mengerti dan memahami betapa kuat-Nya cinta Allah, Sang Mempelai kepada kita.

Translate »