Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Mengapa Salib?

Mengapa Salib?

Mengapa Salib?

Pesta Salib Suci

14 September 2017

Yohanes 3: 14-17

 

Demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal (Yoh 3: 14-15).”

 

Salib selalu dikaitkan dengan agama dan umat Kristiani. Namun, dari sekian banyak simbol, mengapa harus salib? Jika kita melihat salib dari sudut pandang orang-orang yang hidup di zaman Yesus, salib adalah sebuah metodologi penyiksaan yang sangat kejam dan mengerikan. Salib adalah hukuman mati bagi para pemberontak dan pembuat onar terhadap otoritas kekaisaran Romawi kuno. Coba kita bayangkan sekarang penderitaan yang terjadi saat penyaliban: paku raksasa dan berkarat (karena dipakai berulang-ulang) menembus tangan dan kaki kita; tubuh kita ditelanjangi dan digantung pada sebuah kayu besar, kitapun dipanggang di bawah terik matahari dan membeku oleh angin malam yang sangat dingin; perlahan-lahan tubuh kita kehilangan darah, air dan nafas, sementara lapar dan dahaga menyiksa perut dan tenggorokan. Yang lebih menyiksa adalah kita menjadi tontonan masa dan terkadang sanak keluarga dipaksa menonton proses penyaliban sampai akhir. Kita beruntung jika kita meninggal secara cepat, tapi terkadang kita akan tergantung selama beberapa hari sebelum kita menemui ajal kita. Salib menjadi simbol sempurna dari sikap brutal dan kebiadaban manusia.

Hari ini, kita menghormati salib suci, dan mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada diri kita sendiri mengapa kita perlu menghormati salib dan menempatkannya di tengah-tengah kehidupan kita. Saya tidak punya niat untuk mengembalikan kekejaman salib, tidak juga untuk menyalibkan Yesus sekali lagi, tapi kita bisa menemukan keindahan dari sebuah Salib Suci. Pertama, salib tidak dapat dipisahkan dari Kristus. Almarhum Uskup Fulton Sheen dari Amerika, salah satu uskup pertama yang menggunakan media massa untuk pewartaan, mengingatkan kita bahwa Yesus tanpa salib adalah Allah yang jauh dan asing, dan salib tanpa Yesus adalah hanya sebuah tanda kekejaman manusia. Sentimen yang sama juga dimiliki oleh umat Katolik perdana. Pada saat Pentakosta yang pertama di Yerusalem, Santo Petrus berkhotbah tentang iman kepada Yesus yang disalibkan (Kis 4:10) dan di suratnya, St. Paulus mengingatkan kita bahwa ia hanya mewartakan Kristus dan Dia yang tersalibkan (lih 1 Kor 1:22). Jika kita menganalisis keempat Injil, kita menyadari bahwa tidak semua penginjil menulis kisah kelahiran Yesus (hanya Matius dan Lukas), tapi empat penulis suci setuju untuk menempatkan Penyaliban, Kematian dan Kebangkitan Yesus sebagai pusat tulisan-tulisan mereka. Kita mencatat juga bahwa meskipun salib muncul di semua Injil, penginjil tidak tertarik pada kekejaman berdarah di kayu salib, tetapi fokus pada Yesus yang mengasihi kita sampai akhir. Sejak itu, kata “kerygma” mengacu pada inti pewartaan Kristiani yang merupakan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus.

Kedua, salib tidak dapat dipisahkan dari umat Kristiani. Yesus menuntut murid-muridnya untuk memikul salib mereka sehari-hari (Luk 9:23). Mengikuti Yesus bukanlah jalan yang mudah. Ini adalah jalan salib. Untuk tidak membalas dendam kepada musuh-musuh kita sangat sulit, tapi Yesus ingin kita mengasihi mereka! Untuk membantu diri kita sendiri kadang-kadang melelahkan, namun Yesus meminta kita untuk juga memberikan tangan Anda kepada orang-orang miskin di sekitar kita.

Kita menghormati salib suci, bukan karena kita memuja kekejaman yang dibawanya, tetapi karena Tuhan ada di sana. Salib mendorong kita untuk mengasihi melebihi diri kita sendiri. Hanya karena kasih, kita menemukan keselamatan kita. St. Yohanes dari Salib telah mengatakan bahwa pada akhir hidup kita, kita akan diadili oleh seberapa besar kita mengasihi. Romo Nicanor Austriaco, OP, seorang ahli mikrobiologi dan pakar etika dari Amerika, mengusulkan bahwa pada akhir hidup kita, Yesus akan menyodorkan pertanyaan yang sama Dia ditujukan kepada Petrus, Apakah engkau mengasihi Aku?”  Dan kita hanya bisa menjawab pertanyaan ini jika kita telah memanggul salib kita sampai akhir.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Paradoks Sabda Bahagia

Paradoks Sabda Bahagia

Paradoks Sabda Bahagia

 

Rabu pada Pekan Biasa ke-23

Peringatan St. Yohanes Krisostomus

13 September 2017

Lukas 6:12-19

 

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 6:20)”

 

Setiap orang tentunya ingin bahagia, dan kita melakukan banyak hal untuk mendapatkan kebahagiaan ini. Kita bekerja keras karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan harapannya dengan kehidupan yang lebih baik, kita bisa lebih bahagia. Kita ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kita ingin memiliki kekayaan yang lebih banyak, kita ingin memiliki mobil terbaru dan rumah lebih mewah. Mantranya adalah jika kita memiliki lebih banyak, menjadi lebih gembiralah kita. Ini adalah kebahagiaan yang dicapai melalui “Upward Mobility” atau “Pergerakan ke atas”.

Hari ini, Yesus juga menawarkan jalan kebahagiaan yang tertuang dalam Sabda Bahagia. Namun, setelah kita membaca Sabda Bahagia ini, kita mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Apa yang Yesus tawarkan justru bertolak belakang dengan apa yang biasa kita lakukan. Tentunya, kita sudah mendengar Injil ini berkali-kali sehingga daya tariknya tidak lagi kita rasakan, tetapi jika kita mendengar kata-kata Yesus untuk pertama kalinya ditengah-tengah kesibukan kita di dunia dan pekerjaan, kita mulai menyadari bahwa pesan Yesus adalah sesuatu yang radikal.  Yesus menawarkan sebuah pergerakan ke bawah atau “Downward Mobility”.

Saat kita sibuk menjadi sukses dan mengumpulkan banyak hal, Yesus justru meminta kita menjadi sederhana dengan berbagi dengan mereka yang berkekurangan dan hidup secukupnya. Saat kita fokus untuk menikmati hidup, bersenang-senang, Yesus malah mengajar para murid-Nya untuk ikut berbelas kasih dengan mereka yang masih kelaparan. Saat kita mencoba mendapatkan yang terbaik dari hidup bahkan dengan cara-cara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan untuk rendah hati dan tidak serakah.

Ajaran Sabda Bahagia ini sebuah hal yang radikal dan bertentangan dengan budaya materialisme yang menjadi roh penggerak ‘Upward Mobility’, tetapi ini bukanlah hal yang mustahil. Bahkan melalui Sabda Bahagia, Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa berada di posisi yang paling atas dan memiliki segalanya bukanlah kebahagiaan sejati. Hanya saat kita berani mengikuti Kristus, saat kita berani berbagi, saat kita mulai keluar dari dunia materialisme yang sempit, kita mulai merasakan ada kebahagiaan yang lebih mendalam. Hanya dengan melepaskan hasrat dan ambisi kita untuk terus memiliki, terus mencari diri sendiri, kita akan menemukan Kristus dan makna kehidupan sejati.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus Memanggil Para Murid-Nya

Mengapa Yesus Memanggil Para Murid-Nya

Mengapa Yesus Memanggil Para Murid-Nya

 

Selasa pada Pekan Biasa ke-23

12 September 2017

Lukas 6:12-19

 

“Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul (Luk 6:13)”

 

Yesus memanggil dan memilih para murid-NyaMereka juga yang akan menjadi para rasul Yesus. Namunapakah kita pernah bertanya mengapa Yesus perlu merekrut’ murid-murid iniDia bisa menyembuhkan orang sakit, menggandakan roti bagi yang laparmengusir setanmenenangkan badai,dan bahkan membangkitkan orang matitetapi mengapa Dia tetap memilih beberapa orang untuk menjadi rekan kerja-NyaSingkatnya, jika Dia adalah Tuhan yang mahakuasamengapa Dia masih meminta bantuan manusia dalam menjalankan misi-Nya?

St. Agustinus menjelaskan misteri iman kita ketika ia berkata, Tuhan menciptakan kita tanpa kitatetapi ia tidak berkehendak untuk menyelamatkan kita tanpa kita.” Dengan kata lain, Yesus ingin kita juga berpartisipasi dalam misi menyelamatkan-Nya. Mengapa? Kita bisa melacak jawaban dariidentitas Allah kitaSt. Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih. Hanya kasih sejati yang memberi kita kebebasan yang otentik. Jadi, jika anda sangat posesif dan suka mengatur pasangan andamaka anda dapat mulai meragukan dan bertanya cinta macam apa yang anda miliki untuk diaKasih sejatimemberdayakan dan memampukan kita untuk tumbuh dan akhirnya berdiri pada kaki kita sendiriJohn Maxwellseorang guru kepemimpinan, berkata bahwa seorang pemimpin sejati akan menambah nilai’ bagi rekan kerja sehingga mereka dapat mencapai potensi maksimal mereka.

Seandainya Yesus melakukan segala sesuatu sendirimanusia akan tetap dalam keadaan kekanak-kanakan yang permanen. Kita tidak pernah tahu arti kasihpengorbanan dan komitmen yang sesungguhnyaIni bukan kasih sejatiYesus memanggil murid-murid bukan untuk menjadi murid selamanya,tetapi mereka akan menjadi rasul, seseorang yang diutus dengan misi.

Yesus mengundang para murid-Nya untuk menjalani masa ‘formasi’dan sering menjadi bagian dari pelatihan ini adalah pengalaman rasa sakit, kehilangan dan kegagalanPuncak dari pengalaman ini adalah penderitaan dan kematian Yesus di KalvariMurid-murid percaya bahwa Yesus akan menjadiraja politik baru dari orang-orang Yahudidan harapan mereka semakin memuncak ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan penuh kemenanganTapisemua impian mereka tiba-tiba hancur ketika Yesus ditangkapdisiksa dan disalibkan seperti penjahat hina lainnyaNamun, ini juga bagian daripembentukan mereka. Sang Guru yang baik mengizinkan itu terjadi sehingga Dia sekali lagi akan bisa ditemukansepenuhnya hidup dan segarDalam kebangkitan-NyaDia menyembuhkan dan membuat kembali utuh hati murid-murid-Nya. Petrus dan sepuluh lainnya telah dibebaskan ketidakdewasaan mereka dan siap untuk mengemban misi Guru mereka dan menjadikan sebagai milik mereka.

Yesus mengasihi kitaItulah sebabnya Dia memanggil kita, menjadikan kita murid-Nya melalui proses yang tidak mudah dan mengubah kita menjadi serupa dengan-NyaSekaranggiliran kita untuk mengasihi dan memberdayakan sesama kita seperti halnya yang Yesus telah lakukan.

 

Frater Valentinus Bayuhadi RusenoOP

 

Sabat

Sabat

Sabat

 

Senin pada Pekan Biasa ke-23

11 September 2017

Lukas 6:6-10

 

Sabat adalah hari istirahat dan hari yang kuduskan untuk beribadah. Bangsa Israel pernah menjadi budak yang terus bekerja tanpa henti di Mesir, dan sekarang mereka telah bebas karena karya penyelamatan Tuhan. Untuk mengingatkan mereka agar tidak lagi menjadi budak dari pekerjaan, hari Sabat menjadi sarana untuk mengingatkan kebebasan mereka. Jadi, hari Sabat sesungguhnya adalah hari kebebasan dan kemerdekaan.

Pada zaman Yesus, para rabi telah menentukan setidaknya ada 39 kegiatan yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat, seperti memasak, membangun rumah, dan berpindah lokasi. Tentunya, ada beberapa pengecualian seperti dalam hal-hal darurat seperti membawa ibu yang mau melahirkan ke bidan. Banyak hal tidak diperbolehkan, tetapi ada juga hal-hal yang mendapat prioritas pada hari Sabat, seperti mengunjungi rumah ibadat, berdoa, membaca Hukum Taurat, dan juga berkhotbah.

Yesus sedang beribadah dan mengajar di sebuah rumah ibadah, dan dia menyadari bahwa beberapa Farisi terus mengawasi Dia. Menyadari bahwa ada seorang yang mati tangan kanannya, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar di hari Sabat. Yesus mengerti bahwa kasus orang yang mati tangan kanannya bukanlah sesuatu yang mendesak dan Yesus bisa menunggu keesokan harinya, tetapi Yesus melakukan hal yang sebaliknya. Dia menempatkan sang pria ditengah-tengah rumah ibadah dan bertanya apakah perbuatan baik diperbolehkan pada hari Sabat. Ia pun menyembuhkannya. Tentu hal ini membuat para Farisi marah, tetapi Yesus telah mengajarkan kita tentang makna sejati dari Sabat.

Sabat adalah hari pembebasan dan menjadi sebuah ironi jika hari Sabat malah memperpanjang penderitaan seseorang yang telah “diperbudak” oleh sakitnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Ini adalah makna sesungguhnya dari Sabat: sebuah kebebasan sejati dari penderitaan.

Tentunya, sebagai seorang Kristiani, kita tidak merayakan hari Sabat, tetapi kita menghidupi semangat Sabat yang diajarkan Yesus sendiri. Pertanyaan sekarang: apakah kita masih diperbudak oleh beban dosa walaupun sudah ditebus oleh Kristus? Apakah kita masih ‘memperbudak’ orang lain dengan tindakan dan kebijakan kita yang arogan? Apakah kita sekedar merayakan ibadah tanpa melalukan apa-apa bagi saudara-saudari kita yang masih hidup tertindas dalam kemiskinan?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

23rd Sunday in Ordinary Time

23rd Sunday in Ordinary Time

Fraternal Correction

23rd Sunday in Ordinary Time

September 10, 2017

Matthew 18:15-20

“If your brother sins (against you), go and tell him his fault between you and him alone. If he listens to you, you have won over your brother.  (Mat 18:15)”

Jesus understands that in any human community, including His own community of disciples, or the Church, there are always members affected by human weakness and sinfulness. Even in the Christ-oriented communities like the religious convents, the parishes, and various ministries and groups in the Church, inevitably we are hurting each other. Thus, Jesus, the Just God and merciful man, outlines a procedure or ‘fraternal correction’ to deal with misunderstanding, quarrels, and conflicts. It begins with the individual and personal encounter, then when it does not work, we ask the help of a witness or mediator, and lastly it goes up to the community level.

Every stage is important, but the first step is always decisive. The first level is challenging because it requires both humility to accept one’s weakness as well as prudence to express the message of reconciliation in a charitable manner. Yet, the temptation is that either we skip this preliminary level or we execute it without charity. Without mercy, things will just get worse, and the individual encounter will collapse or even turn violent. Often also, to avoid direct confrontation, we jump to the next level. Instead talking personally and privately to the person, we expose them to the public. Either we talk behind them, even creating gossips, or we shame and humiliate them in public. I myself are struggling with this process of fraternal correction. I am basically introvert, and I have tendency to keep things to myself and avoid direct confrontation. Things may seem peaceful, but I know I do not resolve the problems.

The first step is fundamental because after all, we all are members the same community, the same Church. We are all children of God, and thus, brothers and sisters to one another. As our Father in heaven deals mercifully with us, we are also learning to deal with others in mercy. Being merciful means willing to talk and try to understand the other side of the corner. Often, after being offended, we just do nothing but harbor prejudices, then fueling more anger and grudges, but perhaps, they have their own stories that need to be heard. Once in my Postulancy, I got annoyed with an outspoken brother who often criticized me. Later, I discovered also many brothers had the same sentiment. Sometimes, things got escalated, and some brothers refused to talk to him anymore. Till one day, we had a faith sharing, and we learned that he came from a dysfunctional family. His father left the family, and as the oldest son, he had to work and assume the responsibilities for his younger siblings. He had a hard life and he had to be tough also to discipline his younger siblings. Then, we understood why he was also tough with us, his younger brothers.

Often we understand the stages of fraternal correction ends with things settled by the community or Church, but actually Jesus offers one final step. We need to pray. Before we begin the entire process, we should pray. When we bring things to God in prayer, we are no longer controlled by emotions, we start to suspect the good in others, and we have more serenity to forgive. At the end of the process, we pray together asking for forgiveness and healing. My friend and brother in the Order, John Paul, does not agree that time heals. For him, time does not heal, but only God heals. We remember that when two or three people, especially those are in conflict, gather together in prayer, Jesus is there.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »