Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN: 23 JUNI 2026

RENUNGAN: 23 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 7:6.12-14

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Pada umumnya, manusia lebih menyukai jalan yang mudah. Kita senang jika segala sesuatu berjalan lancar, tanpa hambatan, tanpa pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mencari pilihan yang paling nyaman, paling cepat, dan paling menguntungkan. Namun dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan sesuatu yang berbeda. Dia berkata: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu; karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya. Tetapi sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Sabda Tuhan ini mengajak kita merenungkan dua hal penting: pertama, keberanian memilih pintu yang sesak; dan kedua, kesadaran bahwa keselamatan adalah pilihan yang harus diperbarui setiap hari.

Memilih Pintu yang Sesak.

Mengapa demikian? Karena mengikuti Kristus tidak selalu sejalan dengan keinginan dunia, keinginan-keinginan manusia. Jalan Kristus adalah jalan kasih, pengampunan, kejujuran, kerendahan hati, dan pengorbanan. Nilai-nilai ini sering kali bertentangan dengan semangat dunia yang mengutamakan keuntungan diri sendiri, popularitas, dan kenyamanan. Memilih pintu yang sesak berarti berani melakukan yang benar meskipun tidak populer. Berani berkata jujur meskipun bisa merugikan diri sendiri. Berani mengampuni meskipun hati masih terluka. Berani setia pada panggilan hidup dan janji yang telah diucapkan meskipun banyak tantangan. Melewati pintu yang sesat itu berarti: ketika seorang suami atau istri yang tetap setia ketika rumah tangga sedang mengalami masalah; ketika orang muda yang menolak godaan korupsi, ketidakjujuran, atau pergaulan yang merusak juga sedang memilih jalan yang sempit’ ketika seorang umat yang tetap meluangkan waktu untuk berdoa dan mengikuti Ekaristi di tengah kesibukan hidup juga sedang melangkah melalui pintu yang sesak. Pintu itu sesak bukan karena Tuhan ingin mempersulit hidup kita. Pintu itu sesak karena untuk masuk ke dalamnya kita harus meninggalkan banyak beban: kesombongan, egoisme, kebencian, iri hati, dan dosa-dosa yang melekat dalam diri kita. Seperti seorang peziarah yang harus melepaskan barang-barang yang tidak perlu agar dapat berjalan ringan, demikian pula kita harus melepaskan apa yang menghalangi langkah kita menuju Tuhan.

Keselamatan Adalah Pilihan Setiap Hari

Saudara-saudari, sering kali kita berpikir bahwa menjadi orang beriman cukup dengan satu keputusan besar dalam hidup. Padahal Yesus mengajarkan bahwa mengikuti-Nya adalah keputusan yang harus diperbarui setiap hari. Setiap pagi sebenarnya kita sedang berdiri di depan dua jalan. Jalan yang lebar dan jalan yang sempit. Jalan yang lebar menawarkan kenyamanan sesaat. Jalan yang sempit menawarkan kehidupan sejati. Pilihan itu hadir dalam hal-hal sederhana. Ketika muncul kesempatan untuk berbohong demi keuntungan pribadi, kita memilih antara dua jalan. Ketika ada konflik dalam keluarga, kita memilih antara mempertahankan ego atau membangun perdamaian. Ketika melihat sesama yang membutuhkan pertolongan, kita memilih antara sikap acuh tak acuh atau kasih yang nyata. Setiap keputusan kecil sesungguhnya membentuk arah hidup kita.

Sering kali kita menganggap dosa besar sebagai ancaman utama bagi keselamatan. Memang benar. Tetapi yang juga perlu diwaspadai adalah kebiasaan-kebiasaan kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan: menunda doa, mengabaikan Sabda Tuhan, membiarkan kebencian tinggal dalam hati, atau menjadi tidak peduli terhadap sesama. Karena itu keselamatan bukan hanya tujuan di akhir hidup, melainkan perjalanan yang kita jalani hari demi hari bersama Tuhan. Kabar baiknya adalah bahwa kita tidak berjalan sendirian. Kristus sendiri berjalan bersama kita. Ia tidak hanya menunjukkan jalan yang sempit, tetapi terlebih dahulu telah melewatinya. Yesus memilih jalan salib. Melalui salib, Ia membuka pintu kehidupan bagi seluruh umat manusia. Maka ketika kita merasa berat menjalani hidup sebagai murid Kristus, kita dapat memandang kepada Yesus. Ia memahami perjuangan kita.

Saudara-saudari terkasih,

Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita memiliki keberanian untuk memilih yang benar, kesetiaan untuk tetap berjalan di jalan-Nya, dan harapan untuk terus melangkah menuju kehidupan yang telah dijanjikan-Nya.

Mengelap Kaca Jendela yang Salah

Mengelap Kaca Jendela yang Salah

Rm. Yusuf Dimas Caesario

Seorang pria baru saja pindah ke rumah baru. Setiap pagi saat minum kopi, ia selalu melihat ke luar jendela dan menggerutu melihat jemuran baju tetangganya. “Duh, tetangga baru itu kalau mencuci baju tidak pernah bersih ya? Kelihatan kusam dan banyak noda abu-abu,” bisiknya jengkel kepada istrinya.

Karena gemas, besoknya si pria mengambil kain lap dan pembersih kaca, lalu membersihkan bagian luar jendela rumahnya sendiri yang ternyata sudah berbulan-bulan berdebu tebal. Begitu selesai mengelap dan duduk kembali, ia terkejut melihat ke luar. Jemuran tetangganya ternyata putih bersih berkilauan. Sambil tersenyum kecut, ia baru sadar: yang kotor dari kemarin bukan baju tetangganya, melainkan jendelanya sendiri.

Isi Renungan

Dalam Injil Matius 7:1-5, Yesus memberikan sebuah teguran yang sangat menohok tentang kecenderungan manusiawi kita: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”

Secara logika, bagaimana mungkin seseorang bisa melihat serpihan kayu kecil (selumbar) di mata orang lain jika matanya sendiri sedang terganjal sebatang balok kayu besar? Yesus menggunakan hiperbola ini untuk menelanjangi kemunafikan yang sering membungkus kehidupan rohani kita. Kita kerap kali bertindak sebagai “hakim” yang memegang palu sidang, siap mengetuk vonis atas kesalahan sesama, sementara kita lupa bahwa lensa pandangan kita sendiri—yaitu hati kita—sedang tertutup oleh debu dosa dan ego kita sendiri.

Dalam tradisi Gereja Katolik, teks ini mengajak kita pada praktik pemeriksaan batin (examinatio conscientiae). Menghakimi orang lain sering kali menjadi cara instan bagi ego kita untuk merasa “lebih suci” atau “lebih benar” tanpa harus bersusah payah memperbaiki diri sendiri. Saat kita sibuk menyoroti noda pada hidup orang lain, kita sebenarnya sedang melarikan diri dari cermin kebenaran Allah yang ingin menyingkapkan kerapuhan kita sendiri.

Tuhan tidak melarang kita untuk saling mengingatkan dalam kasih (correctio fraterna), namun koreksi itu hanya akan berbuah jika diawali dengan pertobatan pribadi. Bersihkan dulu “jendela” hati kita melalui kerendahan hati dan Sakramen Tobat. Dengan begitu, saat kita memandang sesama, kita tidak lagi melihat mereka melalui prasangka atau kemarahan, melainkan melalui tatapan penuh belas kasih seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.

3 Poin Refleksi

  1. Dalam satu minggu terakhir, seberapa sering saya lebih banyak mengkritik kekurangan orang lain daripada mencoba memahami beban hidup yang sedang mereka pikul?
  2. Apakah saya berani mengakui bahwa sering kali rasa kesal saya kepada orang lain sebenarnya berakar dari kelemahan atau ketidakpuasan dalam diri saya sendiri?
  3. Langkah konkret apa yang dapat saya ambil hari ini untuk “membersihkan jendela” hati saya, agar saya bisa melihat sesama dengan kasih, bukan dengan penghakiman?

Doa Singkat

Tuhan Yesus Kristus yang Maharahim, ampunilah kami yang sering kali lebih cepat menjadi hakim bagi sesama daripada menjadi saksi kasih-Mu. Sadarkanlah kami akan “balok” di mata kami sendiri, agar kami senantiasa rindu untuk bertobat dan membenahi diri sebelum menghakimi orang lain. Karuniakanlah kepada kami kerendahan hati dan mata yang penuh belas kasih, supaya kami mampu memandang sesama sebagaimana Engkau memandang kami. Amin.

Minggu Biasa XIIA

Minggu Biasa XIIA


(Yer. 20:10-13; Rom. 5:12-15; Ma.t 10:26-33)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pernahkah kita berjalan sendirian pada malam hari di tempat yang gelap? Padahal jalan itu sebenarnya aman dan sudah sering kita lewati. Namun karena gelap, bayangan pohon terlihat seperti sosok yang menakutkan, suara angin terdengar seperti ancaman, dan langkah kaki sendiri terasa mencemaskan. Sering kali ketakutan bukan lahir dari kenyataan yang ada di depan kita, melainkan dari apa yang kita bayangkan dalam hati.
Demikian pula hidup kita. Banyak orang memikul ketakutan yang tidak terlihat oleh orang lain. Ada yang takut kehilangan pekerjaan, takut sakit, takut gagal mendidik anak, takut masa depan tidak seindah harapan, takut ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan takut karena merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain. Ketakutan-ketakutan itu perlahan menguras kegembiraan hidup dan membuat hati menjadi sempit. Karena itu sabda Tuhan hari ini terasa begitu dekat dengan pengalaman kita. Di tengah berbagai kecemasan hidup, Tuhan berulang kali berkata, “Jangan takut.”
Dalam bacaan pertama, kita mendengar keluh kesah Nabi Yeremia. Ia mengalami penolakan, fitnah, bahkan ancaman dari orang-orang di sekitarnya. Yang menyakitkan, bukan hanya musuh yang memusuhinya, tetapi juga sahabat-sahabat yang menantikan kejatuhannya. Yeremia merasa sendirian. Ia takut, ia terluka, ia gentar. Namun di tengah semuanya itu, ia tidak lari dari Tuhan. Justru di saat paling gelap, ia semakin berpegang pada Tuhan. Karena itu di akhir bacaan, ratapannya berubah menjadi pujian, “Bernyanyilah bagi Tuhan, pujilah Tuhan!” Ketakutan tidak menghilang seketika, tetapi kehadiran Tuhan membuatnya mampu melewati ketakutan itu.
Pengalaman Yeremia menjadi gambaran dari apa yang dikatakan Yesus dalam Injil. Tiga kali Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Jangan takut.” Yesus tidak menjanjikan hidup yang bebas masalah. Ia tahu bahwa para murid akan menghadapi penolakan, ejekan, bahkan penganiayaan. Namun Yesus mengingatkan bahwa hidup mereka berada dalam tangan Bapa. Bahkan rambut di kepala mereka pun terhitung semuanya. Gambaran
ini sangat indah. Tuhan bukan hanya mengenal kita secara umum; Ia mengenal kita secara pribadi. Ia mengetahui air mata yang tidak kita ceritakan kepada siapa pun, pergumulan yang kita sembunyikan di balik senyum, dan doa-doa yang hanya kita bisikkan dalam keheningan malam.
Lalu apa dasar keyakinan kita untuk tidak takut? Di sinilah bacaan kedua memberikan jawabannya. Santo Paulus mengingatkan bahwa melalui Adam dosa masuk ke dalam dunia dan membawa penderitaan serta kematian. Namun melalui Yesus Kristus datanglah rahmat yang jauh lebih besar daripada dosa itu sendiri. Artinya, bagi orang beriman, kejahatan tidak pernah memiliki kata terakhir. Dosa bukanlah akhir cerita. Kegagalan bukanlah akhir perjalanan. Salib bukanlah tujuan terakhir. Dalam Kristus, kasih Allah selalu lebih besar daripada luka manusia. Karena itu, ketika kita merasa takut, kita tidak berjalan sendirian. Kita berjalan bersama Dia yang telah mengalahkan dosa dan maut.
Saudara-saudariku terkasih, mungkin hari-hari ini ada di antara kita yang sedang memikul beban tertentu. Ada yang cemas memikirkan kesehatan, ekonomi keluarga, masa depan anak-anak, atau persoalan yang belum menemukan jalan keluar. Sabda Tuhan hari ini tidak mengatakan bahwa masalah itu akan langsung hilang. Namun Tuhan mengingatkan satu hal yang sangat penting, engkau tidak sendirian. Sebagaimana Tuhan menyertai Yeremia, sebagaimana Tuhan mendampingi para rasul, demikian pula Ia berjalan bersama kita. Ketika kita merasa tidak mampu, Tuhan berkata, “Aku ada di sini.” Ketika kita merasa sendirian, Tuhan berkata, “Engkau berharga di mata-Ku.” Dan ketika kita takut menghadapi hari esok, Tuhan berkata, “Jangan takut, sebab Aku menyertaimu.”
Maka dalam Ekaristi ini, marilah kita meletakkan segala kecemasan dan ketakutan kita di hadapan Tuhan. Semoga melalui Tubuh dan Darah Kristus yang kita sambut, hati kita diteguhkan untuk percaya bahwa kasih Allah selalu lebih besar daripada segala ketakutan kita. Sebab bersama Yesus, kita tidak selalu bebas dari badai kehidupan, tetapi yang pasti bersama Yesus kita tidak akan tenggelam oleh badai itu. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XI

Sabtu Pekan Biasa XI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
20 Juni 2026
Taw 24, 17-24 + Mzm 89 + Mat 6: 24-34

Lectio
Dalam suatu kesempatan bersabdalah Yesus kepada para muridNya: ‘’tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Meditatio
‘’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’, tegas Yesus kepada orang-orang yang mendengarkan pengajaranNya. Kemampuan insani yang amat terbatas akan memecah perhatian kita, bila mengabdi dua tuan. Karena itu, ‘kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon’. Setiap orang tidak bisa mengabdi Tuhan dan kekayaan; malah lebih baik kalau kita menyimpan harta yang kita miliki itu dalam surga, sebagaimana yang kita renungkan kemarin.
Mengabdi dua-tuan memang dikerjakan mengingat kekuatiran yang menyelimuti banyak orang. Iman kepercayaan kepada Tuhan yang tidak bersifat matematis membuat mereka mendua-hati dlam menghayati panggilannya. ‘Karena itu Aku berkata kepadamu: janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai’. Tuhan Allah akan atur. Yesus kemudian mempertajam persoalan dan membandingkannya dengan burung di udara, bunga bakung di ladang dan Salomo sendiri. ‘Janganlah kamu kuatir, Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu’, tegas Yesus.
Pernahkah kita mendua-hati sebagaimana dinyatakan Yesus? Kita diundang untuk benar-benar mempunyai iman kepercayaan yang teguh. Rasa kuatir dan gelisah memang seringkali tidak bisa kita hindari, kiranya kita tetap yakin juga bahwasannya iman akan mampu memindahkan gunung ke tengah lautan. Karena itu, ‘carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu’.

Oratio
Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu atas segala berkatMu yang engkau limpahkan bagi kami, walau tidak dapat disangkal kami seringkali kurang sabar dalam menghadapi segala sesuatu; malah mengkondisikan diri kami kuatir dan gelisah. Kami mohon, tambahkanlah iman kepercayaan kami kepadaMu. Amin.

Contemplatio
’Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain’

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

RENUNGAN: 16 JUNI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo

Matius 5:43-48

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Kita semua menyadari bahwa kita adalah manusia yang penuh keterbatasan. Bahkan para kudus pun bukan orang-orang yang tidak pernah berbuat salah. Mereka juga pernah mengalami kelemahan, pergumulan, dan jatuh bangun dalam hidup rohani mereka. Namun hari ini kita mendengar Sabda Yesus yang seakan tidak masuk akal dan cukup menantang kita. Dia berkata: “Kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.” (Mat. 5:48)   Mengapa demikian? Sebab ketika mendengar kata “sempurna”, seringkali yang terlintas dalam pikiran kita adalah seseorang yang tidak pernah berbuat salah, tidak pernah jatuh dalam dosa, tidak pernah marah, tidak pernah gagal. Jika demikian pengertiannya, tentu kita akan merasa bahwa tuntutan Yesus terlalu tinggi dan hampir mustahil untuk dicapai.

Lalu, apa yang dimaksud Yesus dengan kesempurnaan? Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat konteks Injil hari ini. Sebelum mengucapkan kalimat tersebut, Yesus berbicara tentang mengasihi musuh, mendoakan mereka yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada orang yang tidak berbuat baik kepada kita. Dengan kata lain, kesempurnaan yang dimaksud Yesus bukan pertama-tama kesempurnaan tanpa cacat, melainkan kesempurnaan dalam kasih. Yesus berkata bahwa Allah Bapa menerbitkan matahari bagi orang baik dan orang jahat. Hujan turun bagi orang benar maupun orang yang tidak benar. Allah tidak memilih-milih kepada siapa Ia akan menunjukkan kasih-Nya. Kasih-Nya melampaui perhitungan manusia. Biasanya kita mengasihi orang yang mengasihi kita. Kita baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita menghormati orang yang menghormati kita. Itu adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi. Tetapi Yesus meminta sesuatu yang lebih. Murid Kristus dipanggil untuk mengasihi bahkan ketika tidak menerima balasan. Mengampuni bahkan ketika tidak diminta maaf.  Mendoakan bahkan mereka yang menyakiti hati kita. Mengapa? Karena itulah cara Allah mengasihi.

Saudara-saudari,

Kalau kita melihat perjalanan hidup kita masing-masing, bukankah kita semua pernah mengalami kasih Allah yang demikian? Berapa kali kita jatuh dalam kelemahan? Berapa kali kita mengecewakan Tuhan? Berapa kali kita kurang setia dalam doa, kurang sabar, kurang mengasihi? Namun Tuhan tidak pernah berhenti mengasihi kita. Setiap pagi kita masih diberi kehidupan. Setiap hari kita masih menerima berkat-Nya. Setiap kali datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat, Ia selalu membuka pintu pengampunan. Kalau Allah memperlakukan kita seperti itu, maka Yesus mengajak kita memperlakukan sesama dengan cara yang sama. Tentu ini tidak mudah. Mungkin ada orang yang pernah melukai hati kita. Mungkin ada anggota keluarga yang membuat kita kecewa. Mungkin ada sahabat yang mengkhianati kepercayaan kita. Bahkan mungkin ada luka yang sudah bertahun-tahun kita simpan. Yesus tidak mengatakan bahwa luka itu tidak nyata. Yesus juga tidak meminta kita berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tetapi Yesus mengundang kita untuk tidak membiarkan luka itu berubah menjadi kebencian yang menguasai hati kita. Karena kebencian pertama-tama melukai diri kita sendiri. Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil lagi: lebih sabar daripada kemarin, lebih murah hati daripada kemarin, lebih mudah mengampuni daripada kemarin, lebih setia kepada Tuhan daripada kemarin. Jika kita terus berjalan dalam kasih, maka sedikit demi sedikit kita akan semakin menyerupai Bapa di surga.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar sedikit demi sedikit hati kita semakin menyerupai hati Bapa: hati yang penuh kasih, belas kasih, dan pengampunan. Sebab di situlah letak kekudusan dan kesempurnaan sejati.

Sebaliknya, pengampunan membebaskan hati kita. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Mengapa harus berdoa? Karena sering kali kita tidak mampu mengampuni dengan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan rahmat Tuhan. Ketika kita mulai mendoakan seseorang yang menyakiti kita, perlahan-lahan Tuhan melembutkan hati kita. Mungkin luka itu belum langsung hilang, tetapi hati kita mulai dibebaskan dari kepahitan.

Saudara-saudari,

Para kudus memahami bahwa inti kekudusan bukanlah melakukan hal-hal yang luar biasa, melainkan bertumbuh dalam kasih.

Santo Alfonsus Maria de Liguori berkata:

“Seluruh kekudusan dan kesempurnaan jiwa terdiri dalam mengasihi Yesus Kristus.”

Kalimat ini sangat indah. Santo Alfonsus tidak mengatakan bahwa kesempurnaan terletak pada pengetahuan yang luas, jabatan yang tinggi, atau karya yang besar. Kesempurnaan terletak pada kasih kepada Yesus.

Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita ingin hidup seperti Dia. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita mampu mengampuni. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita belajar mengasihi orang lain.

Hal yang sama ditegaskan oleh Santa Theresia dari Lisieux. Ia berkata:

“Aku tidak mengetahui jalan lain untuk mencapai kesempurnaan selain kasih.”

Santa Theresia tidak melakukan karya-karya besar yang menggemparkan dunia. Ia hidup sederhana di biara. Namun Gereja mengakui dia sebagai orang kudus yang besar karena ia melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.

Inilah pelajaran penting bagi kita.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk menjadi kudus kita harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Padahal Tuhan lebih melihat kasih yang ada di dalam hati kita.

Senyum yang tulus.

Kata-kata yang menghibur.

Kesabaran menghadapi anggota keluarga.

Kesediaan mengampuni.

Kesetiaan dalam doa.

Semua itu mungkin tampak kecil, tetapi sangat berharga di mata Tuhan bila dilakukan dengan kasih.

Maka ketika Yesus berkata, “Hendaklah kamu sempurna,” Ia sebenarnya mengundang kita untuk semakin sempurna dalam mengasihi Tuhan dan sesama.

Saudara-saudari terkasih,

Kesempurnaan Kristen bukanlah keadaan yang langsung dicapai dalam satu hari. Itu adalah perjalanan seumur hidup.

Translate »