Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Sabtu Pekan Biasa V

Sabtu Pekan Biasa V

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
14 Februari 2026
1Raj 12: 26-32 + Mzm 106 + Mrk 8: 1-10

Lectio
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Meditatio
Dari tujuh roti berapa roti yang diberikan para murid untuk dibagikan? 7 x A = (4.000 x B) + 70. Inilah prakiraan rumusan pergandaan roti yang dikerjakan Yesus. A menyatakan dari ketujuh roti hendak dikalikan berapa, sehingga memenuhi kebutuhan semua orang yang hadir pada saat itu. B menyatakan rata-rata berapa orang mampu makan roti yang disajikan itu. Mereka orang-orang yang lapar. Mungkin cukup hanya satu biji, bahkan ada yang hanya separuh saja. 70 adalah 7 bakul sisa roti yang memang harus ditambahkan dalam jumlah pergandaan ketujuh roti itu.
Namun yang jelas ‘Ia menjadikan segala-galanya baik’, kalau kemarin yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata’, hari ini yang lapar dijadikanNya kenyang. Demikian juga, karena belaskasihNya air dijadikanNya anggur, yang mati dihidupkan, yang berdosa si pejahat itu dijadikan penghuni surga, dan kita yang dahulu jauh dijadikanNya dekat dan beroleh selamat. Kiranya semua peristiwa itu menjadikan kita semakin percaya dan mengandalkan Dia dalm keseharian hidup kita.

Oratio
Ya Yesus Kristus, Engkau menjadikan segala-galanya baik adanya. Semoga karena kebaikan dan kasihMu itu, kami semakin berani mendekatkan diri hanya kepadaMu; dan kami pun siap berbagi kasih kepada sesame kami. Amin.

Contemplatio
‘Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh’.

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 13-02-2026

Dalam kisah ini, kita bertemu dengan seorang pria yang terisolasi oleh sunyi dan ketidakmampuan berkata-kata. Ia berada di wilayah Dekapolis, tanah yang disebut dengan bangsa kafir. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Yesus tidak mengenal batas geografis maupun religius.

Sentuhan yang Personal

​Hal yang menarik ialah Yesus membawa orang itu keluar dari orang banyak agar mereka sendirian. Yesus tidak memperlakukannya sebagai objek tontonan atau sekadar “kasus” medis. Yesus memberikan perhatian penuh. Terkadang, untuk menjadikan hidup saya dan Anda “baik”, Yesus perlu membawa kita menjauh sejenak dari kebisingan dunia agar kita bisa merasakan sentuhan-Nya secara pribadi.

“Efata!”: Terbukalah

​Kata “Efata!” bukan sekadar perintah agar telinga terbuka, tetapi sebuah perintah ilahi agar seluruh hambatan dalam hidup seseorang disingkirkan. Yesus menengadah ke langit dan mengeluh (berdesah). Desahan ini menunjukkan empati yang mendalam. Yesus turut merasakan beratnya penderitaan manusia. ​Hasilnya sungguh luar biasa bahwa yang tuli mendengar, yang gagap bicara dengan jelas. Kekacauan fisik dikembalikan kepada rancangan aslinya yang sempurna.

“Ia Menjadikan Segala-galanya Baik”

​Kalimat penutup dari orang banyak yang tersirat pada ayat 37 adalah inti dari seluruh kisah dalam perikop ini: “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Kalimat ini menggema kembali ke kitab Kejadian, saat Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan-Nya dan berkata bahwa itu “sungguh amat baik.” Dunia yang telah rusak oleh dosa, sakit penyakit, dan isolasi, sedang “diciptakan ulang” oleh Yesus. Yesus tidak melakukan pekerjaan setengah-setengah. Yesus tidak hanya menyembuhkan telinga, tapi juga memulihkan martabat dan relasi sosial orang tersebut.

​Satu refleksi sederhana yang seringkali terjadi dalam hidup kita adalah kita tidak jarang merasa hidup kita berantakan, komunikasi terputus, atau merasa “tuli” terhadap suara Tuhan. Namun, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa​Yesus sanggup masuk ke area yang paling rusak dalam hidup kita dan memperbaikinya. ​Kebaikan versi Tuhan mungkin diawali dengan proses yang membuat kita merasa tidak nyaman (dibawa menjauh dari keramaian), tetapi akhirnya selalu membawa pemulihan. ​Tugas saya dan Anda adalah percaya bahwa di tangan Sang Pencipta, tidak ada yang terlalu rusak untuk diperbaiki.

​”Ia menjadikan segala-galanya baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.” (Markus 7:37)

​(RD Daniel Aji Kurniawan)

Hati yang murni

Hati yang murni

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 7:14-23

Rabu, 11 Februari 2026

Ada sebuah peribahasa, “Pikir itu pelita hati” artinya ‘menggunakan akal budi dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan baik menjadikan seseorang lebih bijaksana’. Dalam hidup dan kehidupan ini sering kita jumpai kemasan makanan bertuliskan halal. Semua orang tahu bahwa produk yang memuat tulisan tersebut layak dan boleh dikonsumsi. Sebaliknya jika suatu produk tidak memuat tulisan tersebut berkonotasi sebagai makanan haram. Semua ketentuan tersebut tentu dilandasi dengan maksud dan tujuan yang baik. Namun jika kita refleksikan lebih mendalam hal tersebut tidak menyentuh bagian terpenting dalam diri manusia yaitu hati.

Dalam warta injil hari ini Tuhan Yesus menegaskan, “Tidak ada sesuatu pun dari luar seseorang yang masuk ke dalam dirinya dapat menajiskannya, melainkan hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya.” [Mark 7:15]. Dengan sabda tersebut Ia mengajak kita untuk memahami makna sejati dari kata “najis”. Bagi Yesus najis tidak terletak pada makanan atau minuman yang masuk ke dalam mulut, melainkan pada sesuatu yang keluar dari hati, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan” [Mark 7:21-22]. Dengan kata lain, Tuhan Yesus mengajak kita untuk masuk lebih dalam ke lubuk terdalam dari hati kita. Ia mengajak kita untuk mengolah hati kita, sehingga hati kita menjadi hati yang bersih, suci, murni. Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari iri hati, dendam, cemburu dan hal-hal negatif lainnya.

Yesus melalui karya keselamatan-Nya, menyediakan solusi bagi kenajisan hati manusia. Ia menguduskan kita melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib. Sebagai seorang pengikut Kristus, telah dibaptis, kita perlu melihat hati kita dan bertanya  sudahkah kita menanggapi kasih Kristus dan menyucikan hati kita dengan bertobat? Pertobatan sejati menjadikan hati kita murni. Tobat sejati lahir dari iman, harapan dan kasih, bukan dari rasa takut akan hukuman.

RENUNGAN: 10 FEBRUARI 2026

RENUNGAN: 10 FEBRUARI 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 7:1-13

Saudara-saudari terkasih,

Ada seorang ibu yang dikenal sangat rajin ke gereja. Setiap hari Minggu, ia datang paling awal, selalu duduk di bangku depan, berdoa dengan rosario di tangan. Semua orang menghormatinya sebagai contoh umat yang saleh. Namun suatu hari, setelah misa, ada anak kecil tanpa sengaja menumpahkan air di dekat bangkunya. Ibu itu langsung marah besar, memarahi anak itu dan ibunya di hadapan banyak orang. Anak itu menangis ketakutan. Beberapa orang di sekitar hanya bisa diam, tetapi dalam hati mereka berkata: “Sayang sekali, ia begitu rajin ke gereja, tapi hatinya masih mudah marah.”

Kisah sederhana ini menggambarkan apa yang Yesus maksud dalam Injil hari ini: iman sejati tidak diukur dari apa yang tampak di luar, tetapi dari hati yang tulus di hadapan Allah. Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang sibuk dengan kebersihan tangan, dengan cuci wadah, kendi, dan peralatan; tetapi lupa membersihkan hatinya. Mereka mengira bahwa kesucian diukur dari kepatuhan pada aturan lahiriah. Yesus mengingatkan: “Bukan apa yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati.”

Saudara-saudari, kita pun bisa terjebak dalam hal yang sama. Kita bisa rajin mengikuti misa, berdoa panjang, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi kalau hati kita masih dipenuhi iri, benci, atau kesombongan; kita belum sungguh bersih di hadapan Allah. Tuhan tidak hanya melihat tangan yang bersih, tetapi hati yang jernih. Tidak cukup berdoa dengan bibir, tetapi harus juga dengan hati yang mengasihi.

Orang Farisi dalam Injil itu tampak sangat taat dan saleh, tetapi Yesus tahu isi hati mereka. Mereka lebih peduli pada bagaimana orang lain melihat mereka daripada bagaimana Allah melihat hati mereka. Yesus menyebut orang seperti itu sebagai “munafik.” Ia berkata: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Kemunafikan rohani adalah ketika kita tampak religius, tetapi kehilangan kasih. Kita rajin doa, tetapi sulit mengampuni. Kita ikut misa, tapi mudah menghakimi. Kita menyebut nama Tuhan, tapi enggan berbelas kasih pada yang menderita. Tuhan tidak mencari umat yang sempurna secara lahiriah, melainkan hati yang rendah dan jujur di hadapan-Nya. Ia lebih senang mendengar doa dari hati yang remuk karena cinta, daripada doa panjang dari hati yang sombong.

Saudara-saudari terkasih.

Yesus tidak menolak tradisi atau aturan. Ia tidak melarang orang mencuci tangan atau mengikuti adat. Tetapi Ia menegaskan: semua itu harus menjadi jalan menuju perjumpaan dengan Allah, bukan pengganti perjumpaan itu. Doa, misa, dan devosi adalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah relasi kasih dengan Allah. Iman sejati bukan pertunjukan di depan manusia, melainkan relasi pribadi dengan Tuhan.  

Hari ini Yesus mengajak kita memperbarui batin: agar doa menjadi perjumpaan, bukan rutinitas; agar pelayanan menjadi ungkapan cinta, bukan kewajiban; agar ibadah menjadi pengalaman kasih, bukan pertunjukan kesalehan. Marilah hari ini kita mohon rahmat agar setiap doa, setiap misa, setiap pelayanan, sungguh menjadi jalan untuk menyucikan hati dan memperdalam cinta kita kepada Tuhan. Semoga kita menjadi murid-murid Kristus yang tidak hanya “terlihat baik”, tetapi sungguh baik dari hati, sebab dari hati yang murni, kasih Allah terpancar bagi dunia.

Disentuh oleh Iman

Disentuh oleh Iman

(Markus 6:53-56)

Salam Damai dalam Kristus Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,

Pernahkah melihat orang sakit yang rela antre panjang hanya untuk bertemu satu dokter tertentu, karena percaya dokter itu bisa menyembuhkan? Rasa lelah, panas, dan waktu yang terbuang seolah tidak berarti dibandingkan harapan akan kesembuhan. Keyakinan itulah yang menggerakkan langkah mereka. Gambaran ini membantu kita memahami sikap orang-orang dalam Injil hari ini.

Dalam Injil hari ini, ke mana pun Yesus pergi, orang-orang segera mengenali-Nya. Mereka membawa orang-orang sakit dan meletakkan mereka di tempat umum agar dapat bertemu dengan Yesus. Bahkan menyentuh jumbai jubah-Nya saja sudah cukup bagi mereka untuk berharap akan kesembuhan. Iman yang sederhana namun penuh keyakinan membuka jalan bagi karya penyelamatan Allah.

Yesus tidak menolak kerumunan itu, meskipun Ia pasti lelah setelah perjalanan panjang. Ia membiarkan diri-Nya “didekati”, disentuh, dan diharapkan. Kesembuhan yang terjadi bukan semata karena sentuhan fisik, melainkan karena iman yang hidup. Dalam iman Katolik, iman yang sungguh selalu menggerakkan manusia untuk datang kepada Kristus dan menyerahkan diri kepada-Nya.

Injil ini menegaskan bahwa Yesus selalu dekat dengan penderitaan manusia. Ia hadir di tengah keramaian hidup kita, dengan segala luka dan kelemahan yang kita bawa. Pertanyaannya bukan apakah Yesus mau menyembuhkan, melainkan apakah kita mau datang dan percaya. Iman yang sederhana namun teguh membuka ruang bagi rahmat Tuhan untuk bekerja.

Poin Refleksi

  • Apakah saya sungguh datang kepada Yesus dengan iman, atau hanya dengan kebiasaan?
  • Luka dan kelemahan apa yang perlu saya bawa kepada Tuhan hari ini?
  • Bagaimana iman saya dapat menjadi kesaksian bagi orang lain?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, kami percaya Engkau hadir dan peduli pada kelemahan kami. Kuatkan iman kami agar berani datang dan menyerahkan diri kepada-Mu. Sentuhlah hidup kami dengan rahmat-Mu yang menyembuhkan. Amin.

Rm Dimas Caesario

Malang, 9 Februari 2026

Translate »