Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XXV A

Minggu Biasa XXV A


(Yes. 55:6-9; Flp. 1:27c-24.27a; Mat. 20:1-16)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita diajak merenungkan betapa besar
kekuatan pengampunan dalam kehidupan kita. Pengampunan membebaskan hati dari
luka, kemarahan, dan keinginan untuk terus menghitung kesalahan orang lain. Hari ini,
Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih dalam yakni untuk berhenti menghitung
jasa, prestasi, dan hak kita di hadapan Tuhan. Sebab sering kali kita memang mudah
mengampuni orang lain, tetapi diam-diam kita masih menyimpan buku catatan di
dalam hati, “Saya sudah melakukan ini; saya sudah berkorban sekian; saya sudah
melayani sekian lama; mengapa orang itu mendapatkan yang sama dengan saya?” Di
situlah perumpamaan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur menjadi sangat
menyentuh kehidupan kita. Persoalannya ternyata bukan hanya tentang upah.
Persoalannya adalah tentang cara kita memandang Allah dan cara kita memandang
sesama.
Yesus menceritakan seorang tuan rumah yang sejak pagi-pagi benar keluar
mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Ia datang lagi sekitar pukul sembilan, pukul
dua belas, pukul tiga, bahkan sampai pukul lima sore. Menarik bahwa Yesus tidak
hanya mengatakan bahwa tuan itu “mempekerjakan” mereka. Berkali-kali ia keluar
mencari mereka. Mereka yang sejak pagi belum mendapatkan pekerjaan tetap dicari.
Mereka yang datang terlambat pun tidak dibiarkan begitu saja. Ketika ditanya mengapa
mereka menganggur, mereka menjawab sederhana, “Karena tidak ada orang yang
mengupah kami.” Jawaban itu memperlihatkan sebuah kenyataan yang sangat
manusiawi, ada orang yang ingin bekerja, tetapi tidak mendapatkan kesempatan; ada
orang yang ingin berbuat baik, tetapi tidak diberi ruang; ada orang yang sebenarnya
memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah dianggap penting. Dan Tuhan datang mencari
mereka.
Di sinilah kita dapat memahami wajah Allah dalam Injil hari ini. Allah bukanlah
Tuhan yang duduk jauh di atas takhta sambil menunggu manusia datang kepada-Nya.
Allah adalah Tuhan yang keluar mencari manusia. Ia mencari kita ketika kita masih kuat,
tetapi juga ketika kita sudah merasa terlambat. Ia mencari kita ketika hidup kita sedang
berada di puncak, tetapi juga ketika kita merasa gagal, tersisih, atau tidak lagi berguna.
Bahkan ketika kita merasa bahwa hidup kita sudah terlalu jauh dari Tuhan, Tuhan tidak
berkata, “Kamu terlambat.” Ia justru keluar dan berkata, “Pergilah juga ke kebun
anggur-Ku.”
Gambaran ini sangat indah bila kita hubungkan dengan bacaan pertama. Nabi
Yesaya berkata, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya
selama Ia dekat!” Tetapi kemudian Yesaya menyampaikan sesuatu yang lebih dalam,
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” Inilah
kunci untuk memahami Injil hari ini. Kita sering mengukur Tuhan dengan ukuran kita
sendiri. Kita berpikir bahwa karena seseorang bekerja lebih lama, ia pasti harus
mendapatkan lebih banyak. Karena seseorang datang lebih dahulu, ia pasti lebih
berhak. Karena saya sudah lama melayani Gereja, saya merasa lebih layak. Karena
saya sudah banyak berkorban, saya merasa Tuhan seharusnya memberi saya lebih.
Tetapi Tuhan berkata, “Jalan-Ku bukan jalanmu, dan rancangan-Ku bukan
rancanganmu.”
Allah memang adil, tetapi keadilan Allah tidak pernah dapat dipisahkan dari kasih
dan kemurahan hati-Nya. Para pekerja yang datang pagi-pagi menerima satu dinar,
demikian juga mereka yang datang belakangan. Apakah tuan kebun merugikan mereka
yang bekerja sejak pagi? Tidak. Ia memberikan kepada mereka tepat seperti yang telah
disepakati. Yang membuat mereka kecewa bukan karena mereka menerima kurang,
melainkan karena orang lain menerima sama banyaknya. Di sinilah muncul penyakit
yang sering kali sangat halus dalam kehidupan kita: iri hati terhadap kebaikan yang
diterima orang lain. Kita mungkin tidak kehilangan apa-apa, tetapi kita tidak bahagia
ketika melihat orang lain mendapatkan sesuatu yang baik.
Bukankah hal seperti ini sering terjadi dalam hidup kita? Kita senang ketika anak
kita berhasil, tetapi mengapa hati kita menjadi tidak nyaman ketika anak tetangga lebih
berhasil? Kita bersyukur ketika Tuhan memberi kita berkat, tetapi mengapa kita mulai
bertanya ketika melihat orang lain mendapat berkat yang lebih besar? Kita tidak
kekurangan, tetapi kita merasa kurang karena membandingkan diri dengan orang lain.
Kita sebenarnya menerima kasih Tuhan, tetapi kasih itu terasa kecil karena kita sibuk
menghitung kasih yang diberikan Tuhan kepada orang lain.
Karena itu, perkataan tuan kebun dalam Injil menjadi teguran yang sangat dalam:
“Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” Dalam bahasa lain, Tuhan seakan-akan
bertanya kepada kita, “Mengapa kebaikan-Ku kepada orang lain membuatmu tidak
bahagia?” Bukankah ini pertanyaan yang pantas kita bawa pulang hari ini? Kadangkadang kita bukan marah karena Tuhan tidak memberkati kita. Kita marah karena Tuhan
memberkati orang lain dengan cara yang tidak kita mengerti.
Saudara-saudariku terkasih, di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada
jemaat di Filipi memberi kita jalan keluar. Paulus berkata bahwa baginya hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia berada dalam suatu pergulatan, tinggal di dunia
berarti masih dapat melayani dan menghasilkan buah, sedangkan pergi bersama
Kristus berarti masuk ke dalam kepenuhan hidup. Namun Paulus tidak lagi hidup
dengan menghitung keuntungan bagi dirinya sendiri. Orientasi hidupnya telah berubah:
“Yang penting, hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus.” Inilah aplikasi yang sangat
konkret dari Injil hari ini. Orang yang hidup menurut Injil tidak lagi bertanya pertamatama, “Apa yang saya dapat?” tetapi, “Apa yang dapat saya berikan?” Ia tidak sibuk
menghitung berapa banyak penghargaan yang diterimanya, melainkan apakah
hidupnya menghasilkan buah bagi Tuhan dan bagi sesama.
Paulus adalah contoh yang sangat kuat. Ia yang dahulu mengejar dan menganiaya
para pengikut Kristus justru kemudian dipanggil menjadi pewarta Injil. Kalau Allah
menggunakan logika manusia semata, mungkin Paulus tidak akan pernah
mendapatkan kesempatan kedua. Tetapi Allah tidak bekerja demikian. Allah melihat
bukan hanya masa lalu seseorang, melainkan juga kemungkinan masa depannya. Itulah
sebabnya pertobatan selalu mungkin. Itulah sebabnya Gereja tidak boleh menjadi
tempat bagi orang-orang yang merasa dirinya sudah sempurna, melainkan rumah bagi
orang-orang yang terus-menerus dipanggil untuk bertobat dan bertumbuh.
Kita dapat melihat wajah Allah yang sama dalam perumpamaan tentang anak yang
hilang dalam Lukas 15. Anak bungsu pergi, menghabiskan hartanya, dan kembali dalam
keadaan hancur. Sang kakak yang setia justru merasa tidak diperlakukan adil ketika
melihat bapanya menyambut adiknya dengan pesta. Bukankah reaksinya sangat mirip
dengan para pekerja yang bekerja sejak pagi? Mereka berpikir, “Kami sudah lama setia.
Mengapa dia mendapatkan perlakuan yang sama?” Tetapi sang bapa menjawab
dengan kasih, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala
kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Dengan kata lain, kasih tidak selalu berarti
pembagian yang sama menurut hitungan manusia; kasih berarti memberikan kepada
setiap orang apa yang dibutuhkannya untuk hidup dan kembali kepada kepenuhan.
Karena itu, perumpamaan hari ini juga berbicara kepada kita tentang orang-orang
yang merasa dirinya “datang terlambat” kepada Tuhan. Mungkin ada orang yang baru
sekarang mulai kembali ke Gereja. Mungkin ada yang selama bertahun-tahun jauh dari
Tuhan karena kecewa, terluka, atau tersesat. Mungkin ada seseorang yang baru
menemukan kembali imannya setelah mengalami kegagalan besar. Janganlah kita
berkata, “Mengapa baru sekarang?” Sebaliknya, marilah kita bersyukur, “Syukurlah, ia
sudah kembali.” Surga tidak pernah iri terhadap pertobatan seseorang. Yesus sendiri
berkata bahwa ada sukacita besar di surga karena satu orang berdosa yang bertobat
(bdk. Luk. 15:7).
Lebih jauh lagi, Injil hari ini mengajak kita melihat bahwa setiap orang masih
memiliki tempat dalam kebun anggur Tuhan. Tidak ada istilah “terlambat” bagi Allah.
Selama seseorang masih hidup, Tuhan masih dapat memanggilnya. Selama seseorang
masih memiliki hati, ia masih dapat mengasihi. Selama seseorang masih memiliki
kesempatan, ia masih dapat berbuat baik. Bahkan mungkin ada di antara kita yang
merasa bahwa dirinya tidak lagi banyak berguna karena usia, penyakit, kegagalan, atau
keadaan hidup tertentu. Sabda Tuhan hari ini berkata, Tuhan masih keluar mencari kita.
Masih ada tempat bagi kita di kebun anggur-Nya.
Kebun anggur Tuhan itu adalah dunia tempat kita hidup sekarang. Keluarga kita
adalah kebun anggur Tuhan. Lingkungan kerja kita adalah kebun anggur Tuhan.
Komunitas dan lingkungan Gereja adalah kebun anggur Tuhan. Bahkan media sosial,
ruang akademik, dan kehidupan masyarakat kita adalah bagian dari kebun anggur
tempat kita dipanggil untuk bekerja. Karena itu, menjadi orang Katolik bukan sekadar
datang ke gereja pada hari Minggu. Kita dipanggil untuk menjadi pekerja-pekerja Tuhan
yang menghadirkan kebaikan, kejujuran, pengampunan, solidaritas, dan kasih di mana
pun kita berada.
Namun ada satu hal yang perlu kita waspadai, jangan sampai kita sudah lama
bekerja di kebun anggur Tuhan, tetapi hati kita justru menjadi seperti pekerja yang iri
tadi. Jangan sampai pelayanan membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.
Jangan sampai lama menjadi umat membuat kita merasa lebih berhak daripada mereka
yang baru datang. Jangan sampai pengalaman, jabatan, atau pengorbanan membuat
kita lupa bahwa sejak awal kita semua hanyalah orang-orang yang dipanggil oleh
kemurahan hati Allah. Kita tidak berada di kebun anggur karena kita lebih hebat. Kita
berada di sana karena Tuhan terlebih dahulu keluar mencari dan memanggil kita.
Maka, saudara-saudari terkasih, mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukanlah,
“Berapa banyak yang sudah saya kerjakan untuk Tuhan?” Melainkan, “Apakah hati saya
masih bersukacita ketika Tuhan berbuat baik kepada orang lain?”
Yesaya mengingatkan kita, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.” Paulus
mengingatkan kita, “Hiduplah berpadanan dengan Injil Kristus.” Dan Yesus
mengingatkan kita melalui kebun anggur, jangan iri terhadap kemurahan hati Allah.
Ketiganya bertemu pada satu pesan, Allah jauh lebih besar daripada perhitungan kita.
Jalan-Nya lebih tinggi daripada jalan kita. Kasih-Nya lebih luas daripada ukuran kita.
Dan rahmat-Nya tidak dapat dipenjarakan oleh kalkulasi manusia.
Maka marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sederhana. Kalau kita
sudah lama melayani, bersyukurlah. Kalau kita baru mulai kembali, bersyukurlah. Kalau
kita sedang kuat, bekerjalah. Kalau kita sedang lemah, jangan menyerah. Kalau kita
melihat orang lain menerima berkat, belajarlah bersukacita. Sebab dalam Kerajaan
Allah, keberhasilan orang lain bukanlah kegagalan kita. Pertobatan orang lain bukanlah
ancaman bagi kita. Berkat yang diterima orang lain tidak mengurangi kasih Tuhan
kepada kita. Kasih Allah bukan kue yang kalau diberikan kepada orang lain lalu bagian
kita menjadi lebih kecil. Kasih Allah justru semakin besar ketika dibagikan.
Akhirnya, marilah kita mengingat bahwa pada suatu hari nanti kita semua akan
berdiri di hadapan Tuhan bukan dengan membawa daftar panjang jasa kita, melainkan
dengan tangan terbuka menerima rahmat-Nya. Pada saat itu kita akan sadar bahwa
sejak awal bukan kita yang pertama-tama mencari Tuhan, melainkan Tuhanlah yang
terus-menerus mencari kita. Ia keluar pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan pada
saat hidup kita hampir berakhir. Dan ketika Ia menemukan kita, Ia berkata, “Pergilah
juga ke kebun anggur-Ku.”
Semoga kita tidak hanya menjadi pekerja yang rajin, tetapi juga menjadi pekerja
yang murah hati. Tidak hanya setia bekerja, tetapi juga mampu bersukacita atas
kebaikan Tuhan kepada orang lain. Tidak hanya menghitung apa yang sudah kita
lakukan, tetapi juga menyadari betapa banyak yang telah Tuhan lakukan bagi kita.
Sebab pada akhirnya, kita semua hidup bukan karena jasa kita, melainkan karena
rahmat-Nya. Dan rahmat itulah yang membuat kita tetap berdiri, tetap berharap, tetap
mengasihi, dan tetap berjalan menuju Kerajaan-Nya. Tuhan memberkati kita semua.
Amin.

Sabtu Pekan Biasa XXIV

Sabtu Pekan Biasa XXIV

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
19 September 2026
1Kor 15: 35-49 + Mzm 56 + Luk 8: 4-15

Lectio
Pada waktu itu Yesus bersabda: “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Meditatio
Yesus telah memberikan keterangan tentang biji yang ditaburkan dan jatuh di aneka tanah yang berbeda satu sama lainnya. Masih sulitkah memahaminya bagi kita orang yang hidup di jaman sekarang ini?
‘Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’, tegas Yesus kepada para muridNya, kepada kita semua. Kita bukan hanya mempunyai telinga untuk mendengar, melainkan mempunyai hati dan budi untuk merenungkannya. Kita tentunya tidak ingin menjadi pendengar dan melupakannya, melainkan benar-benar pelaksana sabdaNya. Bukankah sabdaNya adalah Roh dan Kebenaran? Bukankah sabdaNya adalah pelita kehidupan? Bukankah kita juga sudah diangkat menjadi saudara dan saudari Yesus, yang siap melaksanakan sabda dan kehendakNya? Mari kita tanggapi sabdaNya, kita renungkan dan kita praktekkan dalam keseharian kita.

Oratio
Yesus Kristus, Engkaulah Penyelamat kami. Engkau menaburkan sabdaMu kepada seluruh umat manusia, karena Engkau memgehendaki kami semua beroleh keselamatan. Semoga kami berani mendengarkan sabdaMu dan melaksanakannya, karena kami pun ingin hidup dengan indahnya dan menikmati keselamatanMu. Amin.

Contemplatio
‘Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’.

Salah gambar

Salah gambar

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Lukas 7:31-35

Rabu 16 September 2026

Pw St. Kornelius, Paus dan Siprianus, Uskup – Martir

“Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” [Luk. 7:32]. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa kaum Farisi dan ahli Taurat salah menggambar Mesias. Konyolnya mereka hidup dan percaya pada gambaran yang salah itu. Kekerasan hati dan keangkuhan religius telah membutakan hati mereka. Akibatnya mereka  menolak kebaikan Allah melalui baptisan Yohanes [Luk. 7:30]. Yohanes telah datang dan hidup seperti seorang pertapa, hidup penuh matiraga, tidak makan dan tidak minum anggur, namun orang banyak – termasuk orang-orang Farisi dan para ahli Taurat – berkata, “Ia kerasukan setan”. Selanjutnya ketika Yesus datang dan hidup seperti orang-orang pada umumnya [makan dan minum], mereka berkata, “Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” [Luk. 7:33-34]. Di mata mereka, tindakan Yohanes dan Yesus tidak ada yang benar. Sebaik apa pun yang dilakukan Yohanes maupun Yesus, di mata mereka tidak ada yang baik dan benar. Komentar mereka selalu negatif, karena bersumber dari hati yang jahat. Dengan kata lain, mereka bukanlah orang-orang berhikmat [Luk 7: 35]. Mereka benar-benar salah gambar.

Gambaran salah, informasi yang tidak mencukupi, seringkali melahirkan pelbagai keangkuhan religius dalam komunitas, hidup bersama. Tindakan baik yang dilakukan oleh seseorang dipandang dengan sebelah mata dan dikomentari dengan nada sumbang. Kenyataan semacam ini merupakan potret praktek beriman yang sangat dangkal, sekadar identitas dengan pola pikir yang sempit, dalam bahasa St. Paulus, “seperti gong yang berkumandang dan simbal yang gemerincing” [1Kor. 13:1].

Warta hari iniditutup dengan pernyataan, “hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya” [Luk 7:35]. Hikmat tidak lain adalah Tuhan sendiri sebagaima tampak dalam amsal, “Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu…” [Ams 2:10]. Semoga kita ditemukan Allah sebagai orang yang berhikmat. Semoga iman kita sungguh mendalam. Semoga kita memiliki gambar yang benar tentang Mesias.

SAAT LUKA MENJADI RUANG KASIH

SAAT LUKA MENJADI RUANG KASIH

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Tuhan,

Kita sering memandang salib seperti sebuah logo transaksi. Kalau ikut Yesus, hidup harusnya bebas dari luka, usaha lancar, dan penderitaan menjauh. Begitu penderitaan atau kegagalan datang, kita sibuk bertanya: “Di mana Tuhan? Kenapa salib ini harus saya pikul?” Tanpa sadar, kita memperlakukan Allah seperti berhala—sebuah pemicu keberuntungan yang jalannya harus selalu mulus.

​Melihat Salib dengan Kacamata Baru

Injil Yohanes 3:13-17 menawarkan sudut pandang yang sama sekali membalikkan logika dunia. Yesus merujuk pada peristiwa Musa yang meninggikan ular tembaga di padang gurun. Waktu itu, bangsa Israel bukan disembuhkan dengan cara menghilangkan ular-ular berbisa dari perkemahan mereka. Ular-ular itu tetap ada. Namun, siapa pun yang memandang ular tembaga yang ditinggikan, dia selamat.

​Pesta Pemuliaan Salib Suci hari ini bukan merayakan alat eksekusi mati yang kejam, melainkan merayakan transformasi makna. Allah tidak menyelamatkan kita dengan cara menghapus semua masalah, sakit hati, atau kegagalan dari dunia. Jika Allah melakukan itu, kita hanya akan menjadi manusia manja yang mencintai fasilitas-Nya, bukan mencintai Pribadi-Nya.

​Melalui Salib, Allah melakukan sesuatu yang jauh lebih tajam: Dia turun langsung ke dalam rahang penderitaan manusia. Salib adalah bukti bahwa tidak ada satu pun sudut tergelap dalam hidupmu—entah itu pengkhianatan, rasa kesepian, atau keputusasaan—yang tidak dihadiri oleh Allah. Salib bukan lagi simbol hukuman atau kekalahan, melainkan monumen cinta yang membongkar ketakutan terbesar manusia, yaitu kematian dan kesendirian.

​Memuliakan Salib berarti berani mengubah cara pandang. Penderitaan tidak lagi menjadi bukti absennya Tuhan, melainkan ruang paling intim di mana kasih Allah justru sedang bekerja paling keras. Kasih Allah dalam Yohanes 3:16 bukan kasih yang murah, melainkan kasih yang berani terluka agar kita tahu kita tidak pernah sendirian.

​Pertanyaan Reflektif

  1. ​Apakah selama ini kamu mengikut Yesus hanya untuk mencari “keselamatan yang nyaman”, atau siap menemukan kehadiran-Nya di tengah luka dan kegagalan?
  2. ​Saat penderitaan menyapa, apakah kamu sibuk menyalahkan keadaan, atau berani menatap Salib dan bertanya: “Tuhan, apa yang ingin Kau nyatakan lewat peristiwa ini?”
  3. ​Salib kehidupan mana yang sedang paling berat kamu pikul hari ini, dan bagaimana kamu bisa membiarkan kasih Allah mengubah makna salib itu?

​Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau tidak memilih jalur yang mudah untuk mencintai kami. Lewat Salib-Mu, Engkau mengubah alat penderitaan menjadi tanda kemenangan dan kasih yang sejati. Ajari kami untuk tidak lari dari salib-salib kecil kami sehari-hari, melainkan berani memandangnya bersama-Mu, sebab kami tahu di sanalah keselamatan kami berada. Amin.

R.D. Yusuf Dimas Caesario

Minggu Biasa XXIV A

Minggu Biasa XXIV A


(Sir. 27:30-28:7; Rom. 14:7-9; Mat. 18:21-35)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Minggu lalu kita merenungkan tentang bagaimana
kita dipanggil untuk hidup sebagai satu komunitas. Kita belajar bahwa hidup bersama
tidak selalu mudah. Ada perbedaan, kesalahpahaman, teguran, bahkan ada saat-saat
ketika kita saling melukai. Namun, sebagai orang beriman, kita tidak dipanggil untuk
membiarkan luka dan konflik menghancurkan persaudaraan. Kita dipanggil untuk terus
membangun relasi dalam kasih. Hari ini, Sabda Tuhan membawa kita selangkah lebih
dalam. Kalau kita sungguh ingin hidup dalam kasih, kita harus belajar mengampuni.
Pengampunan adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah
dilakukan. Mengatakan, “Saya mengampuni,” mungkin hanya membutuhkan beberapa
detik. Tetapi ketika hati kita sungguh terluka, mengampuni bisa membutuhkan waktu
yang panjang. Ada luka yang cepat sembuh, tetapi ada pula luka yang kita bawa
bertahun-tahun. Kadang-kadang lukanya sudah tidak kelihatan, tetapi ketika nama
orang itu disebut, hati kita masih terasa sakit. Ada pengalaman yang sudah berlalu,
tetapi setiap kali kita mengingatnya, kemarahan itu muncul kembali. Karena itu,
pertanyaan Petrus dalam Injil hari ini sebenarnya sangat manusiawi, “Tuhan, sampai
berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?
Sampai tujuh kali?” Petrus mungkin merasa bahwa tujuh kali sudah sangat murah hati.
Tetapi Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali
tujuh kali.” Artinya, Yesus tidak sedang mengajak kita menghitung berapa kali kita
sudah mengampuni. Ia mau mengatakan bahwa kasih dan pengampunan tidak boleh
dibatasi oleh hitungan manusia.
Mengapa Yesus meminta kita mengampuni sedemikian jauh? Karena sebelum
kita berbicara tentang pengampunan yang kita berikan kepada orang lain, kita perlu
menyadari betapa besar pengampunan yang telah kita terima dari Allah. Itulah yang
digambarkan Yesus melalui perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki
utang sangat besar. Ketika ia tidak mampu membayar, sang raja berbelas kasih dan
membebaskan seluruh utangnya. Tetapi ironisnya, hamba yang baru saja menerima
pengampunan yang begitu besar itu justru tidak mampu mengampuni sesamanya yang
berutang jauh lebih kecil kepadanya. Ia bahkan menangkap dan mencekik orang itu
sambil berkata, “Bayarlah hutangmu!”
Bukankah kadang-kadang kita juga seperti hamba itu? Kita datang kepada Tuhan
dan memohon, “Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Tuhan, sabarlah terhadap
kelemahanku. Tuhan, janganlah menghukum aku menurut kesalahanku.” Kita ingin
Tuhan memahami kelemahan kita. Kita ingin Tuhan memberi kesempatan kedua,
ketiga, bahkan berkali-kali. Dan Tuhan sungguh melakukannya. Tetapi ketika orang lain
melakukan kesalahan kepada kita, tiba-tiba standar kita berubah. Kita menjadi sangat
teliti menghitung kesalahan orang lain. Kita meminta Tuhan memakai kalkulator kasih,
tetapi kepada sesama kita kadang memakai kalkulator kesalahan.
Saudara-saudariku terkasih, bacaan pertama dari Kitab Sirakh berbicara dengan
sangat tegas tentang bahaya kemarahan dan dendam, “Dendam dan murka sangat
mengerikan, dan orang berdosa dikuasainya.” Mengapa? Karena dendam tidak hanya
merusak hubungan kita dengan orang lain. Dendam juga perlahan-lahan merusak diri
kita sendiri. Orang yang menyimpan dendam mungkin berpikir, “Saya tidak mau
memaafkan dia supaya dia merasakan akibat perbuatannya.” Tetapi sering kali yang
paling lama menderita justru bukan orang yang kita benci, melainkan diri kita sendiri.
Orang lain mungkin sudah tidur nyenyak, sementara kita masih memikirkan apa yang
dia lakukan. Orang lain mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih
membawa peristiwa itu dalam hati. Kita ingin menghukum orang lain, tetapi tanpa sadar
kita sedang menghukum diri sendiri.
Karena itu Sirakh berkata, “Ingatlah akhir hidupmu dan berhentilah bermusuhan.”
Kata-kata ini sederhana, tetapi sangat dalam. Suatu hari kita semua akan meninggalkan
dunia ini. Suatu hari semua persoalan yang sekarang terasa begitu besar akan menjadi
kecil. Pada akhirnya kita akan berdiri di hadapan Tuhan. Lalu untuk apa kita
menghabiskan begitu banyak energi untuk marah, menyimpan dendam, dan
memelihara kebencian? Pengampunan bukan hanya hadiah yang kita berikan kepada
orang yang menyakiti kita. Pengampunan juga merupakan pembebasan bagi diri kita
sendiri.
Ketika kita mengampuni, kita tidak mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang
itu benar. Kita tidak mengatakan bahwa ketidakadilan tidak penting. Kita juga tidak
harus berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah terjadi. Mengampuni berarti kita
memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hidup kita
selamanya. Kita menyerahkan hak untuk membalas kepada Tuhan dan membiarkan
hati kita perlahan-lahan dibebaskan dari kebencian. Dalam hal ini, pengampunan tidak
selalu berarti bahwa hubungan harus kembali seperti semula. Ada situasi tertentu yang
membutuhkan batas yang sehat, pertobatan, bahkan proses keadilan. Tetapi sebagai
orang kristiani, kita tidak boleh menjadikan luka sebagai alasan untuk membenci. Kita
boleh menjaga jarak, tetapi tidak perlu menyimpan kebencian. Kita boleh mencari
keadilan, tetapi tidak harus membalas dengan kejahatan.
Di sinilah bacaan kedua dari Surat Paulus kepada jemaat di Roma memberikan
dasar yang sangat indah. Paulus berkata, “Tidak ada seorang pun di antara kita yang
hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri.
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.”
Kalau hidup kita adalah milik Tuhan, maka hati kita pun seharusnya kita serahkan
kepada Tuhan. Jangan biarkan hati kita menjadi tempat tinggal kemarahan, dendam,
dan kebencian. Jangan biarkan satu orang yang pernah menyakiti kita mengambil terlalu
banyak ruang dalam hati kita sampai-sampai ia menguasai sukacita dan kedamaian
kita. Paulus mengingatkan bahwa kita hidup untuk Tuhan. Karena itu, kita tidak boleh
membiarkan hidup kita ditentukan oleh luka masa lalu. Kita tidak hidup untuk
membuktikan bahwa kita benar. Kita tidak hidup untuk membalas. Kita hidup untuk
Tuhan.
Kalau kita sungguh hidup untuk Tuhan, kita belajar melihat sesama bukan hanya
berdasarkan kesalahannya, tetapi juga sebagai pribadi yang dikasihi Allah. Orang yang
menyakiti kita tetaplah manusia yang membutuhkan rahmat, sama seperti kita yang
sering kali jatuh dan membutuhkan belas kasih Tuhan. Karena itu, pengampunan bukan
pertama-tama soal apakah orang lain layak diampuni. Pengampunan berakar pada
kenyataan bahwa kita sendiri telah lebih dahulu diampuni dan dikasihi oleh Allah. Kita
tidak mengampuni karena orang lain selalu baik kepada kita. Kita mengampuni karena
kita telah mengalami kasih Allah yang jauh lebih besar daripada kesalahan kita.
Ada sebuah peristiwa yang sangat kuat dalam kehidupan Yesus sendiri. Ketika
berada di kayu salib, setelah mengalami penghinaan, penyiksaan, dan penderitaan
yang begitu berat, Yesus masih berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka
tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Inilah puncak kasih Kristiani. Yesus tidak
membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tidak membiarkan kebencian menjadi kata
terakhir. Kasihlah yang menjadi kata terakhir.
Tentu kita tidak dapat mengampuni seperti Yesus hanya dengan kekuatan kita
sendiri. Ada luka yang terlalu dalam. Ada pengkhianatan yang sangat berat. Ada
pengalaman yang membuat kita berkata, “Saya tidak sanggup.” Dan mungkin memang
kita tidak sanggup. Tetapi di situlah kita dapat mulai dengan doa yang sederhana,
“Tuhan, saya belum mampu mengampuni. Tetapi saya mau belajar mengampuni.
Tolonglah hati saya.” Kadang-kadang pengampunan tidak dimulai dengan perasaan.
Kita mungkin belum merasa ikhlas. Kita masih sedih, masih kecewa, bahkan masih
menangis. Tetapi kita dapat mulai dengan sebuah keputusan, “Saya tidak mau
membalas. Saya serahkan orang ini kepada Tuhan.” Kemudian kita mengulanginya lagi
besok, dan lusa, dan minggu depan. Sedikit demi sedikit, Tuhan menyembuhkan hati
kita.
Karena itu, pengampunan bukan berarti kita tidak pernah terluka lagi ketika
mengingat masa lalu. Pengampunan berarti luka itu tidak lagi mengendalikan kita. Hati
kita tidak lagi menjadi penjara tempat kita menyimpan kesalahan orang lain. Kita
membebaskan mereka dari kewajiban untuk terus membayar kesalahannya kepada
kita, dan pada saat yang sama kita membebaskan diri kita sendiri dari beban untuk terus
mengingat dan membalasnya.
Saudara-saudariku terkasih, coba kita bayangkan kehidupan kita masing-masing.
Mungkin ada seseorang yang sampai hari ini sulit kita maafkan. Mungkin anggota
keluarga, sahabat, rekan kerja, tetangga, atau bahkan seseorang yang pernah sangat
dekat dengan kita. Mungkin orang itu pernah menghina, memfitnah, mengkhianati, atau
mengecewakan kita. Mungkin orang itu bahkan sudah lupa dengan apa yang pernah
dilakukannya, tetapi kita masih membawanya dalam hati. Sabda Tuhan hari ini
mengajak kita untuk perlahan-lahan melepaskannya. Bukan karena dia pantas
mendapatkannya, tetapi karena kita pantas mendapatkan kedamaian. Bukan karena
kesalahannya tidak penting, tetapi karena hidup kita terlalu berharga untuk terus
dikuasai oleh kebencian. Dan terutama, bukan karena kita lebih baik daripada dia,
tetapi karena kita sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan Allah.
Setiap kali kita mendoakan, “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun
mengampuni yang bersalah kepada kami,” sebenarnya kita sedang mengucapkan
sebuah doa yang sangat berani. Kita meminta Tuhan mengampuni kita sebagaimana
kita juga belajar mengampuni sesama. Karena itu, doa Bapa Kami bukan sekadar doa
yang kita ucapkan berulang-ulang. Doa itu sekaligus menjadi undangan untuk hidup
sesuai dengan apa yang kita doakan.
Mungkin hari ini kita belum mampu melakukan sesuatu yang besar. Tidak apa-apa.
Mulailah dari yang sederhana. Berhentilah membicarakan keburukan orang yang kita
benci. Berhentilah mengulang-ulang kesalahannya dalam pikiran. Doakan dia. Kalau
mungkin, sapalah dia. Kalau belum mungkin berbicara, setidaknya jangan membalas
dengan kebencian. Dan perlahan-lahan, serahkan luka itu kepada Tuhan. Sebab orang
yang mampu mengampuni bukanlah orang yang lemah. Justru ia adalah orang yang
kuat. Ia cukup kuat untuk tidak membalas, cukup dewasa untuk melepaskan, cukup
rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya sendiri membutuhkan belas kasih, dan
cukup beriman untuk percaya bahwa Tuhan dapat menyembuhkan apa yang tidak
mampu ia sembuhkan sendiri.
Maka, Saudara-saudariku terkasih, janganlah kita membawa terlalu banyak beban
dendam dalam perjalanan hidup kita. Hidup ini sudah cukup berat tanpa harus kita
tambahkan dengan kemarahan yang kita simpan sendiri. Mari kita belajar meletakkan
beban itu di hadapan Tuhan. Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita menyelesaikan
semua luka dalam hidup kita sekaligus. Mungkin Ia hanya meminta satu langkah kecil,
maukah kita mulai mengampuni satu orang? Mari kita mulai. Bukan besok, bukan nanti,
tetapi dari hati kita hari ini.
Sebab ketika kita mengampuni, kita tidak kehilangan apa-apa. Kita justru
mendapatkan kembali kebebasan hati, kedamaian, dan ruang untuk mengasihi. Ketika
satu hati dibebaskan dari dendam, satu keluarga bisa menjadi lebih damai. Ketika satu
keluarga berdamai, komunitas menjadi lebih kuat. Dan ketika semakin banyak hati
memilih pengampunan daripada balas dendam, dunia pun perlahan-lahan menjadi
lebih manusiawi.
Semoga kita selalu ingat bahwa kita hidup untuk Tuhan, kita mati untuk Tuhan, dan
karena itu hidup kita tidak boleh dikuasai oleh kebencian. Kita adalah orang-orang yang
telah lebih dahulu diampuni dan dikasihi. Maka marilah kita menjadi pribadi yang juga
mampu mengampuni dan mengasihi. Semoga melalui pengampunan yang kita mulai
dari hati sendiri, Tuhan menjadikan keluarga-keluarga kita semakin damai, komunitas
kita semakin bersaudara, dan Gereja semakin mampu menjadi tanda belas kasih Allah
bagi dunia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »