Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Minggu Biasa XVIIIA

Minggu Biasa XVIIIA

(Yes 55:1-3; Rom 8:35.37-39; Mat 14: 13:21)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudariku terkasih, setiap manusia pasti pernah merasakan lapar. Lapar bukan hanya karena perut belum terisi makanan, tetapi juga lapar akan perhatian, lapar akan kasih sayang, lapar akan penghiburan, lapar akan harapan, bahkan lapar akan makna hidup. Tidak sedikit orang yang hidup berkecukupan secara materi, tetapi batinnya tetap merasa kosong. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya selalu memancarkan damai karena hatinya dipenuhi oleh kasih Tuhan. Itulah sebabnya, melalui bacaan pertama hari ini, Nabi Yesaya menyampaikan undangan Allah yang begitu indah, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah; dan kamu yang tidak mempunyai uang, marilah!” Allah mengundang setiap orang datang kepada-Nya tanpa syarat. Ia tidak menawarkan sesuatu yang semu, melainkan diri-Nya sendiri sebagai sumber kehidupan yang mampu memuaskan dahaga terdalam hati manusia.

Undangan Allah itu menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus sebagaimana kita dengarkan dalam Injil hari ini. Setelah mendengar kabar wafatnya Yohanes Pembaptis, Yesus sebenarnya mencari tempat yang sunyi. Sebagai manusia, Ia pun membutuhkan waktu untuk berdiam diri dan berdoa. Namun ketika melihat orang banyak mengikuti-Nya, Injil mengatakan bahwa hati Yesus tergerak oleh belas kasih. Ia tidak menolak mereka. Ia menyembuhkan yang sakit, mengajar mereka, dan ketika hari mulai malam, Ia tidak tega membiarkan mereka pulang dalam keadaan lapar. Di sinilah kita melihat wajah Allah yang sesungguhnya. Allah bukan hanya mengajar dari kejauhan, tetapi hadir, melihat penderitaan manusia, dan mengambil bagian di dalamnya. Mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan lahir bukan pertama-tama karena banyaknya makanan yang tersedia, melainkan karena besarnya belas kasih Allah kepada umat-Nya.

Menariknya, ketika para murid melihat kenyataan bahwa makanan yang ada sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang harus diberi makan, mereka segera mengambil kesimpulan yang menurut ukuran manusia sangat masuk akal: “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan sendiri.” Bukankah sikap seperti ini juga sering muncul dalam diri kita? Ketika melihat persoalan yang terlalu besar, kita mudah berkata, “Itu bukan urusanku.” Ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, kita merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Ketika menghadapi tantangan hidup, kita lebih dahulu menghitung kekurangan daripada mempercayai penyelenggaraan Tuhan. Namun Yesus justru memberikan jawaban yang mengejutkan, “Kamu harus memberi mereka makan.” Kalimat ini bukan sekadar perintah kepada para rasul, tetapi juga panggilan bagi setiap orang beriman untuk tidak menutup mata terhadap kebutuhan sesama.

Ada sebuah cerita sederhana. Seorang anak kecil sedang berjalan di tepi pantai yang dipenuhi ribuan bintang laut yang terdampar setelah ombak besar. Ia memunguti satu demi satu lalu melemparkannya kembali ke laut. Seorang dewasa yang melihatnya berkata, “Untuk apa? Jumlahnya begitu banyak. Apa bedanya satu atau dua ekor?” Anak itu tersenyum sambil melempar seekor bintang laut ke laut dan berkata, “Bagi yang satu ini, perbedaannya sangat besar.” Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah meminta kita menyelesaikan semua persoalan dunia. Tuhan hanya meminta kita setia melakukan bagian kecil yang mampu kita lakukan. Lima roti dan dua ikan memang tampak sangat sedikit, tetapi ketika diserahkan ke dalam tangan Yesus, semuanya berubah menjadi berkat bagi ribuan orang. Demikian pula hidup kita. Mungkin kemampuan kita terbatas, waktu kita sedikit, rezeki kita tidak berlebihan, tetapi bila semuanya dipersembahkan kepada Tuhan dengan hati yang tulus, Ia sanggup menjadikannya berkat bagi banyak orang.

Mukjizat itu juga mengingatkan kita bahwa kelimpahan tidak selalu dimulai dari banyaknya harta, melainkan dari hati yang mau berbagi. Dunia sering mengajarkan bahwa semakin banyak kita menyimpan, semakin aman hidup kita. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa hidup justru menjadi bermakna ketika kita berani berbagi. Anehnya, orang yang murah hati hampir selalu merasa cukup, sedangkan orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri sering kali merasa kurang. Kelimpahan yang sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, tetapi pada kasih yang mampu kita bagikan kepada sesama.

Di sinilah bacaan kedua menjadi peneguhan yang sangat indah. Santo Paulus berkata, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” Pertanyaan itu segera dijawabnya sendiri: tidak ada apa pun. Bukan penderitaan, bukan kesesakan, bukan penganiayaan, bukan kelaparan, bahkan bukan maut sekalipun. Mengapa Paulus begitu yakin? Karena ia sendiri telah mengalami bahwa kasih Kristus tidak pernah meninggalkannya. Kasih itulah yang memberi keberanian untuk tetap berharap ketika hidup terasa berat dan memberi kekuatan untuk tetap berbagi meskipun diri sendiri sedang mengalami kekurangan. Orang yang percaya bahwa dirinya dikasihi Tuhan tidak akan hidup dalam ketakutan, sebab ia yakin bahwa Allah tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya berjalan sendirian.

Saudara-saudariku terkasih, setiap kali kita merayakan Ekaristi, sesungguhnya kita kembali mengalami mukjizat yang sama. Kita datang membawa “lima roti dan dua ikan” kita masing-masing: kelelahan karena bekerja, kegelisahan akan masa depan, sakit yang belum sembuh, persoalan keluarga, doa-doa yang belum terjawab, dan harapan yang masih kita simpan dalam hati. Semua itu kita letakkan di altar bersama roti dan anggur. Di dalam tangan Kristus, semuanya diubah menjadi rahmat yang menguatkan hidup kita. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa hidup kita terlalu kecil untuk dipakai Tuhan. Jangan pernah berpikir bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak berarti. Di tangan Tuhan, kasih yang sederhana mampu menjadi mukjizat yang mengubah kehidupan banyak orang.

Maka, sepulang dari gereja hari ini, marilah kita membawa satu keyakinan dalam hati: Allah tidak pernah membiarkan kita lapar akan kasih-Nya. Ia selalu menyediakan apa yang kita perlukan pada waktu yang tepat. Tugas kita hanyalah datang kepadaNya dengan hati yang percaya, menyerahkan apa yang kita miliki, dan membiarkan Tuhan berkarya melalui hidup kita. Selama kita tetap tinggal dalam kasih Kristus, seperti yang ditegaskan Santo Paulus, tidak ada kekuatan apa pun yang mampu memisahkan kita dari Dia. Dan bila Kristus selalu bersama kita, kita tidak akan pernah kekurangan alasan untuk berharap, tidak akan pernah kehabisan kekuatan untuk berbagi, dan tidak akan pernah kehilangan sukacita untuk melayani. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa XVII

Sabtu Pekan Biasa XVII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
1 Agustus 2026
Yer 26: 11-16 + Mzm 69 + Mat 14: 1-12

Lectio
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala Yohanes itu pun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Meditatio
‘Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam’. Suara inilah yang bergema dipikiran anak remaja. Suara itu adalah suara ibu, yang telah banyak berjasa padanya. Suara itu jahat, tetapi mengingat begitu keras dan menggema dalam pikirannya, apalagi sang ibu sendiri yang berkata-kata. Bolehkah anak remaja ini menentukan pilihan? Pilihan mana yang seharusnya diambil?
‘Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita’ (Yer 26). Suara keras inilah yang didengar oleh orang-orang Israel, dan membuat mereka tidak jadi membunuh Yeremia. Itu suara baik. Memang tak dapat disangkal, kemarahan melatarbelakangi usaha pembunuhan Yohanes Pembaptis dan nabi Yeremia. Kemarahan yang ditumbuhkembangkan akan mengakibatkan dosa yang lebih besar lagi. Kemarahan bibit usaha pembunuhan terhadap sesame.
Semua suara berasal dari luar, dan tidak membuat najis. Pikiran jahat untuk membunuh Yohanes Pembaptis itulah yang menajiskan. Keputusan pribadi seseorang mampu membuat dirinya memilih yang terbaik atau jahat. Kiranya seperti dikatakan Yesus sendiri: mana yang kita lakukan membinasakan atau menyelamatkan?
Kematian pun bukanlah hal yang menakutkan bagi setiap orang yang beriman. Bukankah mati atau hidup kita milik Tuhan? Kematian sungguh semakin berharga memang, kalau kita persembahkan untuk Tuhan Yesus, sebagaimana dikatakan santo Alfonsus Ligori.

Oratio
Yesus Kristus, mengikuti Engkau memang menantang setiap orang untuk berani menanggung resiko. Namun semuanya itu tidak menakutkan, bila kami sungguh-sungguh mengandalkan Engkau. Semoga Engkau menguatkan jiwa raga kami dalam mengikuti Engkau.
Santo Alfonsus Ligouri, doakanlah kami. Amin.

Contemplatio
‘Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita’.

RENUNGAN: 28 JULI 2026

RENUNGAN: 28 JULI 2026

Rm. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

Matius 113:36-43

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Setiap hari kita melihat adanya ketidakadilan, kebencian, kejahatan dan masih banyak hal yang tidak baik lainnya. Mungkin kita bertanya dalam hati: “Mengapa Allah membiarkan orang-orang baik dan orang-orang jahat hidup berdampingan? Mengapa ketidakadilan, kebencian, dan kejahatan masih begitu nyata di dunia? Bahkan, di dalam Gereja sendiri mengapa kita masih menemukan kelemahan dan dosa?  Melalui Injil hari ini, Yesus memberikan jawaban. Ia menjelaskan perumpamaan tentang gandum dan lalang. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan Allah, sedangkan lalang adalah anak-anak si jahat. Keduanya dibiarkan tumbuh bersama sampai musim panen, saat Allah sendiri akan memisahkan keduanya.

Dari Injil ini, ada tiga pesan yang kiranya dapat kita renungkan.

Pertama, marilah kita bertanya: saya ini gandum atau lalang? Mungkin kita langsung menjawab, “Tentu saya gandum.” Namun Yesus tidak mengajak kita menilai orang lain, melainkan memeriksa diri sendiri. Menjadi gandum berarti setiap hari berusaha hidup menurut kehendak Tuhan: jujur ketika ada kesempatan untuk berbohong, mengampuni ketika hati ingin membalas, tetap setia ketika iman diuji, dan mengasihi ketika lebih mudah untuk membenci. Gandum tidak dikenal dari penampilannya, tetapi dari buah yang dihasilkannya. Demikian pula seorang murid Kristus. Identitas kita bukan pertama-tama ditentukan oleh seberapa sering kita datang ke gereja, melainkan apakah hidup kita menghasilkan buah kasih, kerendahan hati, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.

Kedua, kesabaran Allah adalah kesempatan untuk bertobat. Mengapa Tuhan tidak langsung mencabut lalang? Karena Ia sabar. Kesabaran Allah bukan berarti Ia membiarkan kejahatan menang. Kesabaran-Nya adalah kesempatan agar manusia berubah. Kalau Tuhan memperlakukan kita hanya berdasarkan kesalahan-kesalahan kita, mungkin tidak ada satu pun dari kita yang layak berdiri di hadapan-Nya. Tetapi syukur kepada Allah, Dia tidak pernah berhenti memberi kesempatan. Setiap hari yang kita jalani adalah tanda bahwa Tuhan masih membuka pintu pertobatan. Karena itu, Injil hari ini bukan pertama-tama berbicara tentang hukuman bagi orang lain, melainkan tentang undangan bagi kita sendiri: Gunakanlah waktu yang masih Tuhan berikan untuk kembali kepada-Nya.

Ketiga, jangan mengambil alih tugas Allah sebagai hakim. Kita sering kali lebih mudah melihat lalang dalam diri orang lain daripada dalam diri sendiri. Kita cepat memberi cap: “Dia orang yang tidak baik. Dia pasti tidak akan berubah.” Padahal Yesus berkata bahwa pemisahan antara gandum dan lalang adalah tugas para malaikat pada akhir zaman, bukan tugas kita sekarang. Tugas kita adalah menaburkan kebaikan, mendoakan sesama, memberi teladan, dan tetap berharap bahwa rahmat Tuhan mampu mengubah hati siapa pun. Banyak santo dan santa dahulu adalah pendosa besar, tetapi karena rahmat Allah mereka mengalami pertobatan yang luar biasa. Maka jangan pernah menutup pintu harapan bagi siapa pun.

Saudara-saudari,

Injil hari ini juga mengingatkan kita bahwa akan ada musim panen. Akan ada saat ketika setiap orang mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan. Penghakiman terakhir bukanlah ancaman yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti kita, melainkan panggilan agar kita hidup dengan arah yang jelas: menuju kekudusan. Betapa indah janji Yesus pada akhir Injil: “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” Inilah tujuan hidup kita. Kita dipanggil bukan sekadar menjadi orang yang baik menurut ukuran dunia, tetapi menjadi orang kudus yang memancarkan terang Kristus.

Mari kita mohon rahmat Tuhan, agar kita dapat menjadi “gandum” yang baik. Menaburkan kasih ketika orang lain menebarkan kebencian, membawa damai ketika ada pertengkaran, berkata jujur ketika kebohongan terasa lebih menguntungkan, dan tetap setia kepada Kristus di mana pun kita berada. Semoga ketika musim panen itu tiba, Tuhan berkenan menyambut kita ke dalam Kerajaan-Nya, sehingga bersama semua orang benar kita boleh “bercahaya seperti matahari” dalam kemuliaan Bapa.

Rahasia di Balik Kelezatan Semangkuk Bakso

Rahasia di Balik Kelezatan Semangkuk Bakso

Rm Yusuf Dimas Caesario


Siapa yang tidak suka bakso? Bagi kebanyakan orang, semangkuk bakso hangat dengan kuah yang gurih adalah kenikmatan yang tiada duanya. Namun, pernahkah kita merenungkan apa yang membuat kuah bakso itu begitu memikat lidah? Jawabannya bukan pada potongan daging yang besar atau hiasan mangkuknya, melainkan pada sejumput garam dan ulekan bawang putih yang sudah larut tak berbekas di dalam kuah.
Garam dan bumbu itu kehilangan wujudnya; mereka hancur, tidak terlihat, dan tidak pernah dipuji secara langsung saat orang menikmati bakso yang enak. Namun, justru karena mereka rela “hilang” dan melebur, seluruh mangkuk bakso itu menjadi punya rasa. Jika garam tetap bersukacah mempertahankan bentuk kristalnya di dasar mangkuk, ia justru akan membuat orang terpekik asin.


Isi Renungan
Dalam Injil Matius 13:31-35, Yesus membawa para murid-Nya ke ruang perenungan yang sangat mendalam melalui perumpamaan biji sesawi dan ragi.
Logika Kerajaan Surga yang ditawarkan Yesus di sini adalah logika tentang “kehilangan diri demi sebuah dampak”. Biji sesawi harus rela terkubur di dalam gelapnya tanah, hancur, dan kehilangan identitas aslinya sebagai biji agar bisa pecah dan menumbuhkan kehidupan baru yang menjadi tempat bernaung burung-burung. Begitu pula ragi; ia dimasukkan ke dalam tiga sukat tepung—jumlah yang sangat besar—lalu diaduk hingga ia benar-benar lenyap secara visual. Namun, justru saat ragi itu tidak lagi kelihatan, kekuatannya mendobrak dan mengembangkan seluruh adonan dari dalam.
Dalam tradisi mistik Katolik, perikop ini mengupas tuntas tentang esensi kerendahan hati (humilitas). Dunia modern mengajari kita untuk selalu tampil di depan, menunjukkan eksistensi, dan “menjual diri” agar diakui. Kita sering kali membawa mentalitas ini ke dalam kehidupan rohani; kita ingin kebaikan kita dicatat, pelayanan kita dipuji, dan kehadiran kita diperhitungkan.
Namun, Yesus menunjukkan bahwa kekuatan Gereja dan iman Katolik sejati terletak pada daya transformatif yang bekerja dalam sunyi. Seperti ragi yang larut atau bumbu yang melebur dalam kuah hangat, kita dipanggil untuk menjadi agen perubahan yang tidak haus panggung. Ketika kita dengan tulus memaafkan orang yang menyakiti kita tanpa perlu membuat pengumuman, ketika kita menyelesaikan tanggung jawab administrasi atau pekerjaan harian kita dengan jujur tanpa mengharapkan sanjungan, di situlah kita sedang menjadi ragi Allah. Kita meleburkan ego kita agar Kristus yang semakin besar, dan sesama dapat mengecap “kelezatan” kasih Allah melalui hidup kita.


3 Poin Refleksi

  1. Apakah dalam pelayanan, pekerjaan, atau kehidupan berkeluarga, saya masih sering merasa sakit hati dan kecewa jika kebaikan serta pengorbanan saya tidak dilihat atau tidak dipuji oleh orang lain?
  2. Biji sesawi harus pecah di dalam tanah agar bisa menjadi pohon yang meneduhkan. Hal egois apa dalam diri saya (gengsi, kemarahan, atau kesombongan) yang harus “dipecahkan” terlebih dahulu agar saya bisa menjadi berkat bagi sesama?
  3. Ketika lingkungan sekitar saya sedang dipenuhi oleh aura negatif (gosip, kemalasan, atau egoisme), apakah saya berani masuk sebagai “ragi” yang membawa pengaruh baik, atau saya justru ikut larut dalam arus negatif tersebut?

Doa Singkat


Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mengosongkan diri-Mu dan mengambil rupa seorang hamba demi keselamatan kami. Ampunilah kami yang sering kali terlalu sibuk mengejar panggung dunia dan pujian semu. Karuniakanlah kami hati yang rendah, yang rela menjadi seperti ragi dan biji sesawi yang siap melebur dalam sunyi. Semoga hidup kami yang sederhana ini, oleh rahmat-Mu, dapat mengkhamirkan lingkungan di sekitar kami dengan semangat kasih, kebenaran, dan damai sejahtera-Mu. Amin.

Minggu Biasa XVII A

Minggu Biasa XVII A

(1 Raj. 3:5.7-11; Rom. 8:28-30; Mat. 13:44-52)

Rm. Yohanes Endi, Pr.

Saudara-saudariku terkasih, hidup ini pada dasarnya adalah rangkaian pilihan. Sejak membuka mata di pagi hari hingga menutupnya kembali pada malam hari, kita terus dihadapkan pada pilihan-pilihan. Ada pilihan yang sederhana, seperti memilih makanan atau pakaian yang akan dikenakan. Namun ada pula pilihan yang menentukan arah hidup, seperti memilih pasangan hidup, pekerjaan, kejujuran di tengah godaan, atau tetap setia kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Menariknya, tidak semua pilihan yang tampak indah akan membawa kebahagiaan, dan tidak semua pilihan yang menuntut pengorbanan akan berakhir dengan penderitaan. Karena itu, setiap orang membutuhkan hikmat agar mampu memilih apa yang sungguh bernilai bagi hidupnya. Hikmat inilah yang menjadi benang merah Sabda Tuhan pada hari Minggu ini.

Bacaan pertama menghadirkan sosok Raja Salomo yang baru saja menerima tanggung jawab besar memimpin bangsa Israel. Ia masih muda dan merasa dirinya belum berpengalaman. Pada saat itulah Allah memberikan kesempatan yang mungkin menjadi impian setiap orang. “Mintalah apa yang engkau kehendaki, maka Aku akan memberikannya kepadamu.” Bayangkan, jika kita berada di posisi Salomo, apa yang akan kita minta? Mungkin kesehatan, umur panjang, rezeki yang melimpah, usaha yang semakin maju, atau kehidupan yang selalu bebas dari masalah. Namun Salomo justru mengejutkan kita. Ia tidak meminta kekayaan ataupun kejayaan, melainkan hati yang penuh hikmat agar mampu membedakan yang baik dan yang jahat serta memimpin umat dengan adil. Salomo memahami bahwa jika seseorang memiliki hikmat, ia akan mampu menggunakan segala sesuatu yang lain dengan benar. Sebaliknya, tanpa hikmat, kekayaan dapat melahirkan keserakahan, kekuasaan dapat berubah menjadi penindasan, dan kecerdasan pun dapat dipakai untuk menipu sesama. Pilihan Salomo berkenan di hati Tuhan karena ia memilih bukan yang paling menyenangkan, melainkan yang paling bernilai.

Pilihan Salomo menemukan kepenuhannya dalam Injil yang baru saja kita dengarkan. Yesus mengumpamakan Kerajaan Surga seperti harta yang terpendam di ladang dan mutiara yang sangat berharga. Orang yang menemukan harta itu rela menjual seluruh miliknya demi memperoleh harta tersebut. Demikian pula seorang pedagang mutiara, ketika menemukan satu mutiara yang sangat indah, ia dengan sukacita melepaskan semua yang dimilikinya untuk mendapatkan mutiara itu. Sekilas tindakan itu tampak seperti kerugian besar, tetapi sebenarnya bukan. Mereka tidak kehilangan apa pun; mereka justru memperoleh sesuatu yang nilainya jauh melampaui semua yang telah mereka lepaskan. Itulah gambaran seseorang yang menemukan Kristus sebagai harta hidupnya. Mengikuti Kristus memang menuntut pengorbanan. Kadang kita harus melepaskan ego, kesombongan, dendam, kebiasaan yang buruk, bahkan kenyamanan yang membuat kita jauh dari Tuhan. Namun semua itu bukanlah kehilangan. Justru dengan melepaskan yang sementara, kita memperoleh yang kekal.

Sayangnya, dunia sering kali menawarkan “mutiara-mutiara palsu”. Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya pengaruh, atau ramainya pujian di media sosial. Semua itu memang dapat memberi kepuasan sesaat, tetapi tidak pernah mampu mengisi kekosongan hati manusia. Bukankah kita sering melihat orang yang memiliki segalanya tetapi tetap merasa gelisah? Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana namun wajahnya memancarkan kedamaian karena ia mengenal Tuhan. Santo Agustinus pernah berkata, “Hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau, ya Tuhan.” Hanya Allah yang mampu memenuhi kerinduan terdalam hati manusia, sebab Dialah harta yang tidak pernah pudar oleh waktu dan tidak dapat dirampas oleh siapa pun.

Mungkin ada di antara kita yang bertanya, “Kalau saya memilih Tuhan, apakah hidup saya pasti menjadi mudah?” Sabda Tuhan hari ini tidak pernah menjanjikan hidup tanpa persoalan. Menjadi murid Kristus bukan berarti bebas dari salib. Namun, bacaan kedua memberikan peneguhan yang sangat indah. Santo Paulus berkata, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Perhatikan baik-baik, Paulus tidak mengatakan bahwa semua yang terjadi adalah baik. Ada kegagalan yang menyakitkan, ada kehilangan yang membuat air mata jatuh, ada penyakit yang menguras tenaga, bahkan ada pengkhianatan yang melukai hati. Namun pengalaman iman Gereja mengajarkan bahwa Allah sanggup mengubah semuanya menjadi jalan menuju kebaikan. Seperti seorang penenun yang dari belakang hanya melihat benang-benang kusut, sementara dari depan terbentuk sebuah kain yang indah, demikian pula Allah sedang merangkai setiap pengalaman hidup kita menjadi karya keselamatan yang mungkin saat ini belum kita pahami. Karena itu, orang yang memilih Kristus tidak pernah kehilangan harapan, sebab ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka yang mengandalkan-Nya.

Pada akhir Injil, Yesus berbicara tentang pukat yang menangkap berbagai jenis ikan. Ketika pukat itu diangkat ke darat, ikan yang baik dikumpulkan, sedangkan yang tidak baik dibuang. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya setiap pilihan hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Yang akan ditanyakan bukanlah seberapa banyak harta yang kita kumpulkan, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita raih, atau seberapa terkenal nama kita di dunia, melainkan apakah selama hidup kita sungguh menjadikan Allah sebagai harta yang paling berharga. Selama masih diberi kesempatan hidup, Tuhan terus mengundang kita untuk memperbarui pilihan itu setiap hari.

Saudara-saudariku terkasih, ketika Allah bertanya kepada Salomo, “Mintalah apa yang engkau kehendaki,” sesungguhnya pertanyaan yang sama juga diarahkan kepada kita hari ini. Apakah yang paling kita cari dalam hidup ini? Semoga kita tidak hanya meminta keberhasilan, kesehatan, atau kecukupan materi, tetapi terutama memohon hati yang penuh hikmat agar mampu mengenali Kristus sebagai mutiara yang paling berharga. Sebab ketika Kristus menjadi pusat kehidupan kita, kita akan belajar melihat segala sesuatu dengan cara pandang Allah. Kita mungkin tidak memiliki semua yang kita inginkan, tetapi bersama Kristus kita akan selalu memiliki apa yang sungguh kita perlukan. Dan selama kita tetap setia kepada-Nya, kita dapat melangkah dengan penuh keyakinan karena Allah senantiasa bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »