Browsed by
Month: November 2013

Renungan, 4 November 2013

Renungan, 4 November 2013

Lukas 14:12-14
 

Parvum Parva Decent (Humble things befit the humble)

Kehormatan dan appresiasi menjadi salah satu budaya Romawi di zaman Yesus. Ketika seseorang menyumbang uang, pikiran, tenaga bagi masyarakat,  namanya akan ditulis dalam prasasti kota. Orang yang berjasa besar bagi sebuah wilayah, akan diangkat menjadi pelindung kota. Oleh karenanya orang berlomba untuk berbuat sesuatu agar menjadi patron (pelindung), dikenal dan menjadi donatur wilayah.

Orang Romawi mengatakan berbuatlah sesuatu yang besar, karena hal sederhana hanya berguna untuk orang kecil!

Yesus memiliki cara pandang yang lain soal nilai kehormatan dan appresiasi. Dihormati dan diapresiasi orang dicari tidak dengan melakukan hal yang besar dan luar biasa. Tidak pula dilakukan dengan mengundang orang yang terkenal dan berpengaruh, sehingga nama baik kita ikut tersanjung. Ia memberi contoh Yohanes Pembaptis sebagai Nabi yang paling besar karena, “ia semakin kecil, dan  membiarkan Yesus menjadi semakin besar.” Maria Ibu Yesus juga digambarkan sebagai orang yang dikasihi Tuhan karena, “Tuhan memperhatikan hambanya yang hina ini.”  Kata-kata Yesus yang paling jelas, “siapa ingin menjadi yang terbesar, ia harus menjadi yang terakhir.”

Renungan hari ini: apakah perbuatan baik yang kulakukan hari ini membuatku ingin mencari nama baik sendiri dan mendapat balasan ataukan dikerjakan dengan tulus hati? Sebenarnya keinginan untuk menjadi nama baik dan diapresiasi orang tidak salah, asal saja hal itu bukan menjadi tujuan utama dan semata!

Renungan, 2 November 2013

Renungan, 2 November 2013

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN

Yoh 6:37-40

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.

Peringatan Arwah  semua orang beriman sesungguhnya menyadarkan kita akan kesatuan kita dengan semua orang beriman yang telah meninggal; anggota keluarga kita, sahabat kenalan kita  dan sebagainya.

Pada peringatan semua arwah orang beriman kita diajak untuk menjawab minimal satu pertanyaan dasar perkaitan dengan kematian. Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, bagaimana sikap kita terhadap kematian? Dalam banyak kasus, kita melihat atau mengalami sendiri  bagaimana rasa sedih ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Kita harus mengucapkan selamat jalan untuk  anggota keluarga kita yang kita sayangi. Pengalaman bagaimana kita harus melepas pergikan orang yang sungguh  kita  kasihi.

Pengalaman akan kematian ibu dan ayah saya, menyadarkan saya bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya sangat singkat. Kematian datang begitu cepat tanpa ada kompromi. Hidup ini bukan milik kita. Hidup ini milik DIA yang dipercayakan kepada kita.  Menyadari hal ini, kesedihan saya menjadi kekuatan karena saya tahu pasti orang tua saya kembali kepada Tuhan yang mempunyai kehidupan ini. Saya percaya mereka kembali kepada Tuhan karena dalam hidup mereka, mereka sungguh mengimani Yesus yang bersabda “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan Kubuang …. setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman (yoh 6:40).

Pada peringatan Arwah semua orang beriman, selain kita merasa kehilangan dan sedih karena anggota keluarga kita dan sahabat kenalan kita telah meninggal, kita pun bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk janji keselamatan yang diberikan kepada mereka. dalam perayaan peringatan ini, kita secara khusus berdoa untuk mereka yang telah meninggal yang masih membutuhkan doa-doa kita semoga iman dan harapan kita akan kebangkitan Kristus senantiasa membawa mereka kepada kehidupa kekal.

Hadiah yang terindah yang bisa kita persembahkan kepada semua arwah orang beriman adalah doa-doa kita. Semoga hari ini dan selama bulan November ini kita berikan waktu kita secara khusus untuk mengingat mereka dalam doa-doa kita.

Renungan, 1 November 2013

Renungan, 1 November 2013

Pesta Semua Orang Kudus

Sekali peristiwa,, ketika melihat banyak orang yang datang, Yesus mendaki lereng sebuah bukit. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya. Lalu Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memilki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika demi Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat; bersukacita dan bergembiralah, karena besarlah ganjaranmu di surga. (Mat 5:1-12a)

Suatu hari ada seorang Katolik yang baru dibaptis bertanya kepada saya. Romo apakah orang kudus itu hanya mereka yang dikanonisasikan oleh Paus saja? Saya menjawab tidak. Masih banyak orang kudus yang tidak dan belum dikanonisasikan. Dia merasa heran dengan jawaban saya. Saya mengatakan jangan heran karena kamu juga adalah orang kudus. Dia malah semakin bingung. Saya mengatakan bahwa ketika kamu dibaptis, kamu dipanggil untuk menjadi kudus.

Kalau kita membaca riwayat orang-orang kudus, kita sangat menyadari bahwa mereka sama seperti kita. Mereka mempunyai kelemahan dan kekurangannya sebagai manusia. Akan tetapi dalam keterbatasannya, mereka mengandalkan Tuhan. Mengikut sertakan Tuhan dalam setiap tugas dan karya mereka. Mereka berusaha sedapat mungkin merealisasikan perintah CINTA dalam keseharian hidup mereka. Kita bisa melihat contoh Mother Teresa dari Kalkuta. Kita  menyaksikan begitu luar biasanya beliau membantu orang-orang miskin. Akan  tetapi bagi dia, itu bukan karyanya. Itu Tuhan yang lakukan lewat para suster dan volunirnya. Tidak hanya Mother Teresa, Orang-orang yang kita kenal baik yang sudah meninggal ataupun yang masih hidup (orang tua kita, suami/stri, teman dsb), yang hari-hari hidup mereka melakukan hal yang baik, dengan hati yang tulus, bagi orang lain.

Pada pesta semua orang kudus, kita diajak untuk mengikuti contoh hidup orang-orang kudus dengan salah satu cara mewujudkan Sabda Bahagia Yesus dalam keseharian hidup kita. Tentu bukan hal yang mudah, butuh iman dan semangat yang teguh. Mari kita belajar dari mereka sambil mohon doa mereka, semoga kita mampu melaksanakan Perintah Tuhan seperti telah mereka lakukan.

Translate »