Browsed by
Month: April 2014

Perempuan yang kedapatan berbuat zinah

Perempuan yang kedapatan berbuat zinah

Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11

yesus-mengampuni-wanita-ituTetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

“Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang” Dalam bacaan injil hari ini, Yesus menggunakan kekuatan kata-kataNYA; kata–kata yang menyembuhkan, kata-kata yang menyejukan, kata-kata membuat sang wanita merasa lebih dihargai, kata-kata yang menantang kita untuk berpikir dua kali sebelum menghakimi orang lain.
Coba kita sejenak membayangkan bagaimana perasaan si wanita ketika mendengar Yesus berkata “Aku pun tidak menghukum engkau”. Wanita ini melakukan salah satu kejahatan menurut hukum Yahudi. Ada tiga dosa besar dalam hukum Yahudi: menyembah berhala, membunuh dan perselingkuhan. Siapa saja melanggar salah satu dari ketiga hukum ini akan di hukum mati.
Perselingkuhan, secara sederhana berarti ketidaksetiaan dalam konteks tradisi Kristen. Hal ini merujuk pada dosa. Ketika kita tidak setia kepada Tuhan, kita telah melakukan dosa. Dosa adalah berpaling dari Tuhan dan memilih sesuatu yang lain. Dosa ini mematikan kita secara spiritual karena memisahkan kita dari Tuhan. Ada tiga hal yang membuat kita jatuh dalam dosa: hal serius yang kita lakukan atau perbuat, kita tahu itu dosa, akan tetepi secara sadar kita melanggarnya. Dalam hidup kita sehari-hari banyak orang memilih jalan ini, bahkan kita sendiri. Sudah tahu itu salah tetapi tetap saja melakukannya.
Pada masa prapaskah ini kita mempunyai kesempatan untuk kembali lagi kepada Tuhan dan kembali dari ketidaksetiaan kita kepada Tuhan. Sebagaimana Yesus tidak menghukum wanita yang tidak setia, demikianpun Ia tidak menghukum kita karena dosa-dosa kita. Dengan kata-kataNya yang penuh kuasa dan menyembuhkan Ia akan mengatakan” Akupun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan melakukan dosa yang sama lagi.

Identitas

Identitas

Bacaan: Yohanes 7:25-30

Engkau tahu aku dan dari mana aku berasal. Namun aku tak datang dari diriku sendiri. Tetapi Dia yang mengutus aku, yang kamu tidak tahu, adalah benar. Aku mengetahuinya sebab aku berasal dari Dia dan Dialah yang mengutus aku.

Kalau orang ditanya identitas dirinya, jawaban yang pertama muncul biasanya bereferensi pada asal dan kota tempat tinggal. Namun ketika anda bertanya, “siapa orang Amerika?” Kebanyakan orang di California akan mengacu pada multi etnis identitas sosial: siapa yang dimaksud? White American, Hispanic American, Asian American, atau yang lainnya.

Identitas pribadi menunjuk pada sekumpulan karakter orang yang membuat seseorang unik dan berbeda dari orang lain. Orang membahasakan identitas dengan berbagai cara: (1) “Saya mampu….”: kemampuan dalam bidang tertentu, kekuatan/kelemahan, talenta menjadi petunjuk identitas seseorang. (2) “Saya memiliki….”: kemampuan menghasilkan barang, punya harta milik juga dipakai orang untuk menunjukkan identitasnya. (3) “Saya suka…” : menunjuk pada sekelompok orang atau pribadi yang dikagumi sebagai tempat orang ingin mencontoh dan mengikuti jalan hidup mereka. (4) “Saya teringat….” :bereferensi pada pengalaman pribadi yang mempengarui dan membekas pada hidup seseorang menjadi tanda identitasnya juga.

Dalam kotbah hari Rabu Abu, Paus Fransiscus berkata bahwa dunia kapitalis kita  menghargai orang dan menilai identitas dari produktivitas kita. Orang berharga dan punya identitas di mata masyarakat kalau ia menghasilkan barang dan memiliki barang. Sedangkan orang yang tidak bias berproduksi lagi akan dibuang dan tersingkirkan. Orang merasa tak berharga ketika tidak memiliki sesuatu, merasa iri hati dan terus bersaing dengan orang lain saat tetangga memiliki barang yang lebih baik dari kita.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan bahwa identitas dan nilai hidup kita dipandang Tuhan tidak dari luar, tapi dari dalam. Allah melihat apa yang ada di dalam hati, bukan dari penampilan. Mengenal Allah dan mengetahui bahwa Allah mengutus setiap dari kita untuk melakukan misi hidup di dunia menjadi jalan kita memahami siapa diri kita di dunia ini.

Semoga kita makin memahami diri kita sendiri, tujuan dan misi hidup kita yang diberikan Allah sejak kita terlahir di dunia.

Translate »