Browsed by
Month: July 2014

Hidup adalah pilihan

Hidup adalah pilihan

HIDUP ITU SUATU PILIHAN
Yang diminta Raja Salomo itu yang berkenan kepada Tuhan, karena yang diminta bukan harta, bukan kedudukan, bukan kuasa dan juga panjangnya usia, melainkan kebijaksaan supaya dapat memerintah dengan adil. (1). Menurut Santo Paulus hidup yang bijaksana itu hidup menurut panggilan Tuhan, yaitu menjadi terang Allah.(2). Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebijaksanaan Allah berbeda dengan rencana manusia. Maka kalau ingin mendapatkan kebijaksaan sejati itu harus berani menjual semua miliknya untuk mendapatkan harta yang lebih bernilai, yaitu harta surgawi atau Kerajaan Allah (3).
Merenungkan pengalaman hidup.
Kekhususan manusia ialah bahwa ia dapat memilih dan merencanakan masa depannya sendiri. Sejak kecil kita pun sudah dilatih untuk memilih. Kita memilih  makanan, kita pilih pakaian: mana yang kita sukai dan mana yang cocok,  kita memilih tempat tinggal, kita memilih barang-barang di toko, kita memilih sekolah, memilih jurusan: mana yang mendukung masa depan saya dsb. Setiap pilihan itu sangat menentukan, terutama yang berhubungan dengan masa depan. Setiap pilihan yang kita tentukan pasti kita anggap yang paling bernilai. Ada orang yang senang kuliah terus, karena ilmu pengetahuan itu baginya sangat bernilai. Sebaliknya ada orang yang berpendapat bahwa bekerja itu lebih bernilai daripada sekolah.
Pernah ada pemuda sejak tamat SMP ia bercita-cita menjadi perawat. Orangtuanya sebenarnya tidak begitu setuju, karena menjadi perawat menurut mereka tidak menjanjikan masa depan yang  gemilang. Tetapi anak itu ngotot sekali, bahwa ia ingin menjadi perawat. Maka ia pun mengikuti tes di Rumah Sakit Umum di Yogyakarta. Namun sayang sekali bahwa tinggi badan pemuda ini belum mencukupi, sehingga ia tidak dapat diterima untuk sekolah perawat. Pemuda itu pun menjadi susah sekali. Anehnya ia tidak putus asa. Ia masih ingin mencoba satu kali lagi setelah tamat SMA, agar diterima di AKPER. Ketika ditanya motivasinya: “Mengapa kamu menjadi perawat?” Jawabannya sederhana sekali: Ia ingin membantu memperingan penderitaan sesama. Ia ingin bekerja sosial. Orangtuanya sebenarnya menginginkan agar anaknya melanjutkan ke universitas dan menjadi sarjana, agar nanti  dapat pekerjaan yang lebih baik. Tetapi semua itu ditolaknya. Akhirnya cita-citanya untuk menjadi perawat di rumah sakit terlaksana. Ia amat bersyukur dan ia bekerja sangat tekun.
Kita diajak belajar juga dari Kitab Suci, bahwa Raja Salomo dulu tidak memilih kekayaan,  kuasa atau kedudukan, tetapi mohon kebijaksanaan dariTuhan, agar dapat memerintah dengan adil. Ini adalah suatu permohonan yang aneh atau gila untuk saat sekarang. Karena banyak orang  berebut untuk mendapat kedudukan dan kekuasaan, bukan untuk memerintah dengan adil atau untuk melayani sesama, tetapi lebih-lebih untuk dapat memenuhi kepentingan pribadinya atau menguntungkan kelompoknya. Lalu apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan? Kebijaksanaan bukan kecerdasan otak atau keahlian, melainkan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan lebih lanjut Kitab Kebijaksanaan menjelaskan bahwa ‘kebijaksanaan’ itu artinya hidup menurut kehendak Tuhan atau hidup menurut panggilan Tuhan. Setiap upacara kematian kita mendengar bacaan dari Kitab Kebijaksanaan:” Kehormatan seseorang tidak diukur menurut panjanganya usia dan tidak diukur menurut jumlahnya tahun, tetapi pengertian (kebijaksanaan) itulah bernilai sebagai uban dan hidup tak bercela itulah bernilai sebagai usia lanjut”. Kebijaksanaan adalah hidup yang berkenan kepada Tuhan. Kalau setiap orang berani memohon kepada Tuhan ‘ kebijaksanaan” dan mencoba supaya hidupnya berkenan kepada Tuhan, maka saya kira dunia ini damai sekali. Namun kiranya hal ini tak akan terjadi di dalam dunia yang sedang bergolak seperti saat sekarang ini. Menurut Santo Paulus hidup yang bernilai adalah hidup menurut rencana atau hidup sebagai anak Allah. Itulah sebabnya santo Paulus juga berani mengesampingkan apa-apa saja, agar dapat menanggapi panggilan Tuhan secara utuh.
Tuhan Yesus menjelaskan dengan perumpamaan bahwa orang yang sudah menyadari atau memahami arti Kerajaan Surga yang dijanjikan oleh Bapa di surga, akan rela menjual segala-galanya untuk memperoleh harta surgawi itu (yang dilabangkan dengan mutiara atau harta terpendam). Dari saat sekarang ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk memilih dan menentukan masa depan kita: mana yang membawa kita kepada kebahagiaan dan hidup sejati, dan mana ynag membawa kita kepada kehidupan yang semu. Dewasa ini pun banyak orang akan mentertawakan kita, kalau kita  mengiklaskan segala milik kita untuk suatu tujuan yang tidak jelas dan dapat dirasakan sekarang ini.
Pernah pada satu hari kami ikut upacara pengenaan busana baru pada para para suster novis. Sebelum mengenakan busana baru itu para suster mengenakan dandanan pengantin, sehingga seluruh Umat yang hadir tertegun. Sebab mereka seperti melihat kontes ratu kecantikan. Tetapi pada waktu upacara mengenakan busana baru itu semua hiasan dan kegemerlapan duniawi itu ditanggalkan dan diganti busana biara. Banyak orang yang terharu dan menteskan air mata. Bahkan ada seorang pemuda yang berkomentar’ Sayang, orang cantik-cantik begitu masuk biara.” Memang inilah panggilan Tuhan yang kadang-kadang tidak dapat kita pahami dengan akal, tetapi hanya dapat kita pahami dengan iman atau kebijaksanaan ilahi. Maka satu pertanyaan bagi kita semua: “Beranikah kita memilih kebijaksanaan?”

Al.Budyapranata Pr,

kamu sudah bahagia?

kamu sudah bahagia?

LHO KITA INI KAN SUDAH LEBIH BAHAGIA.
 
Firman Tuhan hari ini hanya pendek: “ Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguh-nya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya dan ingin mendengar apa yang kamu dengar tetapi tidak men-dengarnya.” (Mat 13:16-17).
Ada dua hal pokok yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa bagaimanapun juga kita ini bahagia, karena dianugerahi mata yang bisa melihat macam-macam hal, melihat keindahan alam dan segala ciptaan Tuhan. Kita bisa membayang kan bagaimana nasib orang tidak bisa melihat. Dan Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa kita telah dianugerahi pendengaran. Kita bisa mendengar suara, kita bisa berkomunikasi lancar dan bisa menangkap banyak hal karena mampu mendengar.
Namun yang dikatakan bahagia oleh Yesus lebih-lebih dengan melalui mata kita pada saat sekarang ini bisa melihat dan mengalami karya Tuhan Yesus yang sekarang ini sudah semakin menjadi kenyataan di masyarakat. Firman-Nya telah tersebar melalui buku-buku dan media, melalui karya-karya sosial dan kesaksian hidup membiara dan banyak hal lain lagi. Dulu pada zamannya para Nabi belum ada semua ini. Kita    saat ini boleh mendengar pewartaan Tuhan Yesus yang sudah ditampilkan dalam bahasa yang kita tangkap, bahkan sudah disebarkan melalui renungan-renunga, dimana kita tinggal mencecapnya. Benar. Ini sungguh membahagiakan kita.
Kita bisa membayangkan betapa susah orang-orang pada zaman dulu sebelum sarana-prasarana tersedia, sebelum jaringan persaudaraan dan strukur kepemim-pinan Gerejani ada, mereka  sungguh sulit untuk menangkap Firman Tuhan dan melaksanakan Firman Tuhan itu. Oleh karena itu kalau kita menyia-nyiakan ke-sempatan yang bagus ini, kita sungguh bersalah dihadapan Tuhan.  Bukan hanya para Nabi atau orang pada zaman dulu yang ingin melihat dan mengalami seperti yang kita alami sekarang ini dan di tempat kita ini, misalnya orang Katolik di Negara tetangga kita. Kita wajib bsersyukur bahwa di tempat kita ini masih aman dan masih boleh melaksanakan ibadat kita dengan baik. Maka marilah kita doakan daerah-daerah dimana Umat Kristiani teraniaya dan tertinndas. Kita doakan Umat Katolik yang terancam hidupnya kalau tetap mempertahankan imannya terhadap Tuhan Yesus, terutama di Negara Irak dimana Gereja Keuskupan telah dihancur luluhkan. Kita berdoa mohon damai.
Renungan by Al.Budya Pr, from serayunet, July 25, 2014.
Santo Yakobus Rasul

Santo Yakobus Rasul

MINUM PIALA YANG KUMINUM
(Mat 20: 20-28)
Yakobus anak Zebedeus adalah kakak dari Yohanes Rasul. Ia biasa disebut Yakobus tua untuk membedakan Yakobus lain yang umurnya lebih muda. Yesus memanggil Rasul Yakobus ini bersama Yoahnes ketika mereka sedang berada di tepi danau Genezaret. Dua murid ini pula yang pernah diajak Yesus naik ke gunung Tabor waktu Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Dan mereka ini juga diajak Yesus untu mengikuti Yesus yang menderita sengsara di taman Zaitun. Dua murid ini berkarakter keras, sehingga dijuluki “anak halilintar”. Ibu dari kedua murid ini bangga bahwa anak-anaknya boleh menjadi pengikut Yesus. Maka ibu ini minta kedudukan yang terhormat dalam Kerajaan Surga, Jawaban Yesus sederhana: Beranikah kamu minum piala yang harus kuminum?
Pertanyaan Yesus ini punya arti yang mendalam: Beranikah kamu ikut mende-rita  sengsara bersama Aku? Dan dua murid ini secara spontan menjawab: Ya kami berani” Namun Yesus mau mengatakan bahwa nanti yang memberi pahala atau kemuliaan itu bukan Yesus, tetapi Allah Bapa sendiri. Dan ternyata bahwa kedua murid ini konsekwen. Yakobus ini setia mengikuti Yesus, bahkan ia sampai mengorbankan hidupnya sebagai martir.
Hal ini menjelaskan kepada kita para pengikut Yesus, bahwa kita pun juga menerima pertanyaan dari Yesus yang sama: Beranikah kamu minum piala yang harus kuminum? Ini bukannya bahwa kita harus berani mati, tetapi dalam hidup sehari-hari: kita ditantang: beranikah kita menerima kesulitan, tantangan  atau  kegagalan sebagai resiko atas iman kita? Biasanya kalau orang berani,  hidup-nya akan menjadi optimis, tak pernah khawatir. Sebaliknya orang yang selau cemas dan khawatir, maka hidupnya tak pernah akan maju.
Sungguh-sungguh terjadi ada keluarga Katolik yang sangat saleh, yang sangat sosial dan sukses dalam bisnis, tinggal di Jakarta. Anaknya ada 2 orang lelaki semua. Mereka di sekolahkan di Amerika semua. Yang sulung lulus S3 dan yang bungsu lulus S2. Ketika mereka sudah bekerja tiba-tiba mereka minta pada pada bapak ibunya untuk mengikuti Yesus menjadi imam. Yang bungsu yang sudah lulus S3 dan menjadi dosen di perguruan tinggi, meninggalkan jabatannya dan masuk kolese Dominican dan akhirnya ditahbiskan. Maka yang sulung pun ikut menyusul adiknya juga menjadi imam yang hidup kontemplatif ke negeri Perancis. Orangtuanya tidak mampu menahan keinginan puteranya dan menyerahkan kedua puteranya ini seberti Kel.Zebedeus. Baik orang tua maupun kedua puteranya mau menerima piala dari Tuhan Yesus.
renungan oleh Al.Budya Pr dari Serayunet, 24 Juli 2014
Mulut dan tutur kata

Mulut dan tutur kata

Bacaan: Jeremiah 1:4-7, 9

Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.

Apakah anda melihat saat Presiden SBY mengundang Jokowi dan Prabowo untuk berbuka bersama 2 hari menjelang pengumuman KPU? Mereka duduk satu meja makan diapit oleh SBY. Namun keduanya tak bertegur sapa, konflik dalam diam dan masih menganggap yang lain adalah musuh yang harus dikalahkan. Hal yang sama juga terjadi ketika Megawati dikalah kan SBY dalam pemilu. Keduanya tak bertutur sapa, diam dalam kebisuan dan menganggap orang lain sebagai musuh.

Sepertinya ini tipikal kita, ketika tak menyenangi orang, kita diam dan menghindar. Bahkan tak mau menyapa untuk sedekar sopan santun. Namun kita akan membicarakan orang itu dibelakang bersama teman sekelompok. Kita membangun musuh bersama. Kita tak mau membangun komunikasi yang santun.

Padahal Allah menempatkan sabdaNya di mulut kita. “Sesungguhnya, aku taruh perkataanKu dalam mulutmu!” Kata-kata yang keluar dari mulut adalah kata yang baik, santun, dan penuh kedamaian, bukan kata yang dipenuhi kebencian serta ketidaksenangan. Meski kadang kata-kata para Nabi penuh dengan kritik dan nasehat, mereka bermaksud baik untuk kembali mendekatkan orang pada Allah dan mengingatkan orang Israel untuk setia.

Mari belajar membangun komunikasi yang santun, menyelesaikan persoalan dengan membuka komunikasi dan percakapan, tidak hanya diam, marah. Tapi membicarakan kekurangan orang di belakang! Jangan meniru para pemimpin kita yang tak santun ah!

Maria Magdalena

Maria Magdalena

Dia bernama Maria Magdalena karena berasal dari sebuah desa Magdala di pesisir danau Galilea. Dia terpikat dengan Yesus setelah disembuhkan dari cengkeraman 7 iblis yang menguasai dirinya. Karenanya, kemanapun Yesus pergi, Maria mengikutinya mulai dari Galilea sampai akhir hidup sang guru di Golgotha. Kedekatannya dengan Yesus direkam dalam sebuah lagu indah di opera “Jesus Christ Super Star” : I don’t know how to love him, I don’t know how to move him, I have been changed, yes really changed.” Hidupnya berubah total, ia membaktikan diri sepenuhnya bagi karya Yesus.

Sayangnya, ketika orang berusaha mencari tahu siapa dia sebenarnya, mereka salah menafsifkan dirinya. Dia diasosiasikan dengan seorang perempuan yang berzinah. Tafsiran ini bermula dari Ephaim dari Syria di abad ke 4 yang mengatakan bahwa Mary Magdalena adalah sang perempuan yang berzinah. Sesudah itu Paus Gregorius Agung di tahun 491 mengutip Ephraim dalam kotbahnya dan mengatakan hal yang sama. Bahkan Paus menyamakan: Maria Magdalena dengan Maria saudara Lazarus dan dengan wanita pendosa, dan perempuan yang meminyaki kaki Yesus dan mengusap dengan rambutnya dari Injil Lukas 7. Inilah awal penafsiran kalau Maria adalah seorang perempuan yang berzinah. Kini para ahli Kitab Suci menolak tafsiran itu. Tak ada data yang cukup dari Kitab Suci untuk mengatakan bahwa Maria Magdalena adalah sang perempuan yang berzinah.

Maria memang punya relasi yang mendalam dan khusus dengan Yesus. Dia adalah perempuan pertama yang ditampaki Yesus dalam kebangkitannya. Kedekatan relasi ini ditunjukkan ketika sesudah kebangkitan, Maria tak mengenali Yesus yang bangkit dan mengiranya seorang penjaga makam. Namun ketika Yesus menyebut namanya, “Maria”, ia langsung mengenal sang Guru.

Dia dikenal sebagai “rasul untuk para rasul” karena dialah yang mengabarkan kebangkitan Yesus pada 12 rasul. Dia seorang yang setia, berani, dan pengkotbah yang lantang berkata, “Aku telah melihat Tuhan, dan inilah yang telah dikatakanNya padaku.” Semoga semakin banyak perempuan mengikuti jejakku, menjadi pewarta Injil dan bekerja untuk Gereja dengan gagah berani.

 

 

Translate »