Mulut dan tutur kata

Bacaan: Jeremiah 1:4-7, 9
Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Maka aku menjawab: “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Lalu TUHAN mengulurkan tangan-Nya dan menjamah mulutku; TUHAN berfirman kepadaku: “Sesungguhnya, Aku menaruh perkataan-perkataan-Ku ke dalam mulutmu.
Apakah anda melihat saat Presiden SBY mengundang Jokowi dan Prabowo untuk berbuka bersama 2 hari menjelang pengumuman KPU? Mereka duduk satu meja makan diapit oleh SBY. Namun keduanya tak bertegur sapa, konflik dalam diam dan masih menganggap yang lain adalah musuh yang harus dikalahkan. Hal yang sama juga terjadi ketika Megawati dikalah kan SBY dalam pemilu. Keduanya tak bertutur sapa, diam dalam kebisuan dan menganggap orang lain sebagai musuh.
Sepertinya ini tipikal kita, ketika tak menyenangi orang, kita diam dan menghindar. Bahkan tak mau menyapa untuk sedekar sopan santun. Namun kita akan membicarakan orang itu dibelakang bersama teman sekelompok. Kita membangun musuh bersama. Kita tak mau membangun komunikasi yang santun.
Padahal Allah menempatkan sabdaNya di mulut kita. “Sesungguhnya, aku taruh perkataanKu dalam mulutmu!” Kata-kata yang keluar dari mulut adalah kata yang baik, santun, dan penuh kedamaian, bukan kata yang dipenuhi kebencian serta ketidaksenangan. Meski kadang kata-kata para Nabi penuh dengan kritik dan nasehat, mereka bermaksud baik untuk kembali mendekatkan orang pada Allah dan mengingatkan orang Israel untuk setia.
Mari belajar membangun komunikasi yang santun, menyelesaikan persoalan dengan membuka komunikasi dan percakapan, tidak hanya diam, marah. Tapi membicarakan kekurangan orang di belakang! Jangan meniru para pemimpin kita yang tak santun ah!
One thought on “Mulut dan tutur kata”
Saya selalu membaca renungan dari Romo Anton Galih seperti juga dari para Romo yg lain baik di website ini maupun yg lain. Isi renungan hari ini sungguh menyentuh hati saya,karena sebagai manusia kita selalu tergoda untuk menyalahkan orang lain yg tidak sejalan dengan kita. Semoga Tuhan mengarunia roh kudusnya untuk membimbing kita agar bisa menghargai orang lain yang berbeda faham dengan kita dan tidak menjadikannya musuh. Terima kasih Romo Galih.
Comments are closed.