Browsed by
Month: November 2014

Cinta Kasih Zakheus

Cinta Kasih Zakheus

Cinta Kasih Zakheus (Luk. 19:1-10)

KIsah Pertemuan antara Yesus dan Zakheus dibacakan pada Misa pagi ini, mengajak kita melihat kembali lebih mendalam mengenai penghakiman pada akhir zaman, dimana bacaan-bacaan pada akhir masa biasa tahun liturgy diarahkan kepada kedatangan kerajaan Allah.

Zakheus sebagai pemungut cukai yang kaya raya tentunya menimbulkan rasa iri hati bahkan benci dari sesamanya orang-orang Yahudi, karena sebagai pemungut cukai, ia dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Memperkaya diri sendiri atas penderitaan rakyat banyak dan hasil pemungutan pajak tidak dikembalikan kepada rakyat Yahudi untuk kesejahteran bersama melainkan unuk pemerintahan penjajah yakni Kekaisaran Romawi.

Orang seperti Zakheus, menurut pandangan orang Yahudi, pasti akan dihukum oleh Allah sendiri. Tanpa sadar orang Yahudi sudah menghakimi dan menjatuhkan hukuman kepada Zakheus. Namun Tuhan Yesus menunjukan sesuatu yang sangat tidak biasa. Ia menyapa Zakheus yang sudah disingkirkan oleh masyarakat. Allah berbelas kasih kepada semua orang termasuk Zakheus. Allah senantiasa mencintai umatNya bahkan ketika umatNya berdosa,

Apakah berarti Tuhan Yesus mentolerir tindakan Zakheus? Dari Injil menjadi jelas bahwa Zakheus berjanji untuk mengembalikan harta yang diperolehnya secara tidak sah atau melalui pemerasan dan penipuan yang lain. Tentu bisa kita bayangkan pasti ada pembicaraan yang mendalam namun tanpa perasaan menghakimi antara Yesus dan Zakheus.Tentu Yesus menjelaskan kepada Zakheus akan hal-hal yang menyangkut kejujuran, kebaikan dan perubahan hidup.

Jesus tidak mentolerir tindakan Zakheus. Jesus mencintai umat dan ia membuat garis moral yang jelas untuk membantu umat agar berjalan pada jalan yang benar. Yesus tidak menghukum Zakheus. Kita perlu bertanya bagaimana dengan hidup kita? Bukankah kita dipanggil untuk mencontoh hidup Yesus yang tidak menghakimi dan menghukum melainkan menyapa dan mengingatkan saudara-saudari kita yang “keluar” dari garis moral kristiani?

Kisah jenaka: Zakheus

Kisah jenaka: Zakheus

Bacaan: Lukas 19:1-10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.  Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.  Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”  Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.  Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”  Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”  Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Ibu guru: “Anak-anak, ibu akan bercerita Zakheus di sekolah Minggu hari ini ya!”

Anak-anak: “Horeeeee…..(senang dan riang)”

Ibu guru: “Suatu hari Yesus lewat kota Yeriko, dan dia melihat Lazarus naik pohon ara di dekat rumahnya.”

Budi: “Bu guru, yang naik pohon ara itu Zakheus, bukan Lazarus! Lazarus kan yang mati dihidupkan lagi” protes si Budi!

Ibu guru: (tak kehilangan akal) berkata, ” sebentar, tunggu dulu, saya lanjutkan ceritanya.” Lalu Yesus bekata, “Lazarus turun dari pohon!”, dan kamu, Zakheus, naik!”

Anak-anak: ??!!!!!!!

(Dikisahkan seorang umat tadi pagi sesudah misa), renungan Zakheus bisa didapatkan dibawah ini.

Zakheus

Zakheus

Bacaan: Lukas 19:1-10

Siapa yang tak kenal kisah Zakheus? Sebuah narasi indah ditulis oleh narator, Lukas, yang piawian. Sang penulis memakai metode perbandingan berlapis untuk mengajak pembaca tahu apa yang sedang terjadi dalam cerita ini. Mari kita lihat!

Pertama, Yesus hendak ke Yerusalem, dan melewati kota Yeriko. Dia tak berminat menginap di situ, hanya singgah karena Yeriko tidak jauh dari Yerusalem, hanya sekitar 24 km, atau 9 jam jalan kaki saja.

Kedua, di kota Yeriko ada seorang kaya, kepala pemungut cukai bernama Zakheus. Tapi badannya pendek! Saat Yesus lewat, Zakheus ingin melihat Yesus namun tak bisa karena orang banyak. Maka ia naik pohon ara. Penulis kisah ini mengkontraskan hitam-putih hidup Zakheus. Ia kaya, kepala pemungut cukai tapi tak diberi orang kesempatan untuk melihat Yesus. Kata “pendek” dalam kitab suci berarti bahwa orang lain merendahkan dia, tak dianggap, tak dihormati. Bahkan diberi jalanpun tidak. menyedihkan bukan? Seorang dengan status tinggi, kepala pemungut cukai, tapi tak dihargai masyarakat.

Ketiga, saat Yesus melihat dia, Yesus berkata, “Aku akan menumpang di rumahmu!” Padahal sebelumnya Yesus tak bermaksud tinggal di Yeriko. Dia hanya akan lewat saja. Namun Yesus mengubah rencana, dia menginap di rumah Zakheus. Dan apa yang terjadi berikutnya?

Keempat, karena Yesus mau menumpang dirumahnya, Zakheus berkata, “1/4 dari hartaku akan kuberikan pada orang kalau aku merugikan mereka saat menagih pajak!” Tapi orang-orang bersungut-sungut karena perbuatan Yesus itu, dia menginap di rumah orang berdosa yang dianggap buruk tabiatnya oleh masyarakat.

Perubahan hidup Zakheus yang tiba-tiba itu terjadi karena ada orang yang menerima dia, bahkan mau menumpang di rumahnya. Selama ini tak ada seorangpun yang mau berteman atau bahkan mau tinggal di rumahnya. Penerimaan yang tulus dari Yesus membuat dia berubah. Dia merasa dihargai dan dikembalikan derajatnya yang selama ini dianggap buruk.

Mungkin anda punya pengalaman yang sama, punya kenalan yang kaya dan punya uang banyak, tapi tak memiliki teman dekat karena tabiatnya yang buruk. Merekalah orang yang perlu kita dekati, butuh diterima dengan keterbukaan hati, dan dengan rahmat Allah kita berdoa semoga orang-orang yang dijauhi masyarakat mau berubah dan menjadi Zakheus yang juga anak Abraham.

Atau jangan-jangan kita malah seperti orang banyak yang selalu bersungut-sungut (sampai keluar sungutnya!)  tak mau menerima orang yang sudah kita cap buruk.

Talenta

Talenta

Talenta (Mat. 25:14-30)

Orang kristen di jaman sekarang menghadapi pergulatan dengan hidup kerohanian. Banyak orang baik, pribadi-pribadi yang yang jujur bergulat setiap hari dengan iman dan gereja mereka. Banyak hal memicu keadaan ini: pluralism yang kaya akan banyak hal namun miskin di dalam penjelasan mengenai banyak hal; kebudayaan individualism yang membuat keluarga-keluarga dan hidup menggereja mengalami banyak kesulitan dalam banyak hal; efisiensi dan kerja mengakbatkan banyak orang harus berkerja terlalu lama sehingga pada akhir hari orang sudah tidak memiliki energi untuk melalukan sesuatu yang lain.

Kita menjadi korban kebudayaan yang mengidolakan kekuasaan, uang, dan sex sebagai dewa-dewa yang harus dikejar. Hal ini bisa mengakibatkan kita sebagai orang Kristen bisa kehilangan arah panggilan hidup kita. Injil Minggu ini mengingatkan kita akan Allah Bapa sumber segala kebaikan yang memberikan kita apa saja yang kita butuhkan untuk hidup, bergulat, dan memilih Kerajaan Allah. Allah Bapa memberikan kita talenta yakni iman sebagai pegangan hidup. Dengan talenta iman itu kita percaya bahwa Allah Bapa mencintai kita dengan mengampuni dosa kita dan menyediakan tempat kediaman abadi di dalam kerajaanNya. Talenta iman itu membuat kita tidak mudah menyerah dalam pergulatan hidup. Demikian juga talenta iman itu membuat kita menyerahkan diri pada kehendak Tuhan.

Talenta iman inilah yang perlu untuk dikembangkan melalui hidup keseharian kita. Dengan talenta iman itu kita dipanggil untuk menjadi agen-agen perubahan kerohanian dalam hidup kita sendiri, keluarga, gereja dan masyarakat. Kerohanian adalah unsur yang sangat penting dalam hidup kita. Apa yang membentuk tindakan kita adalah kerohanian kita. Para kudus adalah contoh yang paling jelas dalam hal ini. Ibu Teresa dari Kalkuta sebagai contoh, bagaimana ia mengembangkan talenta imannya melalui kerohanian yang mengalirkan kehidupan bagi orang lain. Adalah hal yang tidak mudah memang untuk menjadi seorang kudus yang memiliki satu keinginan: mengembangkan talenta iman dalam kehidupan sehari-hari.

Kebanyakan dari kita memiliki banyak keinginan. Kita ingin mengabdi pada Tuhan melalui pelayanan kepada orang miskin dan memiliki gaya hidup sederhana, namun kita juga ingin hidup dalam kenyamanan kekayaan; kita ingin berdoa, tetapi kita juga ingin menonton televisi, membaca, berbincang-bincang dengan teman, dan jalan-jalan keluar rumah. Inilah pergulatan yang kita alami sehingga keingan untuk memilih satu nyang penting yakni mengembangkan talenta iman dalam hidup sehari-hari sungguh merupakan tantangan yang tidak mudah.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk senantiasa memilih yang terbaik, karena memilih untuk mengembangkan hidup kerohanian kita adalah satu-satunya yang akan membuat kita memiliki kebahagiaan sejati.

Translate »