Zakheus

Zakheus

Bacaan: Lukas 19:1-10

Siapa yang tak kenal kisah Zakheus? Sebuah narasi indah ditulis oleh narator, Lukas, yang piawian. Sang penulis memakai metode perbandingan berlapis untuk mengajak pembaca tahu apa yang sedang terjadi dalam cerita ini. Mari kita lihat!

Pertama, Yesus hendak ke Yerusalem, dan melewati kota Yeriko. Dia tak berminat menginap di situ, hanya singgah karena Yeriko tidak jauh dari Yerusalem, hanya sekitar 24 km, atau 9 jam jalan kaki saja.

Kedua, di kota Yeriko ada seorang kaya, kepala pemungut cukai bernama Zakheus. Tapi badannya pendek! Saat Yesus lewat, Zakheus ingin melihat Yesus namun tak bisa karena orang banyak. Maka ia naik pohon ara. Penulis kisah ini mengkontraskan hitam-putih hidup Zakheus. Ia kaya, kepala pemungut cukai tapi tak diberi orang kesempatan untuk melihat Yesus. Kata “pendek” dalam kitab suci berarti bahwa orang lain merendahkan dia, tak dianggap, tak dihormati. Bahkan diberi jalanpun tidak. menyedihkan bukan? Seorang dengan status tinggi, kepala pemungut cukai, tapi tak dihargai masyarakat.

Ketiga, saat Yesus melihat dia, Yesus berkata, “Aku akan menumpang di rumahmu!” Padahal sebelumnya Yesus tak bermaksud tinggal di Yeriko. Dia hanya akan lewat saja. Namun Yesus mengubah rencana, dia menginap di rumah Zakheus. Dan apa yang terjadi berikutnya?

Keempat, karena Yesus mau menumpang dirumahnya, Zakheus berkata, “1/4 dari hartaku akan kuberikan pada orang kalau aku merugikan mereka saat menagih pajak!” Tapi orang-orang bersungut-sungut karena perbuatan Yesus itu, dia menginap di rumah orang berdosa yang dianggap buruk tabiatnya oleh masyarakat.

Perubahan hidup Zakheus yang tiba-tiba itu terjadi karena ada orang yang menerima dia, bahkan mau menumpang di rumahnya. Selama ini tak ada seorangpun yang mau berteman atau bahkan mau tinggal di rumahnya. Penerimaan yang tulus dari Yesus membuat dia berubah. Dia merasa dihargai dan dikembalikan derajatnya yang selama ini dianggap buruk.

Mungkin anda punya pengalaman yang sama, punya kenalan yang kaya dan punya uang banyak, tapi tak memiliki teman dekat karena tabiatnya yang buruk. Merekalah orang yang perlu kita dekati, butuh diterima dengan keterbukaan hati, dan dengan rahmat Allah kita berdoa semoga orang-orang yang dijauhi masyarakat mau berubah dan menjadi Zakheus yang juga anak Abraham.

Atau jangan-jangan kita malah seperti orang banyak yang selalu bersungut-sungut (sampai keluar sungutnya!)  tak mau menerima orang yang sudah kita cap buruk.

Comments are closed.
Translate »