Browsed by
Month: November 2014

Kita harus berjuang untuk bisa menjadi seperti Santu Paulus dalam kesetiaan dan kesuciannya

Kita harus berjuang untuk bisa menjadi seperti Santu Paulus dalam kesetiaan dan kesuciannya

Filipi 3:17-4:1
Luke 16;-8

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita semua melalui bacaan-bacaannya ditantang bagaimana seharusnya kita menghadapi kehidupan dunia ini dengan segala sepak terjangnya. Di satu pihak, Santu Paulus menegaskan agar kita semoga mampu mengikuti Yesus, sebagaimana ia sendiri telah mengalami dan merasakan betapa besar arti dan makna dari kehidupan yang sebenarnya ketika ia telah menyerahkan diri untuk hidup dalam Kristus. Dan di pihak yang lain, Yesus sendiri dalam bacaan injil hari ini memberikan suatu pujian yang berupa sindiran kepada manager yang tidak jujur yang berusaha untuk mencari untung untuk diri sendiri setelah ia menyadari bahwa dia akan segera dipecat oleh tuannya.

Kepada jemaat di Filipi St. Paulus menegaskan agar mereka dapat mengikuti jejaknya; tidak berarti bahwa dia mau menunjukkan kesombongannya ataupun keunggulan serta kelebihannya. Tetapi justru ia mau menunjukan sikap pastoralnya kepada mereka. Ia mengatakan bahwa tubuh yang kita miliki ini pada suatu hari akan dimuliakan di kerajaan surga, kalau kita bisa konsekuen dengan ajaran Yesus.

Saudara-saudari terkasih,

Hari ini kita coba meluangkan waktu sejenak merenungkan apa yang Santu Paulus katakan dalam suratnya kepada jemaat di Filipi; kita akan dapat berkesimpulan bahwa santu Paulus adalah benar-benar seseorang yang tidak plin-plan. Melainkan ia benar-benar konsekuen dengan komitmennya memberitakanbahwa Yesus Kristus sungguh-sungguh telah menderita, wafat dan bangkit dari antara orang mati untuk keselamatan ataupun kepentingan kita. Ia yang telah menjelma menjadi manusia, menjadi sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa; dan inilah yang menjadi topik utama dalam pewartaan Paulus.

Selanjutnya dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbicara tentang bendahara yang tidak jujur dan yang telah menghamburkan harta milik tuannya. Sang bendahara mencoba memanipulasi uang tuannya untuk dirinya sendiri, ia lalu coba mencari keuntungan dari mereka yang telah berhutang kepada tuannya. Yesus menyampaikan kepada para muridNya bahwa kita perlu bertindak cerdik. Karena kekayaan dunia ini datang dan pergi seperti yang kita lihat pada saat ini. Tetapi Yesus menghendaki agar agar kita bisa memperhatikan harta benda rohani juga seperti kita selalu memperhatikan harta benda duniawi. Untuk kita sebagai orang Katolik, kita mempunyai sakramen-sakramen, kesetiaan kita menghadiri perayaan Ekaristi dan atau menjalani doa-doa harian kita. Karena pada bagian terakhir dari bab ini Yesus mengatakan …”Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas16:13)

Saudara-saudari terkasih,

Lalu apa yang dapat kita petik dari bacaan-bacaan hari ini? Baik Yesus maupun Santu Paulus menyampaikan kepada kita bahwa kita tidak dapat bergantung pada harta kekayaan duniawi semata untuk mencapai kehidupan kekal. Karena sementara kita mempergunakan harta kekayaan duniawi itu untuk kesejahteraan hidup keluarga dan diri sendiri, kita perlu menyadari bahwa kita tidak hanya sibuk dan hidup untuk uang belaka. Santu Paulus sendiri pernah mengatakan bahwa “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. (Lukas 3:4) Selanjutnya Yesus sendiri menegaskan bahwa keinginan kita akan harta benda duniawi tidak akan menghantar kita ke kerajaan surga. Oleh karena itu marilah kita lebih bersikap sportif satu terhadap yang lain dalam doa, konsekuen dengan panggilan yang telah kita terima, terutama kalau kita senantiasa bersatu dalam doa dan korban…kalau mungkin bisa mengikuti perayaan ekaristi setiap hari sebagai suatu tanda bahwa kita benar-benar mau selalu bersatu dan ada bersama Yesus sekarang dan selama-lamanya, Amin.

Tuhan mencintai dan menerima kita sepenuhnya

Tuhan mencintai dan menerima kita sepenuhnya

Philippians 3:3-8a
Luke 15:1-10

Saudara-saudari terkasih,

Belum lama ini Paus Fransiskus mengejutkan dunia dengan dua kebenaran fundamental: “bahwa kita semua adalah orang berdosa dan Allah Bapa kita tetap mencintai kita apa adanya.” Kedua pernyataan fundamental diatas disampaikan ketika ia dengan bebas menyapa umat yang hadir pada suatu kesempatan audiensinya dimana statement itu sangat banyak berhubungan dengan belaskasihan Allah kepada kita umatNya seperti yang dikatakan dalam bacaan-bacaan hari ini.

Tetapi Yesus seringkali dikerumuni oleh orang-orang yang selalu ragu-ragu dan kritis dalam sikapnya kepada Yesus karena mereka selalu mengacuh kepada hukum dan undang-undang agama terutama ketika pengetahuan mereka itu dihadapkan dengan apa yang Yesus perbuat. Santu Paulus dalam suatu perubahan yang radikal, sebagaimana juga Yesus sendiri selalu bisa langsung masuk ke pokok persoalan: “bahwa kita semua, tidak terkecuali tak pernah luput dari dosa kecuali Bunda Maria”; namun kita semua telah dihapuskan dari segala kesalahan dan dosa dan diterima kedalam sukacita surgawi ketika kita mau bertobat;….”Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat,”…dipihak lain Santu Paulus kadang-kadang mempergunakan contoh-contoh yang sangat abstrak, tetapi dalam injil hari ini Yesus mempergunakan contoh-contoh atau perumpamaan yang sangat gamblang/mudah dimengerti: seperti tentang seorang gembala dan seorang wanita yang sama-sama kehilangan harta bendanya yang sangat berharga.

Saudara-saudari terkasih,

Dua hal yang perlu kita pelajari dari kedua bacaan diatas ialah: pertama, agar kita mempunyai kepercayaan yang mutlak akan pengampuan dan belaskasihan Allah serta keterbukaan hati Allah yang mau menerima kita kembali setelah kita memisahkan diri atau tersesat dari jalan Allah. Tentu saja hal ini tidak mudah untuk selalu kita jalani sepanjang kehidupan ini terutama ketika semakin hari semakin menyadari akan ketidaksempurnaan kita di hadapan Allah.

Dan yang kedua ialah dengan membantu orang lain yang memerlukan pertolongan, agar mereka bisa melihat betapa besarnya belaskasih Tuhan dan betapa bahagianya Tuhan kalau kita dapat membantu orang lain yang telah menjauhi Tuhan kembali kepadaNya, dan bertobat.

Saudara-saudari sekalian, pada kesempatan yang istimewa ini marilah kita mohon kekuatan dari Allah Bapa kita untuk terbuka dan membukakan diri agar kita boleh masuk ke dalam proses penyembuhan dan bersedia menerima rahmat Tuhan yang diberikan kepada setiap orang dengan bebas dan cuma-cuma. Amin.

“Tidak mudah menjadi murid Yesus; tetapi suatu panggilan hidup yang sangat berarti”

“Tidak mudah menjadi murid Yesus; tetapi suatu panggilan hidup yang sangat berarti”

 

Filipi 2:12-18
Lukas 14:25-33

 

Ada satu ucapan populer dalam bahasa Ingeris (slang) bunyinya begini: “I’m so hungry I could eat a horse!” Slang ini dipakai oleh seseorang apabila dia benar-benar sangat lapar, sehingga kuda yang begitu besarpun dia bisa makan. Ucapan populer ini benar-benar suatu ucapan yang sangat berlebih-lebihan. Bagaimana mungkin dia bisa makan kuda yang begitu besar. Tetapi itu hanyalah suatu pernyataan yang mau menjelaskan bahwa orang tersebut sungguh-sungguh sangat lapar.
Yesus pada beberapa kesempatan tertentu sering juga mempergunakan ucapan-ucapan yang berlebihan (exaggeration or overstatement) untuk lebih menegaskan apa yang akan Ia sampaikan. Misalnya: “Apakah benar Yesus mau supaya kita membenci orangtua kita?” Sudah sangat pasti “TIDAK”. Yang Yesus maksudkan disini supaya kita tahu dan sadar bahwa hal pemuridan itu adalah suatu tugas panggilan yang penting; oleh karena itu dari pihak kita yang menjawab panggilan Yesus itu dituntut pengorbanan dan penyerahan diri secara total.
Saudara-saudari terkasih,
Suatu hal yang sangat penting dalam kekatolikan kita, bahwa kita mempunyai Kitab Suci dan Tradisi yang membimbing dan menyertai perjalanan hidup iman kita. Apabila kita dihadapkan dengan pernyataan-pernyataan ataupun pesan-pesan yang menimbulkan teka-teki, sepeti “Membenci orangtuamu”, kita masih mempunyai Tradisi Gereja yang mengajarkan dan mengklarifikasi bagaimana caranya kita menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Yesus adalah Sang Sabda yang telah menjelma, yang turun dari Surga. Baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci secara bersama-sama membuat Sabda Allah itu kita bisa menggunakannya sebagai pegangan kita dalam hal mengaplikasikannya dalam kehidupan kita setiap hari. Santu Paulus dalam bacaan pertama hari ini menganjurkan agar kita berpegang pada sabda kehidupan; dan hal itu dapat kita lakukan dengan menghadirkan Yesus dalam perjalanan hidup rohani kita setiap hari.
Santu Paulus juga menegaskan:…“kerena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,…Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan…dan berpegang pada firman kehidupan…” (Filipi 2:12,14 dan 16). Mengapa kita harus takut dan gentar? Lakukanlah apa yang ditugaskan kepada kita dan yang dengan rela telah menjawab panggilannya sebagai suatu rahmat dan berkat dari Tuhan.

Disini sangat mungkin bahwa Santu Paulus juga agak berlebih-lebihan (exaggerating a bit). Tetapi tujuannya sangat jelas bahwa: kita harus selalu bekerja keras dan berusaha untuk hidup sebagai murid-murid Yesus yang setia. Kita harus selalu menyiapkan waktu setiap hari “merenungkan Sabda Tuhan” – dengan membaca Kitab Suci dan Ajaran-Ajaran Gereja serta renungan-renungan rohani dari sumber-sumber yang baik. Kalau kita selalu bergerak dan berjalan bersama Yesus maka seperti Santu Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi hari ini mengatakan: “…sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Filipi 2:15). Itulah sukacita kita sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.

Translate ยป