Selasa, Minggu ke 31 Masa Biasa
Dari riwayat hidup St. Martin de Pores ini boleh kita katakan bahwa ia telah mengukir hidupnya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Kalau kita boleh bertanya: “Apakah pelayanan yang telah St. Martin de Pores lakukan mendapat pengakuan dari kalangan gereja dan negara?” Saya kira sudah tidak bisa diragukan lagi dengan jawaban “Ya”. Tetapi bukan tidak mungkin kalau masih ada orang lain yang menggerutu, yang tidak setuju atau tidak suka melihat orang lain bisa berbuat sesuatu yang baik untuk orang lain. St. Martin de Pores pun sering mendapat tantangan dari sesama saudaranya dalam biara… namun suara Yesus masih lebih keras memanggil Martin de Pores untuk melanjutkan apa yang telah Yesus lakukan seperti yang telah ditekankan juga ole St. Paulus dalam bacaan pertama kepada jemaat di Filipi…“hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih,satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Semoga kita bisa belajar dari St. Martin de Pores untuk lebih menampilkan kebaikan dan kasih Allah dalam masyarakat atau umat Allah yang lagi menghadapi kesulitan karena perbedaan ras/warna kulit, dalam menanggulangi kemiskinan dan memperhatikan mereka yang tertindas. Selamat bermeditasi, Amin.

Bacaan: Yohanes 6: 37-40
Mengapa kita berdoa untuk arwah saudara yang telah meninggal?
Pertama, kita percaya akan kekuatan doa bahwa kita memohon kerahiman Allah untuk membawa saudara yang telah meninggal masuk dalam kepenuhan hidup abadi di surga. Saat kita hidup, kita mampu untuk memutuskan apapun yang akan terjadi dalam hidup, kita menguasai sepenuhnya hidup kita. Namun di saat kita mati, orang lain akan menentukan bagaimana saat-saat terakhir kita di dunia akan diselenggarakan. Terlebih di dalam hidup sesudah kematian, hanya dengan kerahiman Allah saja kita berharap, karena kita tak berkuasa apapun atas hidup.
Kedua, kita berdoa karena kita percaya akan kasih Allah yang tak berkesudahan. Kasih Alah yang itulah yang menghubungkan kehidupan di dunia dengan masa selanjutnya. Kasih Allah adalah kekuatan yang menghidupkan Yesus dari kematian dan kesengsaraan salib. Kekuatan doa ini jauh lebih besar dari apa yang bisa kita bayangkan. Doa untuk arwah menjadi tanda kesungguhan bahwa kita bergantung sepenuhnya pada kekuasaan Allah akan kehidupan dan kematian.
Ketiga, sebagaian dari saudara kita yang meninggal tidak siap untuk mati dan masuk dalam kesatuan dengan Allah. Ketidaksiapan untuk bersatu dengan para kudus di surga bisa terjadi karena saudara-saudara di dunia yang masih hidup tidak lega melepaskan mereka yang meninggal, atau mereka yang meninggal memang memiliki kedosaan masa lalu yang masih mempengaruhi kehidupan mereka di akherat.
Doa kita memohonkan agar Allah menyembuhkan relasi yang terputus karena dosa, membersihkan jiwa-jiwa dari kekuasaan dosa. Oleh karenanya, di bulan arwah orang beriman ini, kita semua diajak berdoa bagi semua saudara yang telah meniggal, bagi orang mati yang jarang didoakan, dan bagi semua orang yang memohon kemurahan Allah untuk menerima hidup abadi di surga.
Keempat, hari arwah orang beriman mengingatkan kalau kehidupan kita di dunia hanyalah sementara. Kita memiliki hidup jauh lebih panjang di surga. Kita diingatkan kalau hidup di dunia yang sementara ini harus dipakai dengan sebaiknya, berbuah banyak, dan jangan sampai terikat penuh dengan segala sesuatu yang menghalangi kita dari kasih Allah.
Semoga lewat doa kita, mereka yang telah meninggal beristirahat dalam damai di surga. Rest in Peace!