Browsed by
Month: January 2015

Kekuatan Sabda

Kekuatan Sabda

Hebrews 4:12-13

Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Psikologi perkembangan meyakin kalau kata-kata deskriptip yang keluar dari mulut seseorang akan sangat mempengaruhi keadaan hidupnya. Terutama ungkapan-ungkapan negatif tentang diri: “Saya selalu gagal”, “saya tak pandai”, “saya selalu kalah dalam bersaing”, dan “saya hanya biasa saja”; membuat sisi-sisi negatif itu menaungi dan menentukan masa depan kita.

Sebaliknya, ungkapan positif akan diri, juga memberi dorongan internal dari dalam hati untuk mengubah dan mentransformasi hidup seseorang. “Saya bisa!” “saya terberkati”, “saya dicintai” “saya mampu menyumbang hidup untuk masyarakat”. Sedikit demi sedikit energi positif dari kata-kata memberi kekuatan dalam diri seseorang untuk mengubah gambaran dan deskripsi yang negatif tentang diri.

Kalau anda memandang diri negatif, carilah kata-kata dari Kitab Suci yang mengubah hal negatif menjadi positif. Tuhan berkata, “Engkau adalah biji mataKu”. Setiap orang berharga, indah, unik, serta tak tergantikan di mata Allah. Kita bukan ciptaan biasa saja yang Allah inginkan, tapi punya sesuatu yang khas dan orang lain tak punya.

Penulis  kitab Ibrani meyakini kalau Sabda Allah itu sungguh berdaya, Sabda yang diyakini dan dihidupi akan mampu mengubah hidup  manusia karena ia bagaikan pedang yang tajam mampu mematahkan dan menghancurkan kelemahan. Sabda yang dipercaya dalam batin bisa menusuk sampai ke dalam batin, membuat orang tak bisa berdiam untuk mau menjadi pelaksana sabda.

Mulailah hari ini mengubah kata-kata negatif deskriptif diri, ubahlah menjadi positif. Pakailah sabda Allah yang menguatkan, memberi harapan, serta mengelorakan semangat hidup kita. Let the Word of God flame your heart and change you from inside today!

When God closed the door, God opens a window

When God closed the door, God opens a window

Mark 2:1-4

Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring.

Siapakah 4 orang yang mengangkat si lumpuh pada Yesus? kita tidak tahu identitas mereka, bahkan namapun tak disebutkan dalam Injil Markus. Keempat orang ini mencari cara bagaimana membawa si sakit pada Yesus, saat semua jalan tak bisa dilewati. Bisa dibayangkan, betapa orang begitu antusias ingin melihat Yesus, sampai mereka tak peduli dan tak memberi jalan pada orang lumpuh untuk lewat. Seakan mereka tak mau “spot” mereka diambil orang lain.

Ketika jalan biasa tertutup, keempat orang ini kreatif membuka atap rumah, dan menurunkan si lumpuh pada Yesus. Janganlah dibayangkan bahwa rumah-rumah orang Yahudi di abad pertama sama seperti rumah permanen yang kita punya sekarang ini. Atap rumah mereka mudah dibuka-ditutup, terbuat dari bahan yang tidak berat, mempercepat sirkulasi udara saat dibuka atau ditutup.

Bacaan hari ini mengingatkan kita kalau sering kita berhenti dan putus asa ketika sebuah usaha gagal, seolah akhir segalanya. Sama seperti orang-orang yang tak menemukan jalan buat si lumpuh. Mereka perlu membuka jalan lain, berputar, bekerja lebih keras agar usahanya tercapai. Di saat-saat seperti itu, kita butuh orang lain, teman dan sahabat untuk membantu membuka jalan baru bagaimana agar sampai pada Tuhan, karna sering kita sendiri hanya mampu melihat satu jalan, tak melirik jalan alternatif, atau takut untuk melewatinya.

Suatu hari kita pasti akan menjadi seperti 4 orang pengusung si sakit, menunjukkan jalan pada orang lain, mencari alternati dan usaha lain agar cita-cita yang diimpikan bisa diraih. Yakinlah bahwa di saat Allah telah menutup pintu, Ia juga sudah membuka sebuah jendela bagi kita.

DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS MENGAKU BAHWA IA HANYA MEMPERSIAPKAN JALAN UNTUK YESUS

DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS MENGAKU BAHWA IA HANYA MEMPERSIAPKAN JALAN UNTUK YESUS

10 January, 2015
 
1 Yohanes 5:14-21
Yohanes 3:22-30
“DENGAN PENUH KERENDAHAN HATI YOHANES PEMBAPTIS MENGAKU BAHWA IA HANYA MEMPERSIAPKAN JALAN UNTUK YESUS.”
Saudara-saudari terkasih,
    Sekitar tahun 2000 saya pernah memimpin perjalanan rohani ke Fatima (Portugal), Roma, dan Lourdes (Prancis)…dan sempat ke Venetia. Ketika mampir di Venetia, saya mendapat kesempatan naik gondola dari Basilica San Marco menelusuri tempat-tempat bersejarah di sepanjang Mediteranian Sea. Salah satu tempat bersejarah yang saya ingat baik, ialah tempat tinggal atau rumah yang pernah didiami oleh komposer terkenal Amadeus Mozart. Dikatakan juga bahwa dalam salah satu fictional movie ada seorang komposer lain namanya Salieri yang secara tidak sehat mau menyaingi dan sangat mencemburui Mozart. Ia tidak senang kalau Mozart dibilang sebagai Musisi terkemuka. Salieri tidak mau menjadi orang nomor dua setelah Mozart.
    Dari cerita ini boleh dibilang bahwa Salieri sikap atau tabiatnya sungguh bertentangan dengan Yohanes Pembaptis yang ceritanya kita dengar dalam bacaan injil hari ini. Baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis, keduanya adalah pewarta kabar gembira, masing-masing memiliki pengikut. Pada suatu hari murid-murid Yohanes Pembaptis bersama beberapa orang lain menyampaikan kepada Yohanes bahwa Yesus juga melakukan pembaptisan. Yohanes menjawab: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya.”(Yohanes 3:27)
    Yohanes Pembaptis sendiri tidak pernah merasa disaingi…atau takut akan disaingi oleh Yesus. Ia dengan cukup jelas dan tegas menerima fakta peranannya sendiri dalam hidupnya. Hal itu dinyatakan pada hari kelahirannya sendiri ketika ayahnya, Zachariah, ketika sedang berdoa, “Engkau, anakku, akan disebut nabi yang mahatinggi.” Yohanes bukan Messias, tetapi seorang yang menyiapkan jalan bagiNya. Ia menjelaskan hal ini kepada para pengikut/muridnya dalam salah satu pengertian tentang perjamuan nikah. Yesus adalah mempelai laki-laki, pemeran utama, dan Yohanes adalah sahabat mempelai laki-laki (di America biasa disebut the best man), yang mempersiapkan jalan untuk mempelai laki-laki. Kerendahan hatinya menunjukkan kebenaran. Yohanes dalam kerendahan hati itu melaksanakan apa yang telah Tuhan tugaskan kepadanya. Disini kita tidak pernah melihat bahwa apa yang Yohanes lakukan untuk menyaingi Yesus. Melainkan, Yohanes mengdeklarasikan bahwa “He must increase, while I must decrease.”(“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”)
    Di taman Firdaus, Adam dan Hawa justru jatuh dalam dosa yang disebut “dosa kesombongan.” Setan mencobai mereka dengan suatu janji bahwa mereka akan menjadi seperti Allah. Saudara-saudari sekalian, kita perlu menyadari bahwa kita semua dilahirkan dalam kelemahan yang sama, yakni kelemahan “keakuan” (dosa keakuan), dan kesombongan itu adalah salah satu dari dosa-dosa pokok. Sementara di pihak lain kita juga diciptakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tetapi kadang kala kita juga dicobai untuk melakukan pekerjaan demi kemuliaan dan kebesaran nama sendiri ketimbang demi kemuliaan dan keagungan nama Allah Pencipta; Kita lalu lupa bahwa segala sesuatu yang kita peroleh itu datangnya dari Allah. Kalau kita bekerja untuk kemuliaan dan keagungan nama sendiri, maka disini kita lupa akan kata-kata Yohanes sendiri yang mengatakan: “He must increase, while I must decrease.”(“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yohanes 3:30.)
Jadi, saudara-saudariku terkasih,
    Apa yang dapat kita perbuat sekarang ini? Kiranya sudah cukup jelas baha hidup kita sudah seharus berpusat kepada Kristus (Christ-centered), dan pekerjaan kita kiranya dapat mengatasi “self-centered” kita. Sebagai misal kalau kita lagi menjalani perlombaan marathon, memenangkan kejuaraan itu dan mendapat award atau menciptakan suatu yang fantastik dari suatu karya seni misalnya, kita perlu mengucap syukur kepada Tuhan dan memuji atau memuliakanNya. Kalau kita mendapat pujian atas prestasi yang kita peroleh dalam suatu kegiatan atau perkerjaan tertentu, seperti masakan kita enak, suara kita bagus dan bahkan penampilan kita menakjubkan (cantik atau ganteng), maka tidak mustahi kalau kita bisa mengatakan…”puji Tuhan!” dan terimakasih! Lalu kalau kita semua bisa fokus pada kegiatan untuk mempromosikan Injil Tuhan (Kabar Gembira) ini dalam kehidupan kita sehari-hari dan tidak mewartakan diri sendiri, maka dengan demikian kita sudah bisa menjawab panggilan kita sebagaimana yang Tuhan kehendaki: bahwa “Yesus harus makin besar dan aku harus makin kecil.” Amen.

 

Translate »