Browsed by
Month: January 2015

Doa yang sederhana

Doa yang sederhana

Mark 1:40-41

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”  Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

Ada seorang ibu yang tidak pernah mau ketika diminta memimpin doa makan bersama. Saya bertanya, “kenapa tidak bersedia?” “Saya tak bisa berdoa panjang lebar Pastur, tak seperti teman Kristen yang doanya bagus dan panjang!” jawabnya. Sering kita pun melihat kalau orang Katolik disuruh doa spontan permohonan, tak banyak yang bereaksi, hanya diam seribu bahasa, berdoa dalam hati masing-masing.

Seorang kusta yang datang pada Yesus hari ini, memohon padaNya dengan kata-kata yang sederhana, “kalau engkau mau, engkau dapat mentahirkan (menyembuhkan) aku. Yesus tergerak hati dan dia berkata, “Aku mau!”

Kisah diatas mmenjadi inspirasi bagi kita bahwa doa itu bisa amat sederhana dan mendalam. Doa yang tidak takut meminta ap ayang sungguh dibutuhkan, simpel, tanpa basa-basi, “straightforward”. Doa Yesus juga sering kali demikian dalam meminta kekuatan, mohon petunjuk arah, meminta Allah mengungkapkan kehendakNya dengan jelas, dan lainnya. Dalam situasi yang paling sulit dan mencekam menjelang sengsara, dia berdoa dengan sederhana, “Bapa jauhkan piala ini dari padaku!”; “Kedalam tanganMu kuserahkan nyawaku.”  Oleh karenanya, dalam situasi yang paling sulit sekalipun, saat kita tidak tahu berdoa apa dan bagaimana, Santo Paulus berkata kalau  Roh Kudus sendiri yang akan memohonkan bagi kita dengan ungkapan yang melebihi kata-kata.

Berdoalah sederhana hari ini. Kita bisa mengubah kata-kata orang lepra itu, “Tuhan kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan ….menguatkan….mengubah…menghilangkan.., dan mengganti dengan kata kerja  lain yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Sembari memohon agar Tuhan berkenan, dan berkata, “Aku mau!”

Mukjijat penyembuhan: antara “healing” dan “curing”

Mukjijat penyembuhan: antara “healing” dan “curing”

Mark 1:29-34

Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Kata bahasa Inggris membedakan antara “healing” dan “curing”. Curing adalah usaha pengobatan untuk menghilangkan penyakit dalam badan seseorang. Kalau anda sakit flu, dokter akan memberi anda obat untuk menyembuhkan dan menghilangkan gejala flu itu: demam, batuk, atau pilek. Sedangkan kata healing berarti usaha membuat utuh hidup seseorang, ada keharmonisan antara badan, jiwa, pikiran, dan kehendak.

Contoh yang lain, dokter bisa saja memberi anda 45gm obat darah tinggi untuk mengontrol hipertensi. Namun kalau anda tak pernah bisa mengontrol mengelola stress, pola makan, menerapkan cara hidup sehat, punya kehendak untuk mengubah gaya hidup, obat itu hanya berguna sebagai “curing”, bukan bagian dari proses “healing”.

Penyembuhan dan keajaiban Yesus menyembuhkan sering diikuti dengan kata-katan pengampunan dosa. Orang Yahudi pada jamanNya percaya bahwa orang menjadi sakit karena salah satu akibat dari kedosaannya. Yesus membuat orang itu tidak hanya sembuh secara badaniah, tapi membuat orang kembali menjadi utuh, “whole”, dan menyatukan antara badan, jiwa, dan kehendaknya.

Kalau anda merasa sakit hari ini, mintalah pada Yesus kesembuhan dan kekuatan agar Dia sang Tabib memberi kesembuhan badan, juga jiwa, tidak hanya “curing” tapi membuat hidup kita kembali utuh, lepas dari rasa kecewa, sakit hati, kosong, dan hampa. Tapi diisi dengan kehendak untuk bahagia, positif thinking, hope, and love.

Mendidik dengan hati dan budi

Mendidik dengan hati dan budi

Mark 1:21-22

Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. 22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

Karena penasaran akan begitu baiknya nilai anak-anak China dalam ujian SAT, TOEFL, dan ujian international lain, 70 orang guru dari Inggris dikirim ke Sanghai tahun 2014 lalu untuk melihat bagaimana mereka dididik di sekolah. Setelah kembali, mereka melaporkan kalau metode “chalk and talk”, pendidikan satu arah, anak-anak mendengar dan guru mengajar, serta menghapal rumus juga ringkasan menjadi kunci mengapa mereka sukses di ujian. Padahal metode ini telah ditingalkan Ingris, AUS, dan USA 40 tahun lalu. Kini pendidikan mereka lebih mengedepankan dialog interaktif dan anak didik mengambil porsi besar dalam proses belajar mengajar.

Timbul diskusi dan perdebatan panjang dalam NY Times soal metode mengajar dan hasil yang diharapkan. Seorang dari New York berkomentar kalau anak-anak China memang menjuarai hampir seluruh test International dengan nilai tinggi, mereka didik untuk bisa menjawab soal. Namun pertanyaannya, mengapa hampir 79% penemuan ilmiah ada di USA, mengapa hak paten paling besar ada di negara ini? Mengapa kita bisa menemukan Ipad dan Iphone? Sedangkan mereka hanya memproduksi tidak mencipta? Mereka memang dididik untuk menjawab soal, tapi tidak diajak kreatif berfikir out of the box, tak berimaginasi bebas dan bermimpi mencipta, mereka menjawab soal tapi tidak bisa membuat baru, hanya meniru dan mencontoh.

Muncul pula kritik keras pada model pendidikan dasar di USA yang membuat anak terlalu percaya diri karena sering dipuji, “You are good! great! awesome!” Padahal “Overly praising students, especially those who under-perform, is especially counterproductive.” Mereka perlu juga diberitahu kalau pernah salah dan melakukan hal yang keliru, tak harus selalu dipuji, perlu dikritik dan dinasehati.

Diskusi akhirnya bermuara pada keyakinan kalau, “there is not just one way to teach.” Metode mengajar bukanlah harus A style dan bukan B! Mengajar adalah seni, menggabungkan intelektual dan hati, memahami anak dan kemampuannya, serta membantu mereka menemukan potensi kehidupan paling besar yang bisa dicapai.

Bacaan hari ini berkisah Yesus yang mengajar orang dengan penuh otoritas dan kuasa. Mereka semua heran dan terkejut, terkagum juga takjub karena belum pernah melihat orang mengajar dengan kuasa yang begitu besar, hingga membuat orang percaya akan apa yang diajarkan.

Mengajar denga penuh kuasa dan otoritas berarti membuat orang lain tidak hanya heran pada diri si guru, tapi mengarahkan mereka untuk menghidupi ajaran dan nilai yang ditawarkan. Ini bukan hanya menghapal seperti kakatua yang diajari omong oleh si empunya, tapi membuka mata dan hati, budi dan kehendak untuk berubah menjadi lebih baik dari kemarin.

Kita memohon agar kita juga bisa menjadi guru yang baik, penuh wibawa dan bijaksana bagi anak-anak dan orang di sekitar, sehingga mereka tidak hanya ikut kita, tapi mereka bisa mengubah hidup karena contoh dan ajaran kita.

Temukan misi besarmu!

Temukan misi besarmu!

Mark 1:14-18

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.

Setiap orang di dunia memiliki sebuah misi dalam hidup yang harus dijalani. Misi itu ditemukan kalau kita memahami apa tujuan kehidupan ini. Bacaan di atas memberi kita inpirasi untuk menemukan tujuan dan misi hidup:

1. Tujuan dan misi: tujuan Yesus datang adalah untuk menyelamatkan hidup manusia dari kedosaan, dan misinya memberitakan Injil Allah. Dalam menjalankan misi, Dia memanggil orang-orang untuk ikut serta dalam karya. Tiga orang yang dipangil pertama adalah Simon, Andreas, dan Yohanes. Yesus menunjukkan pada mereka kalau ada misi lebih besar dari sekedar menjadi penjala ikan. Dia membuat mereka menjadi “penjala manusia!”

Sebenarnya tujuan setiap orang hidup adalah sama: berbahagia sekarang dan kelak di akhirat dan bisa hidup untuk memuliakan Allah. Sedangkan misi setiap orang berbeda untuk mencapai tujuan itu.

2. Misi itu Intrinsik (dari dalam) Vs extrinsik (dari luar): misi sejati berasal dari kedalaman hidup pribadi, bukan karena paksaan dan tekanan dari luar. Para murid mengikuti Yesus dengan suka rela, mereka meninggalkan jalan dan pekerjaannya segera, memutuskan jalan hidup mereka sendiri.

3. Misi intrinsik harus disertai dengan nilai-nilai yang baik: orang bisa menjalankan misinya bila didasarkan pada nilai kejujuran, tekad yang besar, rendah hati, dan hidup spiritualitas yang baik. Berdoalah pada Allah agar Dia memberi pencerahan agar kita bisa menemukan misi dan perutusan di dunia. Tekunlah mencari sampai kita merasa bahagia atas apa yang kita lakukan, serta menemukan makna dalam pekerjaan.

4. Pekerjaan dan career Vs “panggilan pribadi” : pekerjaan dan career yang sekarang ditekuni belum tentu sama dengan panggilan kita. Pekerjaan dan career lebih bertujuan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi, mencari uang, dan bertujuan sesaat hidup di dunia. Bisa jadi pekerjaan kita ini sebenarnya bukan panggilan kita, tapi kita tetap menekuni karena kita membutuhkannya untuk kehidupan. Atau, bisa juga pekerjaan kita itu adalah panggilan kita, dan kita bahagia menjalaninya.

5. Ada tiga pertanyaan untuk misi hidup: What we love to do from deepest or our heart? What are we great at? What is the world need? Pertanyaan ini membantu kita menemukan misi hidup di dunia. Temukanlah dan doakanlah dalam keheningan pada Tuhan, dan mintalah agar Tuhan Jesus juga memanggil kita seperti dia dahulu memanggil para rasul untuk misi yang besar.

God, help me to find my mission in the world, and let me be free to follow it!

Translate »