Browsed by
Month: January 2015

TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB KITA SEBAGAI ANAK ALLAH IALAH MEMBERI KESAKSIAN TENTANG KASIH SETIA ALLAH

TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB KITA SEBAGAI ANAK ALLAH IALAH MEMBERI KESAKSIAN TENTANG KASIH SETIA ALLAH

9 January, 2015
1 Yohanes 5:5-13
Lukas 5:12-16
 
“TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB KITA SEBAGAI ANAK ALLAH IALAH MEMBERI KESAKSIAN TENTANG KASIH SETIA ALLAH”
 
Saudara-saudariku terkasih
    Masa Natal sebentar lagi akan berakhir, namun secara istimewa bacaan-bacaan hari ini kembali mengingatkan kita akan “panggilan kita masing-masing sebagai putera dan puteri  Allah” dengan tugas dan tanggungjawab yang sama dari para malaikat ketika  menyampaikan kabar sukacita tentang “kasih Allah kepada dunia”, ketika mereka memberitakan tentang kelahiran Yesus kepada para gembala. Dengan demikian, sudah akan dapat lebih menyadari bahwa kita semua diberi tugas dan tanggungjawab memberi kesaksian tentang “kasih Allah yang tak terbatas” itu (unconditional love) kepada dunia dan bahkan kasih dan kebaikan Allah yang dialami secara priadi. Itulah Sang Sabda yang telah menjadi daging dan tinggal di antara kita.
Saudara-saudari terkasih,
Yesus sendiri, dengan kehadiranNya kedalam dunia telah menyatakan kehendak Allah yang secara khusus seperti yang kita lihat dalam bacaan Injil hari ini melalui suatu pengalaman istimewa dari seorang yang menderita sakit kusta; ia hidup dalam dunia yang  boleh dibilang sudah “mati”. Mati dalam komunikasinya dengan keluarga, mati dalam komunikasinya dengan komunitas. Tetapi Yesus sendiri dengan sangat tegas dan jelas mengklarifikasi keadaan itu ketika Yesus memenuhi keinginan orang yang sakit kusta itu untuk “sembuh”. Yesus benar-benar telah memenuhi keinginan kita juga untuk menjadi bersih dan sembuh dari setiap sakit penyakit dalam diri kita yang sangat mungkin bisa menghambat dan mengganggu kehidupan ini dalam menjawab panggilan kita untuk hidup dalam kasihNya.
Dalam bacaan pertama, Santu Yohanes mengingatkan kita bahwa dengan iman/kepercayaan dan penyerahan yang total kepada kepada Yesus Anak Allah, kita pun akan ikut ambil bagian dalam proses penyelamatan. Karena kita memiliki kasih dan kehidupan dalam Kristus; kehidupan baru yang kita terima dari Yesus tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi juga untuk orang yang kita jumpai dalam kehidupan ini, untuk mereka yang sungguh-sungguh ingin mengalami kehidupan dan kasih karunia Allah.
Saudara-saudariku terkasih,
Apabila anda mendapat kesempatan hari ini menerima komuni kudus dalam perayaan ekaristi, atau yang mau mengawali hari ini dengan renungannya hal ini akan menjadi sangat berarti kalau kita mau hening sejenak, merefleksi lalu coba mendoakan seseorang yang sangat khusus dan yang anda ingat saat ini, atau membuat suatu intensi menghadirkan kasih Allah kepada orang tersebut melalui kata-kata peneguhan, melalu tindakan-tindakan nyata bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan kasih Allah. Dengan kata lain anda akan menjadi perpanjangan tangan Tuhan, penyambung lidah Allah bagi orang tersebut agar iapun boleh mengalami dan merasakan sentuhan tangan dan kasih Allah. Sangat mungkin ada orang disekitarmu yang ingin mendengar tentang Yesus…yang ingin tahu tentang Tuhan, yang penasaran tentang hidup kekristenan itu…yang ingin tahu tentang kehidupan kekal.

Mari kita satukan intensi kita diatas dengan rencana penyelamatan Allah agar semua orang pun boleh mengalamai dan mendapat kesempatan yang sama mengenal dan menerima kabar gembira yang telah Tuhan berikan kepada umat manusia oleh kehadiran Yesus ke dalam dunia ini. Mewartakan kabar sukacita kepada semua orang yang mau menerima dan mengalami kasih setia Allah seperti yang pernah dialami oleh orang yang sakit kusta dalam bacaan injil hari ini, yang kembali mengalami suatu kehidupan baru, dalam suatu komunikasi lagi dengan Tuhan, dalam komunikasinya lagi dengan keluarga dan sesama. Amin.

Do you see what I see?

Do you see what I see?

HARI KAMIS, MASA NATAL
8 January, 2015
 
1 Yohanes 4:19-5:4
Lukas 4:14-22
Para murid Yesus menginginkan agar semua orang bisa mengenal Yesus seperti yang mereka pernah alami hidup bersama Yesus.
    Melihat judul diatas, saya juga mau mengajak saudara-saudari sekalian untuk buka Youtube “Do you see what I see? Do you hear what I hear? Do you know what I know? Listen to what I say.” (Christmas Carol, yang ditulis pada tahun 1962 dan dipopulerkan oleh BingCrosby dan sejumlah artist lainnya. Saya yakin seratus persen bahwa saudara-saudariku sudah puluhan bahkan ratusan kali mendengar lagu ini. Kata-kata lagu ini mengingatkan saya akan bacaan injil hari ini. Suatu peristiwa yang mengejutkan bahwa “Yesus ditolak di Nazaret”, ketika Ia kembali ke Galilea. Ketika Ia masuk ke rumah ibadat/synagogue di Nazareth, tempat Ia dibesarkan, dan ketika mereka melihat, mendengarkan pengajaranNya, membuat orang Nazareth penasaran dan bertanya-tanya tentang siapakah Dia?
    Bagi orang Yahudi yang baik dan saleh, salah satu impian mereka yang sangat mendasar bahwa Allah akan mengutus Messias, Sang Juru Selamat ke dalam dunia. Nabi Yesaya, yang kutipannya Yesus baca pada kesempatan itu dengan tegas mengatakan kepada umat Alah bahwa Allah telah mengutus Messias, Sang Juruselamat itu. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan ini: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Lukas 4:18-19) Impian dan harapan ini berdasarkan pada janji Allah kepada Daud bahwa apa yang telah dinubuatkan oleh para nabi, tentang kerajaanNya tak akan berakhir. Lagi pula, para nabipun telah bernubuat bahwa hal ini akan segera terpenuhi.
Jadi saudara-saudari sekalian,
    Ketika Yesus membacakan kitab nabi Yesaya itu, ia telah memproklamirkan pemenuhan kata-kata yang telah mereka dengar. Tanda kekaguman yang dirasakan oleh orang banyak di dalam synagogue itu ketika mereka melihat Yesus, mendengar kata-kata hikmahnya yang penuh kuasa bahwa dari seorang pengajar muda, anak seorang tukang kayu, sungguh-sungguh seorang yang telah lama mereka nantikan, dialah Messiah. Betapa bahagianya mereka yang hadir pada hari itu; Kalau mereka bisa menyadari benar-benar bahwa yang berbicara kepada mereka pada hari itu adalah Yesus, Anak Allah, Messiah, Sang Juruselamat; Kitapun sudah bisa membayangkan betapa mereka dengan penuh kekaguman pada saat itu saling meyakinkan satu sama lain dengan mengatakan: “Do you hear what I hear? Do you see what I see? Could ths really be the messiah?”
Saudara-saudariku terkasih,

Pada zaman modern ini pengalaman orang-orang Nazareth diatas dapat  membangkitkan enthusiasme kita juga kalau kita pernah mendapat kesempatan melihat, mengalami, mendengar dan merasakan kehadiran Yesus dalam diri kita, melalui setiap derap langkah kehidupan ini yang membuat kita sadar akan kehadiranNya, cintaNya, pegangan tanganNya, rangkulanNya, bisikan suaraNya di telinga kita, yang begitu dahsyat, lembut dan yang membuat kita tidak tahan dan harus sharing/bagikan kepada orang lain, atau wartakan kepada orang lain…di keluarga kita, di komunitas kita, di tempat pekerjaan kita tentang pengalaman iman ini. “Do you hear what I hear? Do you see what I see? Do you know what I know? Listen to what I say.” Amin.

Membangun relasi denganNya

Membangun relasi denganNya

 
7 January, 2015
 
1 Yohanes 4:11-18
Markus 6:45-52
Percaya kepada Yesus, berarti secara pribadi kita membangun relasi denganNya, dan dijamin bahwa kita akan mampu menghadapi setiap tantangan/kesultan dalam kehidupan ini.

Saudara-saudari terkasih,

    Statement diatas pernah ditegaskan oleh Yesus sendiri dalam pernyataannya: “Take courage, it is I, do not be afraid,” (“Tenanglah! Aku ini, jangan takut,” Markus 6:50). Tidak berarti bahwa kita tidak memiliki rasa percaya diri menghadapi setiap tantangan dan persoalan kehidupan ini. Sangat boleh jadi kesannya demikian, tetapi pada hakekatnya Yesus sendirilah yang memberikan peneguhan dan keyakinan serta kekuatan itu.  Sering kali kita berusaha untuk memiliki rasa percaya diri yang kuat dan bahkan mau meningkatkan rasa percaya diri itu agar bisa memiliki kemampuan untuk mengatasi dan mengontrol keadaan atau menyerah kepada keadaan. Tetapi tidak demikian dengan Yesus, Ia menegaskan kita  dengan caranya sendiri.

    Pada bagian terakhir dari bacaan Inji hari ini, Santu Markus memberi suatu catatan yang membuat semua orang penasaran ketika Yesus berjalan diatas air yang membuat semua murid keheranan. Ia mengatakan: bahwa mereka belum juga mengerti sesudah peristiwa perbanyakan roti itu, hati mereka tetap degil. Pada bagian terakhir ini juga kita akan bisa lebih mengerti apa yang dimaksudkan dengan “Iman”. Di lubuk hati yang paling dalam para murid itu menyimpan pengalaman akan peristiwa perbanyakan lima roti dan dua ikan, tetapi mereka tidak bisa mengerti atau memahaminya. Oleh karena itu ketika mereka menyaksikan lagi peristiwa yang satu ini, mereka menjadi sangat takut.
Lalu apa tanggapan Yesus atas ketidak percayaan para muridNya itu? Dengan tegas Yesus mengatakan: “Jangan takut!” Mengapa Yesus mengatakan “Jangan takut?” Karena Yesus mau menegaskan bahwa “Inilah Aku!” Statement yang Yesus berikan “Ini Aku” menjadi suatu penegasan atas KeilahianNya yang membuat kita tidak perlu ragu-ragu lagi akan kebenaran itu.
Selanjutnya saudara-saudari terkasih,
    Dalam bacaan pertama, rasul Yohanes membantu kita untuk lebih mendalami mystery ini. Ia mengatakan: “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia.” Inilah iman kita, bahwa kita boleh menjadi saksi akan kasih Allah kepada kita, kasih Allah kepada dunia. Pada bagian terakhir dari bacaan pertama hari inipun dengan sangat jelas dikatakan bahwa “kasih Allah begitu sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian, percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia  ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;” (Yohanes 4:17-18)
    Kasih Allah yang telah dicurahkan kepada kita dan itu hanya dapat kita peroleh kalau kita benar-benar percaya kepadaNya, yang disatu pihak merupakan suatu rahmat/berkat tetapi sekaligus merupakan tantangan bagi kita pada pihak yang lain. Karena tantangan dunia ini tak pernah akan lenyap dari hadapan kita. Melainkan, dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup ini, kita harus tetap berpegang teguh kepada Tuhan, dan selalu mau tinggal bersama Tuhan, dalam Tuhan dan dengan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh rasul Yohanes dalam bacaan tadi bahwa, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;” Amin.
 
Translate »