Browsed by
Month: January 2015

TUHAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENEBAR KASIH, TETAPI TUHAN SENDIRI ADALAH KASIH

TUHAN TIDAK HANYA SEKEDAR MENEBAR KASIH, TETAPI TUHAN SENDIRI ADALAH KASIH

SELASA MASA NATAL
6 JANUARY, 2015
1 Yohanes 4:7-10
Markus 6;34-44

 

Saudara-saudari sekalian,
Bacaan pertama kita hari ini memberitakan bahwa Allah Bapa kita tidak hanya sekedar menebar kasih, tetapi pada kenyataannya, Allah sendiri adalah KASIH. Sementara orang yang mendengar pernyataan ini sangat mungkin akan memberikan reaksi yang sangat skeptik, sangsi dan bahkan tidak percaya akan apa yang mereka dengar. Argumentasinya akan selalu berkisar pada kesengsaraan, malapetka, musibah, sakit penyakit  yang melanda manusia di dunia ini, lalu dimanakah Allah Pencipta yang menjadi tuan atas segala sesuatu dapat dibilang sebagai Allah yang penuh Kasih?
Saudara, fakta mengatakan bahwa penderitaan, kecelakaan dan malapetaka yang menimpa dunia ini masuk melalui dosa-dosa kita, manusia sendirilah yang telah mengabaikan kesempurnaan kasih Allah. Inilah hakekat kasih Allah, dan karena kasihNya kita boleh mengenyami pembebasan dari kesalahan dan dosa-dosa kita.
Saudara-saudari terkasih,
Penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini pada hakekatnya akan berlalu, sementara dari segi waktu penderitaan itu adalah sesuatu yang sangat mendasar untuk disimak. Kita tahu bahwa Allah tak pernah akan bersibuta terhadap penderitaan yang kita hadapi, dan Tuhan tetap menganugerahkan kepada kita rahmat dan kekuatan untuk bisa menghadapi dan mengatasinya. Karena kita semua diciptakan untuk mencapai atau menuju kekebahagiaan yang sempurna bersama Allah dalam kehidupan yang kekal. Pemahaman ini akan sangat membantu kita untuk lebih mengerti akan arti “Iman” kita kepada Tuhan dari pada kita hanya mau menuntut kehendak kita sendiri.
Bacaan injil hari inipun menggambarkan semuanya dalam satu gebrakan saja. “Ketika Yesus melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala…Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” (Markus 6:34)
Ketika hari sudah mulai malam, datanglah murid-muridNya kepadaNya, dan mereka minta agar Yesus membubarkan masa yang begitu banyak dan membiarkan mereka pulang ke rumah masing-masing agar mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri, mencari apa saja untuk makan dan urusan lainnya. Tetapi  Yeeus mengetahui bahwa orang banyak ini perlu makan dan Yesus mengambil keputusan bahwa orang banyak ini perlu diberi makan. Kasihan kalau mereka dibubarkan dan dibiarkan begitu saja mereka pergi dalam keadaan lapar. Reaksi para murid atas keputusan Yesus itu sungguh-sungguh dilurar dugaan  mereka – mereka bertanya diantara mereka, bagaimana caranya, bagaimana mungkin kita bisa memberi makan kepada orang sekian banyak? Meskipun demikian, Yesus mengatakan bahwa mereka harus diberi makan dengan apa saja yang kita miliki, yang ada pada kita…dan mukjizatpun terjadi bahwa 5000 orang itu dapat makan dan semuanya menjadi kenyang.

Saudara-saudari sekalian, pada kesempatan seperti ini kita lalu bisa bertanya kepada diri kita masing-masing – Apakah reaksi anda terhadap Kasih Allah ini? Apakah kita juga masih belum percaya bahwa berapapun besar dan beratnya penderitaan dunia ini masih lebih besarlah kasih setia Allah kepada kita. Pernyataan diatas harus dapat menjadi jawaban kita yang mendasar untuk kita pakai sebagai pegangan agar dalam situasi apapun, dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam kedukaan ataupun bahagia, kita kiranya akan selalu dalam sikap percaya dan tetap mengandalkan Tuhan…dan dengan sikap ini kita pun akan dapat membantu mereka yang kurang percaya akan besarnya kasih setia Allah. Amin.

HARI SENIN, MASA NATAL 5 January, 2015

HARI SENIN, MASA NATAL 5 January, 2015

1 Yohanes 3:22-4:6
Matius 4:12-17, 23-25
Ketika kita bingung menghadapi tragedi kehidupan di dunia ini, maka sebaiknya kita tetap fokus pada ketaatan serta kesetiaan kita kepada Tuhan agar kita selalu bisa berada di jalan Tuhan dan dikuatkan olehNya.
Saudara-saudari terkasih, “Selamat Natal dan Tahun Baru”.
Suatu kenyataan yang tidak bisa kita hindari dalam hidup ini dan yang sangat menantang serta menghambat lancarnya perjalanan hidup kita ialah “kebingungan”. “Apakah saya telah membuat suatu keputusan yang baik dan tepat?” “Apakah saya telah mengambil sikap yang benar, sementara kebanyakan orang tidak setuju dengan sikap yang saya ambil?” “Apakah masalah kehidupan yang sekarang saya hadapi itu penting bagi masa depanku?” “Apakah Tuhan masih mencintai dan memperhatikan saya?” Pertanyaan-pertanyaan diatas yang mengawali perjalanan kita di tahun yang baru ini dan terutama dengan peristiwa yang sangat menyedihkan yang melanda sesama saudara-saudarii kita di Indonesia dengan meninggalnya sekian banyak orang dari kecelakaan pesawat AirAsia, mengajak kita semua untuk berhenti sejenak dan bertanya…Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan musibah ini terjadi? Menghadapi kenyataan hidup seperti ini sangat mungkin membuat iman kita menjadi goncang, bingung menjawab seribu satu macam pertanyaan, yang membuat kita semua speechless, bengong dan bengong.
Hari ini dalam bacaan pertama St. Yohanes mengatakan: “Barangsiapa menuruti segalah perintahNya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia”. Dan perintahNya ialah “supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus AnakNya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.” Sudah sangat pasti tidak seperti yang dunia ajarkan, tetapi seperti yang Tuhan ajarkan.
Sehubungan dengan itu dalam bacaan injil hari inipun Yesus diberitahu bahwa Yohanes sepupunya itu telah ditangkap…karena sangat vocal, berani berbicara tentang kebenaran dalam hubungan dengan sikap Herodes yang menikahi isteri saudaranya. Apalagi setelah itu masih banyak lagi pernyataan-pernyataan Yesus yang sangat radikal.
Saudara-saudariku terkasih
Yesus adalah Anak Allah, dan sebagai seorang anak yang baik ia taat kepada bapaNya. Ia pergi ke Kaparnaum, sehubungan dengan apa yang ia ajarkan dan yang membuat orang percaya. Berita itu tidak membuat Yesus bingung dan gelisah ataupun takut. Karena ketika Yesus mengajar, bukan saja tentang cinta Tuhan kepada kita tetapi pengajaran dan pesanNya juga tentang “Pertobatan”, karena Kerajaan Allah telah dekat. Yesus sangat mencintai kita bukan hanya dengan rela mati untuk kita, tetapi juga menyingkirkan pengaruh-pengaruh dunia yang mengajarkan kesesatan. Dalam situasi yang membingungkan itu, Yesus terus meyakinkan kita tentang “cinta Tuhan yang tak terbatas”.
Saudara-saudariku terkasih,
Memasuki hari baru ini, bagi anda yang mengawali hari ini dengan perayaan Ekaristi, atau yang hanya membuat doa dan meditasi pada awal hari ini, baiklah kita ingat bahwa Tuhan tetap tinggal dan berjalan bersama kita…dan yang penting bahwa kita mau membuka atau memberi kesempatan Tuhan untuk berjalan bersama kita, menggantungkan segala kekuatan kita kepada Tuhan agar kita mampu menghadapi kebingungan, ketidakpastian, kegelisahan, kecemasan dan membiarkan Tuhanlah yang memberi kita terang dan percaya bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi Terang bagi kita di kegelapan jalan kehidupan ini….konkritnya, bagaimana kita pun bisa membawa terang kepada sesama kita yang lagi bingung dan gelisah, yang bersedih atas musibah yang menimpa mereka. Tentu kita tidak hanya terbatas pada kekaguman atas keterlibatan team sukarelawan dari pelbagaimacam pihak, negara dan dari segala macam aspek kehidupan yang telah mereka berikan keluarga-keluarga dari korban musibah AirAsia itu. Bagi anda dan saya yang tidak sempat memberikan bantuan secara langsung, kita bawakan mereka dalam doa-doa dan perayaan Ekaristi kita…agar mereka diberikan kekuatan, ketabahan dan terang dalam menghadapi kegelapan dunia ini. Amin.

 

Arti Sebuah Nama

Arti Sebuah Nama

Hari Raya Nama Yesus yang Tersuci

Dekorasi altar Gereja Gesu, Roma
Dekorasi altar Gereja Gesu, Roma

1 Yoh 2:29-3:6
Mzm 98
Yoh 1:29-34

Shakespeare dalam karyanya yang terkenal Romeo and Juliet menulis: “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Itu memang benar. Tetapi kita sadar bahwa bagi kita manusia, sebuah nama tetaplah penting. Sepasang suami istri yang akan meempunyai seorang anak pasti menghabiskan banyak waktu untuk mencari nama yang tepat bagi sang anak. Bahkan ada yang percaya bahwa nama seseorang bisa mempengaruhi masa depannya.

Jelas bahwa apapun panggilan kita untukNya, Yesus akan tetap adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia dan menyelamatkan kita dari dosa dengan wafat dan kebangkitanNya dan sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang lagi pada akhir zaman. Dan karena Ia menjadi manusia Ia pun juga mempunyai nama seperti kita. Tapi nama Yesus mempunyai kuasa yang luar biasa. Orang yang percaya pada namaNya akan diberi kuasa menjadi anak Allah (Yoh 1:12), dengan namaNya para murid bisa bernubuat, mengusir setan dan melakukan mujizat (Mat 7:22), melalui namaNya dosa-dosa diampuni (1 Yoh 2:12), Tuhan akan mengabulkan segala permintaan atas namaNya (Yoh 14:13), dan nama Yesus adalah nama di atas segala nama (Filipi 2:9).

Adalah Santo Bernardus dari Siena, seorang Fransiskan, yang paling berjasa mempopulerkan devosi pada Nama Yesus yang Tersuci. Dalam kotbahnya, dia seringkali membawa papan bertuliskan IHS untuk melambangkan nama Yesus. IHS sendiri adalah tulisan Latin dari tiga huruf pertama nama Yesus dalam bahasa Yunani. Tapi kemudian sering juga diartikan sebagai singkatan bahasa Latin Iesus Homini Salvator (Yesus Penyelamat Manusia).

LITANI NAMA YESUS YANG TERSUCI 

Tuhan, kasihanilah kami.
     Tuhan, kasihanilah kami.

Kristus, kasihanilah kami.
     Kristus, kasihanilah kami.

Tuhan, kasihanilah kami; Kristus, dengarkanlah kami.
     Kristus, kabulkanlah doa kami.    

Allah Bapa di surga,
     * kasihanilah kami.

Allah Putera Penebus Dunia, *
Allah Roh Kudus, *
Allah Tritunggal Kudus, Tuhan Yang Maha Esa, *
Yesus, Hamba Allah, *
Yesus, Anak Daud, *
Yesus, Anak Manusia, *
Yesus, Anak Allah, *
Yesus, Nabi Agung, *
Yesus, Gembala yang baik, *
Yesus, Roti Hidup, *
Yesus, Terang Dunia, *
Yesus, Pokok Anggur, *
Yesus, Jalan, Kebenaran, dan Hidup, *
Yesus, Kebangkitan dan Hidup, *
Yesus, Hakim yang adil, *
Yesus, Anakdomba Allah, *
Yesus, Pengantara, *
Yesus, Imam Agung, *
Yesus, Anak Terkasih Bapa, *
Yesus, Anak Tunggal Allah, *
Yesus, Yang akan datang kembali, *
Yesus, Kegenapan janji Allah, *
Yesus,Citra Allah, *
Yesus, Putera Sulung, *
Yesus, Sang Sabda, *
Yesus, sungguh Allah sungguh Manusia, *
Yesus, Penyembah Ilahi, *
Yesus, Pintu Keselamatan, *
Yesus, Penyelamat dunia, *
Yesus, Raja Semesta, *
Yesus, Pengantin Gereja, *
Yesus, Rasul Utama, *
Yesus, Sang Terpilih, *
Yesus, Kristus, Sang Terurapi, *
Yesus, Awal dan Akhir, *
Yesus, Kepala Gereja, *
Yesus, Bintang Timur Cemerlang, *
Yesus, Tuhan yang mahakuasa, * 

Berbelas-kasihanlah kiranya,
     sayangilah kami, ya Yesus.

Berbelas-kasihanlah kiranya,
     kabulkanlah doa kami, ya Yesus. 

Dari segala kejahatan,
     ** bebaskanlah kami, ya Tuhan.

Dari segala godaan, **
Dari segala dosa, **
Dari tipu daya setan, **
Dari nafsu percabulan, **
Dari kematian kekal, **
Dari kelalaian akan nasihat-Mu, ** 

Berkat penjelmaan-Mu,
     *** selamatkanlah kami, ya Tuhan.

Berkat kelahiran-Mu, ***
Berkat masa muda-Mu, ***
Berkat segala karya-Mu, ***
Berkat segala sabda-Mu, ***
Berkat sengsara-Mu, ***
Berkat salib-Mu, ***
Berkat wafat dan pemakaman-Mu, ***
Berkat kebangkitan-Mu, ***
Berkat kenaikan-Mu ke surga, ***
Berkat kemuliaan-Mu, *** 

Anakdomba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia, sayangilah kami.
Anakdomba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia, kabulkanlah doa kami.
Anakdomba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia, kasihanilah kami.

Yesus, dengarkanlah dosa kami.
     Yesus, kabulkanlah doa kami. 

Marilah kita berdoa. (Hening)

Ya Allah, Bapa kami, Putera-Mu, Yesus Kristus telah bersabda: Mintalah maka kamu akan diberi, carilah maka kamu akan mendapat, dan ketuklah maka pintu akan dibukakan. Kami mohon, anugerahilah kami cinta ilahi yang kami dambakan, agar kami mencintai Engkau dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan.

Ya Allah, buatlah kami selalu hormat dan cinta akan nama Yesus yang suci, karena Ia selalu membimbing orang-orang yang telah Kauikat dalam cintakasih-Mu. Engkau takkan melepaskan dari pelukan cinta-Mu orang-orang yang mengakui Engkau dalam nama Putera-Mu. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan sepanjang masa. Amin. 

Menemukan Jati Diri Lewat Persahabatan

Menemukan Jati Diri Lewat Persahabatan

Hari Pesta Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Naziansus

2013014152basil_and_gregory_300

1 Yoh 2:22-28
Mzm 98
Yoh 1:19-28

Sebagai orang Kristen yang hidup di masa di mana doktrin-doktrin Gereja sedang melalui proses pematangan di abad keempat, Basilius dan Gregorius terlibat langsung dalam dinamika Gereja saat itu. Basilius menjadi uskup agung Kaisarea, dan Gregorius uskup agung Konstantinopel, dua posisi yang sangat berpengaruh saat itu. Keduanya pun diberi gelar Pujangga Gereja (Doctor of the Church) karena karya-karya mereka yang memberi sumbangan besar bagi tradisi Gereja.

Tetapi di balik semua itu kita mendapatkan kisah persahabatan antara keduanya, persahabatan yang dimulai sejak mereka sekolah di Athena. Sangat jelas bahwa keduanya saling mengasihi, tetapi persahabatan itu pun tidak selalu mulus. Gregorius pernah kecewa dan mmerasa ditinggalkan ketika Basilus memilih keluar dari sekolah. Ketika Basilius menjadi uskup agung, ada kebijakan-kebijakannya yang ditentang Gregorius. Tapi semangat persahabatan selalu tetap ada di dalam lubuk hati mereka. Ketika Basilius wafat, Gregorius menulis sebuah refleksi yang menceritakan sejarah pershabataan mereka. Baginya, mereka berdua adlah seperti “satu jiwa dalam dua tubuh.”

Persahabatan sejati bukan berarti bebas dari masalah atau perselisihan. Tetapi melalui persahabatan itu kita bisa semakin mengenal jati diri kita. Seorang sahabat yang baik tidak akan ragu berterus terang jika kita berbuat sesuatu yang mereka anggap tidak pantas. Kekecewaan atau perasaan sedih dalam bersahabat kadang justru menguatkan pershabatan itu sendiri karena kita disadarkan betapa kita merindukan sahabat kita.

Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mengerti betul jati dirinya. Dia bukan mesias yang dijanjikan, tetapi hanya sebagai orang yang memmpersiapkan jalan bagi sang juruselamat. Di dalam Yesus, sahabat kita, jati diri kita pun menjadi jelas. Kita adalah anak-anak Allah dan dipanggil untuk bersikap dan bertindak seperti sang Putra kepada BapaNya.

Maria Bunda Allah dan Bunda Kita Semua

Maria Bunda Allah dan Bunda Kita Semua

Patung Bunda Maria di Pertapaan Suster-suster Trappist, Gedono, Jawa Tengah
Patung Bunda Maria di Pertapaan Suster-suster Trappist, Gedono, Jawa Tengah
Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah

Bil 6:22-27
Mzm 67
Gal 4:4-7
Luk 2:16-21

Saya sering merenungkan mengapa devosi pada Bunda Maria begitu populer di Gereja Katolik, khususnya di Indonesia. Setiap keluarga Katolik pasti punya patung atau gambar Maria di rumahnya. Gua-gua Maria bermunculan di nusantara dan umat berbondong-bondong berziarah ke sana. Doa-doa seperti rosario, koronka dan novena pada Maria termasuk yang paling sering didaraskan.

Firasat saya, ada sesuatu yang penting dan mendasar di dalam hubungan kita sebagai anak dan seorang ibu. Dua bacaan di atas berbicara tentang bagaimana kita adalah anak-anak Allah Bapa. Kita jelas percaya itu, tapi bayangan kita tentang Bapa seringkali bersangkutan dengan kemuliaan atau kekuatan atau kuasa. Sebaliknya, image kita tentang Maria adalah seorang ibu yang lembut hati dan siap menghibur kita. Rasanya lebih mudah untuk menumpahkan segala perasaan dan emosi kita di saat kita berdoa meminta perantaraan Maria.

Saya coba membayangkan bagaimana situasi hati dan pikiran Maria dalam beberapa ayat awal dari Injil Lukas yang kita baca beberapa hari terakhir ini. Pertama seorang malaikat datang mengabarkan dia akan mengandung anak Allah, lalu Elisabeth saudaranya memanggilnya “Ibu Tuhanku,” lalu Simeon dan Hanna bernubuat padanya di Bait Allah, dan bacaan hari ini menceritakan bagaimana para gembala memberitahu Maria bahwa para malaikat menyebut Yesus sang juruselamat. Asatu kalimat setelah itu menggambarkan apa yang terjadi dalam batin Maria: “Ia menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya.”

Inilah Maria sang Bunda yang bijaksana. Dia tidak panik, tidak terbawa suasana sampai kebingungan. Dia merenungkannya, mencoba mengerti rencana besar Allah di tengah semua hal yang kelihatannya aneh. Mungkin begitu juga Maria menerima kita dalam dekapannya. Apapun keluh kesah kita, apapun besarnya masalah kita, dia tidak langsung menghakimi atau memberi nasihat atau jalan keluar. Ia hanya merenung dan mengajak kita bersama-sama merenungkan rencana Allah sehingga bersama Maria kita dikuatkan untuk berani menjawab, “Aku ini hambaMu, Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendakMu.”

Translate »