Browsed by
Month: March 2015

Berhak menghakimi melampaui Allah

Berhak menghakimi melampaui Allah

Luke 15:25-30

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Suatu kali saya misa bersama komunitas orang berbahasa Spanyol. Tiba-tiba salah satu petugas Gereja menyuruh seorang ibu membawa keluar anaknya, karena sang anak makan snack di dalam Gereja. “Dia kelaparan, belum saya beri makan sejak pagi!” bela sang ibu yang ingin terus berada di Gereja. Tetap saja sang petugas tak peduli, ia memerintahkan sang ibu keluar sampai anaknya selesai makan. Sang ibu berkomentar, “saya sedih melihat polah dia, galak dan suka memerintah melebihi Tuhan sendiri!”

Henry Nouwen dalam bukunya yang indah, “The Prodigal Son” menggambarkan tabiat anak yang sulung persis seperti petugas Gereja. Lihatlah gambar di atas, lukisan Rembrandt tentang anak yang hilang. Sang anak sulung melihat ayah dan anak bungsu dari jauh. Dia marah dan tak suka kalau ayahnya mengampuni si adik. Kedua tangannya tertutup, tak mau menerima adiknya. Sedangkan tangan ayahnya terbuka memeluk sang anak.

Dia merasa berhak menghakimi sang adik karena merasa selama ini hidupnya baik, taat, dan tinggal bersama ayahnya. Meski tinggal dekat, hatinya tak menyatu dengan sang ayah, katanya, “selama ini engkau tak  pernah menyembelih domba untukku dan teman-temanku!” Dia tak memilihi hati yang berbelas seperti bapanya, tak cinta adiknya yang kembali pulang dan ingin bertobat.

Sering hal serupa terjadi dengan kita. Setelah sekian lama bekerja di Gereja dan menjadi aktivis, entah sebagai imam atau awam, kita merasa punya otoritas yang lebih besar untuk cepat menghakimi dan menilai sesama, bahkan melebihi kuasa Allah sendiri. Janganlah penghakimanmu melebihi kuasa dan belas kasih Allah sendiri!

Membuang saudara sendiri

Membuang saudara sendiri

 

bebaskan-diri-dari-belenggu-keterbatasan-e1322662314818-300x300Genesis 37:11, 24-28

Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita.” Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.

Masih ingatkah akan kasus anak yang mempidanakan ibu sendiri di Jawa Timur? Nenek Artija, warga Kelurahan Wirolegi, Sumbersari, Jember, Jawa Timur. Di usianya 70 tahun, ia harus berurusan dengan polisi, setelah dilaporkan anak kandungnya Manisah. Ia hanya bisa menangis tak percaya, anak yang dilahirkan dan dibesarkannya berpuluh-puluh tahun, tega melaporkannya ke polisi. Bahkan menuduhnya telah mencuri empat batang pohon bayur, yang dia tanam sendiri (sumber: Indosiar Maret 2013).

Masih banyak cerita serupa, perkelahian antar saudara dan pecahnya keluarga karena iri hati, cemburu, berebut warisan dan harta kekayaan. Salah satu kisahnya ada dalam kitab Kejadian. Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya karena mereka merasa cemburu bahwa ayah mereka lebih mengasihi Yusuf dari pada anak yang lain. Mereka ingin membuat sang anak tersayang, agar perhatian sang ayah juga terbagi untuk orang lain.

Ketika hubungan darah tidak lagi bisa mengikat persaudaraan karena orang lebih mementingkan hal lain, maka putuslah relasi kekeluargaan itu. Orang California akan berkata, “This is the family I have because of blood, but this is the better family that  I choose.” Orang meninggalkan keluarganya dan tak pernah kembali  ke rumah, karena dia menemukan keluarga baru yang baginya lebih kuat dari ikatan darah.

Semoga kita masih memiliki ikatan yang kuat dengan saudara sendiri meski sering menjengkelkan dan  tak lebih baik dari teman. Walaupun mereka kadang hanya ingat kita di saat kesulitan, dan lupa kala hidup dalam kesenangan; janganlah kau putuskan tali ikatan darah persaudaraan. Namun kalau sungguh amat menyakitkan…..?

 

Kekuatan dosa

Kekuatan dosa

lent-2

Luke 16:19-23

Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.  Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,  dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.  Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk dipangkuannya.

Bacaan diatas mengajak kita melihat misteri dosa. Kita bisa memakai kata “misteri” karena dosa adalah realitas teologis/keagamaan yang kadang tidak sepenuhnya kita ketahui. Di satu sisi dosa terjadi ketika kita dengan kehendak bebas tanpa paksaan memilih untuk mengikuti apa yang jahat, melanggar perintah Allah, dan hal itu dilakukan dengan penuh kesadaran.

Di sisi lain, dosa adalah misteri karena kekuatan dosa itu bekerja di dalam hidup kita dan lewat tubuh serta pikiran kita, dan sering kali tak sepenuhnya dalam kendali kita. kekuatan dosa yang demikian berhubungan dengan keinginan manusiawi dan nafsu-nafsu jasmani yang secara alamiah semua orang memilikinya.

Nafsu jasmaniah itu dimulai dari kehendak dan pikiran kita, lalu membawa pada tindakan kongkrit. Bentuknya bisa macam-macam: kesombongan, iri hati, nafsu badani, kemarahan, tamak, rakus, dan rasa bangga yang berlebihan. Paulus membahasakan semua nafsu itu sebagai musuh yang ada di balik pintu, menggangu pikiran kita dan sering kita melakukan dosa padahal kita tak ingin melakukannya.

Masa prapaskah ini mengajak kita untuk lebih rajin berdoa, meminta rahmat Allah agar kita bisa menguasai dan mengontrol kekuatan dosa yang bergerak dan menjalar dalam tubuh kita, sehingga kita tak dikuasai olehnya. Jangan sampai kita terlambat seperti kisah Kitab Suci hari ini, terlalu lama berfoya-foya sampai kekuatan dosa menguasai hidupnya sepenuhnya. Akhirnya dia hanya menyesali diri seusai mati.

Impian orang tua

Impian orang tua

Matthew 20:20-22

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta.

Ibu ini tak pernah terlihat lagi di Gereja semenjak anaknya meninggal bunuh diri di Universitas California. Dia datang pada saya, menangis sampai kehabisan air mata. Sesenggukan. Kadang terisak tak ada suara. Saya hanya terdiam, menunggu dia meneruskan cerita sembari memberi sekotak tisu padanya.

Anak satu-satunya yang dia kasihi menjatuhkan diri dari lantai 8 gedung universitas di tengah-tengah ujian semester. Dulu dia begitu bangga punya anak bisa sekolah di tempat impian impian mahasiswa ingin berada. Namun dia tak menyadari kalau persaingan yang ketat membuat sang anak patah arang, tersiksa, dan tak tahan hidup dalam kompetisi setiap hari.

Ibu Yohanes dan Yakobus mengharapkan hal yang sama dari Yesus. Sebagai orang tua, dia meminta kedua anaknya kelak akan mendapat jabatan tinggi, punya status, dan dihormati banyak orang. Tentu orang tua akan ikut mendapat harum nama anaknya.

Namun sering orang tua tak menyadari bahwa mereka telah meletakkan beban yang berat di pundak anak-anaknya. Harapan yang tinggi, bila jatuh akan terasa menyakitkan. Para murid yang lain marah mendengar permintaan ibu kedua teman mereka. Bisa jadi mereka iri, karena sebenarnya mereka juga ingin apa yang diidamkan ibu Yohanes. Namun mereka tak berani mengatakan isi hati mereka.

Yesus mengajak mereka semua untuk memahami bahwa orang disanjung dan dihormati bukan pertama-tama karena jawabannya yang tinggi, dan berkedudukan. Seseorang dihormati karena kerelaan untuk melayani dan mengabdi dengan tulus iklas.

Berbahagialah anda yang rela menjadi pekerja Gereja, voluntir paroki, dan menjadi pengabdi sesama karena iklas untuk memberi diri. Upah kita besar di Surga.

Translate »