Browsed by
Month: June 2015

Doa Tulus dan Sedekah Ikhlas

Doa Tulus dan Sedekah Ikhlas

Tobit 12:1, 5-15, 20
Tobit 13:2, 6-8
Markus 12:38-44

Inilah klimaks dari kisah Tobit. Setelah semua keadaan keluarga Tobit dipulihkan, Tobiah ingin memberikan setengah dari harta yang dibawanya kepada Azariah yang sudah menemani perjalanannya selama ini. Tapi Azariah membuka rahasianya: ia adalah malaikat Rafael yang dikirim Tuhan untuk membantu Tobit dan keluarganya. Rafael menceritakan bagaimana ia diutus Tuhan setelah Tuhan mendengar doa Tobit dan Sara. Tuhan pun melihat segala hal baik yang dilakukan Tobit. Rafael memberikan pesan utama dari kisah ini:
“Lebih baik berdoa dengan hati yang tulus dan memberi sedekah dengan ikhlas daripada memiliki harta dengan cara yang tidak adil.”

Demikian pula Yesus dalam Injil hari ini memperingatkan kita untuk berdoa dengan tulus dan memberi sedekah dari semua miliknya yang tidak seberapa, tidak semata-mata kelebihan uangnya saja.

Kisah hidup Tobit dan kata-kata Yesus hari ini membawa pesan bagi kita. Orang yang hidup benar tidak selalu mudah jalan hidupnya. Tetapi Tuhan selalu menyertai kita, kadang dengan memberikan orang lain untuk mendampingi dan membantu kita seperti seorang malaikat. Pada akhirnya, kita akan dipulihkan kembali dari segala masalah kita. Sulit bagi kita untuk melihat ini semua di tengah-tengah kita menghadapi masalah. Seperti Tobit, biasanya setelah kita melalui masa-masa gelap kita, barulah kita bisa melihat ke belakang dan menyadari bagaimana pertolongan Tuhan selalau ada bersama kita.

Anak

Anak

Peringatan Santo Bonifasius, Martir, Santo Pelindung Jerman

Tobit 11:5-17
Mazmur 146
Markus 12:35-37

St. Boniface Felling Donar's Oak by Johann Michael Wittmer
St. Boniface Felling Donar’s Oak by Johann Michael Wittmer

Salah satu nilai yang paling dijunjung tinggi dalam budaya kita adalah bakti anak pada orangtuanya. Seorang anak yang sudah diasuh dari kecil, ketika sudah dewasa diharapkan bisa membalas budi dengan menjaga dan merawat orangtuanya supaya hidup mereka di hari tua berkecukupan dan tidak menderita. Cerita-cerita rakyat berbagai budaya di Indonesia seringkali mengisahkan anak yang durhaka, yang tidak tahu membalas budi orang tuanya (misalnya Malin Kundang, Sangkuriang, dsb.) untuk menanamkan rasa bakti anak-anak pendengar cerita itu kepada orang tuanya. Uniknya, ketika saya cari di Kamus Indonesia-Inggris, kata “durhaka” diterjemahkan menjadi “rebellious” atau “insubordinate”, dua kata yang tidak langsung mengingatkan kita pada hubungan anak dan orangtua. Bisa jadi ini mencerminkan bahwa bakti pada orangtua di dunia Barat tidak mendapat posisi setinggi dalam budaya Timur.

Tobiah adalah contoh anak yang ideal. Ia pergi berkelana demi membantu orangtuanya: menagih utang, mendapatkan istri untuk meneruskan garis keturunan, dan mencarikan obat untuk menyembuhkan ayahnya, Tobit, yang buta. Bukan main bergembiranya Tobit dan Edna ketika Tobiah pulang dengan sukses. Mereka memuji Tuhan di depan semua orang.

Dalam bacaan Injil, Yesus menyinggung tentang sebutan Anak Daud. Istilah ini digunakan bangsa Yahudi saat itu untuk menyebut sang Mesias yang dijanjikan oleh para nabi akan menyelamatkan mereka. Dalam nubuatnya, sang Mesias adalah keturunan dari Raja Daud, karena itu ia disebut Anak Daud. Secara tidak langsung, gambaran mereka tentang Mesias yang akan datang adalah seorang raja seperti Daud yang akan memerintah Israel yang baru.

Tetapi yang terjadi sama sekali di luar dugaan. Yesus, sang Mesias sejati, tidaklah datang sebagai raja. Ia datang dari keluarga sederhana yang tinggal di rumah sederhana di Nazareth, bukan istana di ibukota Yerusalem. Lebih dari itu, Ia mati di kayu salib, sebuah hukuman yang paling hina di jaman itu. Mereka tidak bisa mengerti bahwa Yesus sebetulnya adalah Anak Allah, dan sebagai Anak yang berbakti, Dia patuh pada dan menjalankan perintah BapaNya.

Dengan kuasa pembaptisan, kita pun diangkat menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita berlaku seperti anak Allah dan berbakti pada Dia? Atau apakah kita lebih sering bersikap durhaka terhadap Dia yang sudah mengasihi kita dan memberi kita kehidupan?

Shema

Shema

Tobit 6:10-11; 7:1,9-17; 8:4-9
Mazmur 128
Markus 12:28-34

http://www.youtube.com/watch?v=wxO09BUrkMk

Doa Shema (bahasa Ibrani yang artinya “dengarlah”) adalah doa paling penting dalam agama Yahudi. Mereka mengucapkan doa ini paling tidak dua kali sehari, di pagi dan di malam hari. Kata-kata pertama doa ini diambil dari Kitab Ulangan 6:4-9. Kata-kata inilah yang dikutip Yesus ketika Ia ditanya tentang hukum apa yang paling utama:
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Kata pertama doa ini, “Dengarlah,” adalah panggilan pada kita untuk mengingat kembali kebesaran Allah. Ia berkuasa atas segala hal dan pantas kita kasihi dengan segala yang kita miliki. Dia adalah satu-satunya, tidak ada yang bisa menandingi Dia. Jika hal ini benar-benar kita hayati setiap hari, maka hidup kita pun mau tidak mau harus sesuai dengannya.

Sebagai orang Israel sejati, Raguel dan istrinya, Edna, pasti juga mendoakan Shema setiap hari. Tetapi ketika Tobiah datang dan meminang Sarah, anak mereka, mereka pun dilanda kekuatiran. Sarah sudah tujuh kali menikah, tapi semua suaminya meninggal sebelum mereka sempat berhubungan intim. Ini semua gara-gara setan Asmodeus ingin memiliki Sarah baginya sendiri. Tetapi kekuatiran itu tidak cukup kuat untuk menyebabkan mereka tidak percaya pada kebesaran Allah. Mereka membiarkan Tobiah kawin dengan Sarah. Pada akhirnya Tobiah dibantu dengan malaikat Rafael bisa menyingkirkan Asmodeus, dan bisa menjadi suami istri yang selayaknya dengan Sarah.

Hal-hal apakah dalam hidup anda yang mencegah anda untuk menjadi manusia yang penuh? Kapankah anda merasa ragu bahwa kuasa Allah mampu mengalahkan segalanya? Pada saat-saat itu ingatlah, bahwa Allah seorang diri adalah Maha Kuasa. Mengasihi Allah berarti percaya bahwa Ia pertama-tama mengasihi kita dan senantiasa membantu kita.

Allah Orang Hidup

Allah Orang Hidup

Hari Raya Pesta Santo Karolus Lwanga dan Para Martir Uganda

2a-Photo-of-Martyrs

Tobit 3:1-11A; 16-17A
Mazmur 25
Markus 12:18-27

Pernahkah anda mengalami sebuah keadaan yang sangat menyakiti hati anda, entah karena kejadian yang menimpa anda sendiri atau orang lain yang sangat anda kasihi? Bagaimana anda berdoa di saat seperti itu? Apakah doa yang disertai tangisan atau malahan tidak ada kata yang keluar selain isak tangis? Mungkin anda juga ragu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan dan akan memulihkan keadaan?

Dalam Kitab Tobit hari ini dikisahkan tentang dua orang yang sudah hampir putus asa dan hanya bisa berdoa pada Tuhan. Tobit menjadi buta dan dimarahi oleh istrinya sendiri. Sara, sepupu jauh Tobit yang hidup di kota lain, sudah kawin tujuh kali tetapi setiap akan berhubungan intim untuk pertama kalinya, nyawa sang suami dicabut oleh setan bernama Asmodeus. Terlebih lagi, seorang pelayan wanitanya terus menghina dia karena nasib buruknya itu. Saking putus asanya, Tobit dan Sara berdoa bahwa lebih baik mereka mati daripada hidup menderita seperti itu.

Doa seperti itu, atau lebih dikenal dengan ratapan di dalam Alkitab, yang seringkali sampai diiringi tangisan karena ketidakberdayaan kita, merupakan doa yang sangat kuat. Paus Fransiskus dalam suatu homili saat Prapaskah mengatakan bahwa air mata adalah sebuah anugerah karena dengan tangisan doa kita dan perjalanan pertobatan kita menjadi lebih otentik dan tidak berpura-pura atau hipokrit. Dan Tuhan pun sungguh mendengarkan doa itu, seperti Dia mendengar doa Tobit dan Sara dan mengirimkan malaikat Rafael untuk memulihkan mereka.

Tobit dan Sara berdoa supaya lebih baik mereka mati saja. Tetapi Tuhan mempunyai rencana yang lain. Ia memberi mereka hidup, hidup yang berkelimpahan. Sarah akhirnya menikah dengan anak Tobit, Tobiah, dan ia tidak mati seperti suami-suami sebelumnya. Tobit bisa mempunyai keturunan melalui perkawinan anaknya, dan hidup sejahtera dan berumur panjang.

Bahkan kematian badan sendiri tidak berkuasa atas kita lagi. Santo Karolus Lwanga pasti juga meratap ketika dijatuhi hukuman mati oleh raja Uganda karena iman Katoliknya. Doanya pasti didengar Tuhan. Ketika dibakar hidup-hidup, ia mengatakan pada algojonya bahwa api yang membakar tubuhnya itu terasa seperti air saja.

Kematian, baik secara jasmani atau ragawi (putus asa, patah semangat, dsb.) bukanlah kata yang terakhir atau sesuatu yang diinginkan Tuhan. Seperti dikatakan dalam Injil Markus hari ini, Ia adalah Allah orang hidup, bukan orang mati. Di dalam pengalaman hidup kita, pasti kita mengalami hal-hal yang sangat menyakitkan atau membuat kita putus asa, membuat kita seperti ingin mati saja. Di antara kehidupan dan kematian, antara berkat dan kutuk, pilihlah kehidupan dengan mengasihi Tuhan, Allahmu (Ulangan 30:19).

Translate ยป